Inovasi Media dan Pembelajaran Berbasis Proyek: Kunci Kelas yang Hidup

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizky Septiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menerapkan Model Pembelajaran Inovatif dengan Menggunakan Project Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

Penerapan model, pembelajaran yang inovatif dapat dilaksanakan salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Inovasi, terhadap media pembelajaran saat ini menjadi hal yang penting untuk mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Ada banyak ragam media pembelajaran yang dapat digunakan saat ini. Beberapa diantaranya dengan pemanfaatan audio, video, penyampaian materi berbasis audio visual, hingga proses evaluasi menggunakan aplikasi tertentu berupa permainan.
Situasi:
Kondisi, yang sekarang ini menjadi latar belakang masalah pada pelaksanaan praktik ini ialah, kondisi kurangnya kemampuan sebagian peserta didik dalam pemikiran inovatif di dalam kelas. Namun, penulis membuat kegiatan pembelajaran inovatif dengan, mengaplikasikan penggunaan teknologi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis kepada peserta didik.
Tantangannya:
Tentu saja, dalam pelaksanaan praktik kegiatan pembelajaran ini terdapat beberapa tantangan yang di rasakan, diantaranya:
1. Beberapa peserta didik, kurang mampu berbaur menyelesaikan tugas dalam kelompok karena, terbiasa menjalani kegiatan belajar yang konvensional.
2. Pengerjaan, proyek membutuhkan waktu penyelesaian yang cukup panjang.
3. Guru, perlu melakukan pendekatan pribadi dan cukup mendalam terhadap beberapa peserta didik.
Dalam tantangan tersebut ada juga, aksi yang bisa di terapkan untuk peserta didik, yang kurang nya motivasi, seperti dimulai dengan mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, dan mencari akar penyebab masalah yang terdapat pada proses belajar mengajar yang pernah penulis temui. Setelah, mengidentifikasi masalah, penulis mencoba melakukan kajian literatur, wawancara dan menganalisis akar penyebab masalah yang ada untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Maka, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content and Knowledge) dan strategi scaffolding, dibarengi dengan penggunaan media pembelajaran yang beragam, seperti presentasi dari PowerPoint. Presentasi yang digunakan juga didesain dengan aplikasi canva ditambah dengan penayangan video dan pemanfaatan aplikasi Kahoot sebagai media evaluasi berbasis permainan atau game.
Sumber daya, yang saya bisa digunakan dalam praktik pembelajaran kali ini, yaitu: ruang kelas, papan tulis, spidol, proyektor, LCD, speaker, PowerPoint, Kahoot, jaringan, bahan ajar, LKPD, dan lain-lain.
Pada, praktik pembelajaran kali ini, saya memberi orientasi, motivasi, apersepsi dan mengikuti sintaks sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan. Adapun, keenam sintaks PjBL tersebut adalah pertanyaan mendasar, mendesain perencanaan produk, menyusun jadwal, memonitoring keaktifan dan perkembangan proyek, menguji hasil dan evaluasi pengalaman belajar. Kegiatan scaffolding, diberikan untuk membangun ide peserta didik untuk membuat proyek, yang dipadukan dari mulai sintaks kedua. Peserta didik, menuangkan ide menyusun dialog dalam kelompok untuk dijadikan acuan pada saat, membawakan peran, yang kemudian direkam sebagai proyek akhir berupa video role play (bermain game).
Sebelumnya, peserta didik dalam kelompok diberikan tema situasi berbeda untuk dikembangkan menjadi, dialog sesuai dengan materi yang diajarkan, peserta didik diajak melakukan evaluasi pengetahuan dengan menggunakan aplikasi kahoot. Lalu, pada tahap kegiatan penutup guru memberikan umpan balik untuk mengapresiasi kegiatan peserta didik, memberi tugas lanjutan, mengajak peserta didik membuat kesimpulan, refleksi dan berdoa serta saling mengucapkan salam penutup bersama.
Refleksi Hasil dan Dampak:
Dampak, yang diperoleh dari pelaksanaan aksi pembelajaran ini cukup signifikan. Praktik pembelajaran, ini dirasa efektif oleh penulis, karena terbukti ada peningkatan hasil belajar peserta didik setelah pelaksanaan proyek. Pada awal kegiatan pembelajaran, peserta didik masih cukup malu dalam menggunakan ungkapan tertentu. Setelah mencoba kegiatan role play dalam kelompok, peserta didik menjadi lebih berani dan dapat berlatih untuk menggunakan beberapa ungkapan sesuai materi dengan lebih baik. Peserta didik juga mengeksplorasi intonasi, kejelasan dan bahasa tubuh saat mempraktikkan dialog mereka pada pelaksanaan role play. Peserta didik, juga antusias dengan pelaksanaan evaluasi menggunakan kahoot, serta pembuat proyek yang menggunakan rekaman video.
Namun, ada sebagian kecil peserta didik yang masih mengalami kesulitan untuk melaksanakan tugas proyek dalam kelompok karena, satu dan lain hal yang dijadikan alasan. Guru, mencoba melakukan pendekatan secara personal terhadap beberapa peserta didik tersebut. Sehingga, mereka mampu menyelesaikan proyek sesuai waktu yang telah disepakati. Tantangan lain, dalam pelaksanaan praktik pembelajaran ini yaitu, membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk penyelesaian dan pengumpulan proyek.
Sekiranya, semoga praktik pembelajaran kali ini dapat bermanfaat, dan dapat kita implementasikan guna memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
