Metode Biografis dalam Psikodiagnostik: Menapaki Kepribadian Melalui Tulisan

Saya merupakan seorang mahasiswa psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berminat dalam dunia kepenulisan, khususnya dalam topik-topik yang berkaitan dengan psikologi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizky Setiawan Davin Arkana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh Rizky Setiawan Davin Arkana dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si. Psikolog.

Dalam keilmuan psikodiagnostik mengenal adanya beberapa metode yang digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang secara lebih mendalam. Salah satu metode yang digunakan ialah metode biografis. Metode biografis merupakan sebuah metode yang berkaitan dengan daftar riwayat hidup atau berbagai bentuk dokumen hidup dari seseorang, seperti buku harian, jurnal ataupun memoir. Menurut Mulyono (2020) metode biografis adalah metode yang menggunakan bahan-bahan berwujud tulisan mengenai kehidupan subjek yang diselidiki, baik yang ditulis oleh subjek itu sendiri maupun orang lain. Sehingga metode ini berfokus untuk bisa meneliti seseorang dari berbagai sumber informasi tertulis yang eksis mengenai kehidupan orang tersebut. Bahkan menurut Allport (1951) pernyataan yang tertuang dalam sumber tulis - seperti Biografi - dapat menjadi sitasi (referensi) yang ilustratif terhadap kehidupan pribadi dari individu. Meskipun dianggap dapat membaca kepribadian individu, apa aja sih jenis bahan atau catatan biografis yang dianggap mampu memberikan refleksi kepribadian penulisnya? Dan apa aja sih informasi yang dapat kita peroleh dari bahan atau catatan biografis tersebut? Serta ada nggak sih kelemahan dari metode biografis ini? Mari kita bahas
Jenis Catatan yang Digunakan Metode Biografis
Suryabrata (1999) dalam Mulyono (2020) menyatakan bahwa terdapat beberapa jenis bahan atau catatan biografis yang umumnya digunakan dalam penyelidikan kepribadian seseorang, diantaranya:
Biografi, merupakan riwayat perjalanan hidup seseorang yang disusun atau ditulis oleh pihak ketiga. Penulisnya pun dapat berasal dari kalangan keluarga, karib kerabat, sahabat atau bahkan orang lain di luar keluarga dan sahabat.
Otobiografi, merupakan riwayat perjalanan hidup seseorang yang disusun atau ditulis oleh dirinya sendiri. Menurut Allport (1951) legasi/warisan besar yang tertuang dalam otobiografi adalah bahwa tulisan ini dapat menjelaskan hampir setengah kehidupan yang lebih mendalam mengenai seseorang.
Buku Harian, adalah salah satu cara yang diambil oleh seseorang dalam mengekspresikan suatu pengalaman dan pemikiran yang dialami penulis. Karena sifatnya yang harian seseorang biasanya akan menulis secara rutin dipenghujung pergantian hari. Buku harian dianggap dapat menangkap perubahan suasana hati dari penulis dikarenakan sifatnya yang langsung di bawah pengaruh pengalaman orang tersebut (Allport, 1951).
Kenang-Kenangan Masa Muda, ketika seseorang telah berusia lanjut dan merasa bahwa akhir kehidupannya semakin dekat. Seringkali ia menoleh ke masa muda dan dan merindukannya sebagai masa yang paling indah (Mulyono, 2020). Dengan demikian, kenangan masa muda itu berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat kehidupannya di masa lampau.
Case History, merupakan penggunaan sekumpulan sumber data biografis dari masa lampau – seperti riwayat medis, pendidikan, keluarga, latar belakang medis dan kehidupan sosial – guna keperluan menggali suatu indikasi kepribadian (Mulyono, 2020). Contohnya adalah rekam medis atau pendidikan dari seseorang.
Informasi dan Kelemahan Apa yang Ditemui Ketika Menggunakan Metode Biografis?
Melalui metode biografis kita berusaha memperoleh kepingan informasi perihal kepribadian sang penulis dari segala bentuk catatan tertulis yang ditinggalkannya. Kita ambil contoh buku harian. Dalam buku harian, penulis biasanya menuangkan curahan akan pemikiran, perasaan dan pengalaman pribadinya. Setiap lembarnya merefleksikan kepada kita bagaimana kepribadian sang penulis. Penulis yang memiliki kepribadian peka akan apresiasi seni (aesthetic sensitivity) akan menyertakan gambar dalam tulisan atau memilih kalimat-kalimat yang puitis dan/atau sebagainya. Sementara penulis yang cenderung berkepribadian cemas akan lebih banyak menulis ketakutan dan berbagai pengalaman buruk yang dialaminya. Dengan demikian, berbagai jenis catatan atau bahan biografis dapat dijadikan sebagai sumber data kepribadian yang sangat berharga (Mulyono, 2020).
Meskipun terdapat banyak potensi untuk melihat gambaran dari kepribadian penulis, ada beberapa kelemahan dalam metode ini. Sebagaimana yang dinyatakan Mulyono (2020) dalam buku psikodiagnostik: sebuah pengantar bahwa meskipun riwayat tulis seperti biografi dianggap data mengungkapkan kepribadian seseorang, bentuk tulisan ini sangat dipengaruhi oleh sikap dan penilaian penulis (karena penulisnya pihak ketiga) terhadap orang yang ditulis biografinya. Dalam catatan kenangan masa muda juga terdapat aspek yang menjadi kelemahannya, yakni sulit dijamin bahwa kenangan itu memberikan gambaran yang jujur mengenai masa muda penulis – dikarenakan masih sangat tergantung pada interpretasi sang pemilik memori tersebut (Mulyono, 2020). Sehingga dengan menggunakan metode ini sangat diperlukannya kelengkapan data biografis yang tidak hanya bersumber dari satu sumber catatan biografis saja. Dikarenakan semakin lengkap data yang kita peroleh mengenai sang penulis, maka semakin bijak pula kita dalam merefleksikan kepribadian dari orang tersebut (Mulyono, 2020). Dengan demikian, teratasinya berbagai kelemahan sebelumnya, sekaligus meminimalisir kita dari kemungkinan salah dalam mendeskripsikan kepribadian dari sang penulis.
