Konten dari Pengguna

Asian Games 2026: Emas Turun, tapi Apakah Prestasi Ikut Menurun?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Christoffer Borg Mattisson from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Christoffer Borg Mattisson from Pixabay

Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya resmi ditutup pada 4 Oktober lalu dengan Indonesia berada di peringkat ke-16 klasemen medali. Lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu mengantar kontingen Merah Putih ke total 39 medali, angka yang melampaui target minimal pemerintah. Namun, posisi yang turun dari peringkat ke-13 di Hangzhou membuat publik bertanya, apakah hasil ini layak disyukuri atau justru perlu disesali?

Pertanyaan itu wajar, tetapi jawabannya tidak sesederhana membandingkan satu angka. Menpora Erick Thohir sempat mengakui di tengah gelaran bahwa hasil awal belum memenuhi target yang disepakati bersama federasi. Kontingen Indonesia kemudian menutup turnamen dengan emas lebih banyak dari batas minimal tersebut, sehingga ceritanya jauh lebih berlapis dari sekadar naik atau turun peringkat.

Emas Turun, Medali Total Justru Naik di Asian Games 2026.

Di Hangzhou 2022, Indonesia membawa pulang tujuh emas, 11 perak, dan 18 perunggu dengan total 36 medali. Di Aichi-Nagoya, emas berkurang dua keping, tetapi perunggu bertambah lima sehingga total medali naik menjadi 39. Perolehan perak bertahan di angka yang sama, yaitu 11.

Selisih itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak sedang mundur secara menyeluruh. Klasemen medali memang diurutkan berdasarkan jumlah emas, sehingga dua emas yang hilang langsung terasa dalam peringkat. Di sisi lain, Indonesia tetap tercatat sebagai negara ketiga terbaik di kawasan ASEAN pada ajang ini.

Jalan Terjal Menuju Emas Pertama di Asian Games 2026.

Hingga 23 September, Indonesia belum memiliki satu pun emas dan masih berada di papan bawah klasemen. Belasan medali yang terkumpul saat itu nyaris semuanya berwarna perunggu. Tekanan pun terasa, apalagi target sudah diumumkan sejak jauh hari.

Titik baliknya datang dari tim beregu putra bulu tangkis yang mengalahkan China dengan skor 3-2. Beberapa hari kemudian, lifter Rahmat Erwin Abdullah memecahkan rekor dunia kelas 75 kilogram dengan total angkatan 366 kilogram. Nurisa Dian Ashrifah turut menghadirkan emas pertama Indonesia dari panahan sepanjang sejarah Asian Games.

Bonus Rp3 Miliar dan Beban Ekspektasi pada Asian Games 2026.

Presiden Prabowo Subianto menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi peraih emas, tiga kali lipat bonus emas SEA Games yang sebesar Rp1 miliar. Menpora menjelaskan bahwa kenaikan ini mempertimbangkan masa produktif atlet yang pendek, sebab banyak atlet sudah berhenti pada usia sekitar 30 tahun. Pemerintah juga menyiapkan pendampingan literasi finansial agar bonus dikelola dengan bijak.

Insentif sebesar itu masuk akal, tetapi bonus bekerja setelah prestasi lahir, bukan sebelumnya. Prestasi dibentuk lewat pelatnas, kompetisi rutin, dan sistem pembinaan yang berjalan bertahun-tahun. Kemenpora sendiri menyebut pelatnas berkelanjutan dengan persiapan jangka pendek, menengah, dan panjang sebagai fondasi.

Ukuran Prestasi Asian Games 2026 Tidak Berhenti di Emas.

Ada capaian yang sulit tertangkap klasemen. Teqball membuka perolehan perak lewat Sumaya pada hari pertama, padel menyumbang perunggu, dan wushu menjadi penyumbang perunggu terbanyak pada pekan pertama. Cabang-cabang baru ini menandakan peluang medali mulai tersebar di luar andalan lama.

Meski begitu, lima emas Indonesia hanya berasal dari empat cabang, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Ketergantungan pada segelintir cabang membuat hasil mudah naik turun dari satu edisi ke edisi berikutnya. Karena itu, pemerataan kekuatan perlu dibaca sebagai agenda yang sama pentingnya dengan jumlah emas.

Menimbang Hasil Asian Games 2026 dengan Kepala Dingin.

Hasil Asian Games 2026 pantas diapresiasi sekaligus dikritisi. Total medali naik dan target minimal terlampaui, tetapi peringkat turun dan emas bertumpu pada sedikit cabang. Evaluasi yang jujur harus memuat keduanya, bukan hanya salah satu.

Asian Games berikutnya baru digelar di Doha pada 2030, sehingga ada waktu untuk membenahi pembinaan dari akar. Bonus besar akan lebih bermakna bila diiringi sistem yang melahirkan atlet berprestasi secara konsisten. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa emas yang dibawa pulang, melainkan seberapa kuat fondasi yang disiapkan untuk edisi berikutnya.