I Kadek Dwi: Memecahkan Rekornya Sendiri dan Mengubah Arah Demi Mimpi

Student at Pamulang University. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau rekor duniamu sendiri harus kamu pecahkan lagi, siapa lagi yang bisa kamu kejar? Itulah pertanyaan yang tampaknya dijawab I Kadek Dwi Purwana Yasa di Stadion Paloma Mizuho, Nagoya. Atlet lempar cakram asal Bali itu datang sebagai pemegang rekor dunia, lalu pulang dengan rekor dunia yang baru.
Bukan kisah tentang angka semata. Ini kisah tentang seseorang yang berani mengubah arah ketika mimpinya meminta begitu.
Kadek Dwi dan Rekor Dunia yang Datang Tanpa Direncanakan.
Beberapa bulan sebelumnya, di Meksiko, Kadek menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Di sana ia memecahkan rekor dunia lempar cakram kelas F57 dengan lemparan 48,68 meter. Ia mengaku tidak menyangka, sebab ia hanya berusaha melempar sebisanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kejujuran. Rekor dunia sering kita bayangkan lahir dari rencana besar, padahal kadang ia lahir dari seseorang yang sekadar melakukan yang terbaik.
Kadek Dwi dan Lemparan Ketiga di Nagoya.
Di Nagoya, Kadek tampil sebagai unggulan dengan beban yang jelas, yaitu status pemegang rekor dunia. Lemparan pertamanya baik, yang kedua lebih jauh, lalu pada percobaan ketiga cakramnya melayang sejauh 49,75 meter. Rekornya sendiri jatuh.
Ia mengaku tidak terbebani oleh status itu. Menurutnya, hasil latihan sebenarnya sudah menembus lebih dari 50 meter. Barangkali itulah rahasia atlet yang tenang, ia tidak berlomba melawan rekor, melainkan melawan batas yang ia tahu masih bisa digeser.
Kadek Dwi dan Persembahan di Tengah Duka.
Setelah menang, Kadek mengusap air matanya. Ia mempersembahkan medali itu untuk ibu dan bapaknya. Menurut pemberitaan, emas dan rekor tersebut ia dedikasikan untuk almarhum ayahnya.
Ada momen-momen dalam olahraga yang tidak bisa diukur dengan meteran. Air mata seperti itu menjelaskan bahwa di balik angka 49,75 ada seseorang yang membawa orang-orang tercintanya ke lapangan, sekalipun sebagian dari mereka sudah tidak ada.
Kadek Dwi dan Keberanian Pindah Nomor.
Setelah emas itu, Kadek menyebut mimpinya berikutnya, yaitu Paralimpiade Los Angeles 2028. Ada satu masalah, nomor lempar cakram di kelasnya tidak dipertandingkan di sana. Karena itu, ia berencana pindah ke nomor lempar lembing dan berharap waktu yang tersisa masih cukup.
Banyak orang bertahan di tempat yang paling mereka kuasai. Kadek tampaknya memilih meninggalkan tempat itu demi mimpi. Barangkali pelajaran paling sunyi dari kisahnya adalah bahwa menjadi yang terbaik di satu nomor belum tentu berarti berhenti di sana.
