Rifky Yavianda dan Dua Emas yang Dipersembahkan untuk Rumah

Student at Pamulang University. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu pernah jauh dari rumah dan merindukan orang yang paling kamu sayangi, kamu tahu betapa berharganya sebuah telepon. Maulana Rifky Yavianda melakukannya di Nagoya. Atlet para renang asal Magetan itu mengaku selalu menghubungi keluarganya di rumah demi menambah kekuatan.
Dan kekuatan itu terbukti. Rifky membuka perburuan emas Indonesia di Asian Para Games 2026, lalu menambah satu emas lagi keesokan harinya.
Rifky Yavianda dan Debut yang Langsung Menyapu Bersih.
Cerita ini bukan baru dimulai di Nagoya. Pada ASEAN Para Games 2022 di Semarang, Rifky tampil sebagai debutan dan langsung memborong lima emas dari semua nomor yang ia ikuti. Ia juga memecahkan rekor di 100 meter gaya bebas S12.
Debut seperti itu bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi beban. Setelah menyapu bersih, semua orang mulai menunggu apakah ia bisa terus melakukannya.
Rifky Yavianda dan Emas Pertama Indonesia di Nagoya.
Pada 19 Oktober, hari pertama perebutan medali, Rifky menjadi yang tercepat di 100 meter gaya bebas S12. Ia mempertahankan gelar dari edisi sebelumnya dan mencatat waktu 0,19 detik lebih cepat daripada dahulu.
Emas itu menjadi emas pertama Indonesia di Asian Para Games 2026. Menpora Erick Thohir menyebut kerja keras itu terbayar ketika lagu Indonesia Raya berkumandang. Satu emas pembuka memang sering menjadi pemantik semangat bagi rekan-rekan yang berlaga setelahnya.
Rifky Yavianda dan Rekor yang Dikejar Diri Sendiri.
Keesokan harinya, Rifky kembali menyentuh dinding finis lebih dulu, kali ini di 100 meter gaya punggung S12. Waktunya lebih cepat daripada rekor Asian Para Games miliknya sendiri yang ia cetak di Hangzhou tiga tahun sebelumnya.
Lawan paling berat seorang juara bertahan sering bukan orang lain. Lawannya adalah catatan lamanya sendiri. Rifky membuktikan bahwa ia mampu mengalahkan keduanya, dan melakukannya jauh dari rumah.
Rifky Yavianda dan Keluarga di Ujung Telepon.
Setelah emas kedua, Rifky mempersembahkan medali itu untuk orang-orang tercinta, terutama istri dan anaknya. Ia mengatakan keluarga adalah kekuatan utama di balik keberhasilannya.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari kisahnya. Di balik seorang atlet yang tercepat, sering ada rumah yang menunggu, dan telepon yang tidak pernah terputus. Pertanyaannya, sudahkah kita menghargai orang-orang yang diam-diam menjadi alasan seseorang bisa menang?
