Ubed dan Telepon Orang Tua: Cerita di Balik Emas Bulu Tangkis Putra

Student at Pamulang University. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum bertanding di final beregu, Moh. Zaki Ubaidillah atau Ubed menelepon orang tuanya untuk meminta doa. Atlet asal Madura itu datang ke laga puncak Asian Games 2026 dengan perasaan campur aduk, senang sekaligus tegang. Tak lama kemudian, ia menjadi pemain yang memastikan emas yang dinanti Indonesia selama 28 tahun.
Telepon itu terdengar sederhana, tetapi justru membuka pintu untuk memahami emas bulu tangkis putra ini. Skor di papan hanya menjelaskan siapa yang menang, sedangkan cerita di baliknya menjelaskan bagaimana tim yang tertinggal 0-2 masih percaya bahwa pertandingan belum selesai.
Dua Kekalahan Awal yang Nyaris Menutup Harapan Bulu Tangkis Putra.
Final melawan China digelar di Ichinomiya City Municipal Gymnasium pada Kamis, 24 September 2026. Partai pertama membawa kabar buruk, sebab Jonatan Christie kalah dua gim dari Shi Yuqi. Partai kedua menyusul ketika Muhammad Shohibul Fikri dan Bagas Maulana takluk dalam tiga gim dari Liang Weikeng dan Wang Chang.
Tertinggal 0-2 di final beregu berarti tidak ada lagi ruang untuk kehilangan satu partai pun. Situasi seperti itu bisa meruntuhkan keyakinan sebuah tim. Namun, yang terjadi setelahnya justru bergerak ke arah sebaliknya.
Tiga Kemenangan Beruntun Bulu Tangkis Putra Menuju Laga Penentu.
Alwi Farhan membuka kebangkitan dengan kemenangan tiga gim atas Li Shifeng, setelah sempat kehilangan gim kedua. Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin kemudian menyamakan kedudukan 2-2 dengan menundukkan He Jiting dan Liu Yi dalam dua gim. Semua bergantung pada satu partai terakhir.
Sebelum Ubed turun, Leo menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa mereka yang sudah bertanding telah berjuang maksimal. Kini giliran semuanya menyuntikkan semangat untuk Ubed. Pesan itu pendek, tetapi menunjukkan bahwa tim tidak membiarkan pemain terakhir berjalan sendirian ke lapangan.
Gim Pertama yang Sempat Terancam bagi Bulu Tangkis Putra.
Lawan Ubed adalah Weng Hongyang. Di gim pertama, Weng lebih dulu mencapai game point, dan Ubed berusaha menenangkan pikiran. Ia akhirnya membalikkan keadaan dan menutup gim itu 23-21.
Gim kedua berjalan lebih lepas, dan Ubed menang 21-13. Seluruh pertandingan berlangsung 45 menit. Ia mengaku dukungan rekan setim meredakan ketegangannya dan ia tak ingin mengecewakan siapa pun yang telah mendukung.
28 Tahun Setelah 1998, Emas Bulu Tangkis Putra Kembali ke Titik Awal.
Terakhir kali Indonesia menjadi juara beregu putra adalah pada Asian Games 1998, dan lawan di final juga China. Skuad kala itu diperkuat Hendrawan, Ricky Subagja dan Rexy Mainaky, Taufik Hidayat, serta Candra Wijaya dan Tony Gunawan. Mereka menang telak 4-0.
Dua puluh delapan tahun kemudian, final yang sama berjalan jauh lebih berliku. Kemenangan telak kini digantikan kemenangan dari ketertinggalan. Barangkali itulah yang membuat emas kali ini lebih banyak bercerita tentang ketahanan daripada tentang kekuatan.
Emas Bulu Tangkis Putra yang Tak Hanya Tentang Skor.
Emas bulu tangkis putra di Ichinomiya mengingatkan bahwa kemenangan besar sering dibangun dari hal kecil. Telepon kepada orang tua dan pesan penyemangat dari rekan setim tidak tercatat dalam papan skor, tetapi terasa pengaruhnya di lapangan.
Setelah 28 tahun menunggu, pelajaran terpentingnya mungkin sederhana. Tim yang tertinggal tidak harus kalah, selama masih ada yang percaya dan masih ada yang mendukung sampai poin terakhir.
