Konten dari Pengguna

Mengapa Angkat Besi Terus Menjaga Tradisi Emas Asian Games?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Aberro Creative from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Aberro Creative from Pixabay

Angkat besi kembali menjadi andalan Indonesia di Asian Games 2026. Pada 26 September, Rahmat Erwin Abdullah naik ke podium tertinggi kelas 75 kilogram putra sekaligus memecahkan rekor dunia. Prestasi itu lahir ketika Indonesia baru memiliki satu emas, sementara Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi peraih emas.

Rekor dunia memang menyita perhatian, tetapi cerita yang lebih besar ada pada konsistensinya. Angkat besi sudah beberapa edisi menjadi sumber emas bagi Merah Putih, mulai dari Eko Yuli Irawan di kelas 62 kilogram pada 2018 hingga gelar Rahmat pada 2022. Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan adalah mengapa angkat besi terus menjaga tradisi emas, bukan sekadar siapa yang memecahkan rekor.

Angka di Balik Rekor Dunia Angkat Besi Nagoya.

Rahmat mencatat total angkatan 366 kilogram, hasil dari angkatan snatch 160 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram. Angka tersebut membuatnya memecahkan rekor dunia kelas 75 kilogram, baik untuk total angkatan maupun untuk clean and jerk. Dengan demikian, dua rekor dunia lahir dalam satu penampilan di Nagoya.

Capaian ganda itu menandakan kondisi atlet yang sedang berada di puncak. Dalam angkat besi, hasil sangat ditentukan oleh akurasi teknik dan kesiapan mental, bukan sekadar kekuatan. Panggung sebesar Asian Games menambah bobot rekor tersebut.

Tradisi Emas Angkat Besi yang Terus Terjaga.

Emas Rahmat melanjutkan jejak yang sudah ada. Eko Yuli Irawan lebih dulu meraih emas kelas 62 kilogram pada 2018, lalu Rahmat menjadi juara pada 2022. Di Nagoya, ia mempertahankan tradisi emas angkat besi Indonesia dengan cara yang paling meyakinkan.

Tradisi itu bernilai karena emas Indonesia pada edisi ini tidak datang dari banyak pintu. Lima emas hanya berasal dari bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Di tengah peta yang sempit itu, satu emas angkat besi menjadi penopang penting untuk melampaui target minimal empat emas.

Pelajaran Pembinaan dari Angkat Besi untuk Cabang Lain.

Konsistensi seperti ini jarang lahir tanpa pembinaan yang berkesinambungan. Kemenpora menyebut pelatnas dijalankan secara berkelanjutan, dengan persiapan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Cabang lain yang belum menyumbang emas bisa membaca pola ini sebagai pengingat bahwa prestasi dibangun lewat kesinambungan, bukan lonjakan sesaat. Meski begitu, rincian sistem pembinaan angkat besi tidak banyak dibuka ke publik. Evaluasi yang terbuka akan membantu cabang lain menarik pelajaran yang tepat.

Menjaga Tradisi Angkat Besi Setelah Rekor Dunia.

Rekor dunia Rahmat Erwin Abdullah menjadi bukti bahwa angkat besi masih menjadi salah satu pilar prestasi Indonesia. Tradisi emas yang berlanjut sejak 2018 menunjukkan adanya fondasi yang layak dirawat, bukan hanya dirayakan.

Bonus besar memang pantas diberikan kepada peraih emas, tetapi fondasi pembinaan yang membuat atlet sampai ke podium membutuhkan perhatian yang sama besar. Jika angkat besi mampu menjaga tradisinya, tugas berikutnya adalah memastikan cabang lain bisa menyusul dengan cara yang sama.