Konten dari Pengguna

"Buncisan" Kesenian Daerah Yang Hampir Terlupakan

Rizky Sula

Rizky Sula

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Sula tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi lokal merupakan penanda penting identitas budaya masyarakat. Ia hidup melalui kesenian, ritual, bahasa, serta praktik sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang mencerminkan dinamika tersebut adalah kesenian Buncisan, kesenian rakyat yang tumbuh dari ruang sosial masyarakat dan sarat akan nilai kebersamaan serta identitas lokal.

Di berbagai daerah, pelaku tradisi masih didominasi oleh generasi tua. Keterlibatan generasi muda sebagai penerus budaya cenderung menurun. Tradisi lokal sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kurang relevan dengan kehidupan modern, sehingga kehadirannya semakin terpinggirkan dari keseharian masyarakat.

Pertunjukan Kesenian Tari Buncisan di Gedung Soetadja, Sumber: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan Kesenian Tari Buncisan di Gedung Soetadja, Sumber: Dokumentasi pribadi.

Mengenal Tradisi Lama

Tari Buncisan adalah tari rakyat Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas yang disajikan pada upacara Merti Dusun. Tari Buncisan telah ada sejak tahun 1951-an dan telah mengalami perkembangan bentuk dan fungsi hingga sekarang. Tari Buncisan memiliki kedudukan sebagai sarana rasa syukur terhadap Sang Pencipta, sebab disinilah kesenian tersebut memiliki sejarah sebagai media perjuangan, dan perlu dilestarikan. Nama buncisan bukan diadaptasi dari nama sayuran. Kesenian buncisan secara etimologis, kata Buncis berasal dari kata “Buntar” yang berarti ganggang atau alas batang tombak dan “Cis” yang berarti keris kecil atau tombak kecil, Buntar dan Cis diambil dari bahasa Sansekerta, an kata tambahan dibelakang biasanya masyarakat Tanggeran menyebutnya Buncisan. Dari sumber tradisi lisan masyarakat Desa Tanggeran, tari Buncisan menceritakan tentang sayembara antara Raden Prayitno dengan Patih Brajanggelap. Sayembara dilakukan untuk memperebutkan putri Adipati Kalisalak yang bernama Dewi Nurkhanti. Kisahnya menyebutkan bahwa dahulu terdapat peristiwa di sebelah barat kota Purwokerto terdapat dua Kadipaten yaitu Kadipaten Gentayakandan Kadipaten Nusakambangan, kedua putra rajanya berselisih untuk memenangkan hati seorang putri yaitu Dewi Nurkhanti dari Kadipaten Kalisalak.

Perselisihan dimenangkan oleh Raden Prayitno dengan menggunakan senjata keris kecil yang diperoleh dari Ki Ageng Giring. Keris kecil tersebut menjelma menjadi makhluk berbulu lebat tinggi dan besar yang menyerupaimanusia dan seekor naga. Kedua makhluk tersebut membantu memenangkan sayembara dengan melawan Patih Brajanggelap utusan Prabu Parungbahas dan berhasil merebut pusaka Bekong Wahyu. Sebelum memulai perlawanan, kedua makhluk tersebut mempunyai syarat kepada Raden Prayitno, apabila memenangkan sayembara makhluk tersebut akan menari dan meminta diiringi musik yang terbuat dari bambu, jadi kata Buncis jika dilihat dari sejarah yaitu Bun-tuning lelakon (akhir dari perjuangan), hanya dapat pertolongan dan penyelesaian dengan menggunakan keris kecil yang disingkat menjadi Buncis.

Bentuk pertunjukan pada tari Buncisan terdiri dari 4 babak dari Pembuka, awal, inti dan akhir. Bentuk pertunjukan itu sendiri memiliki elemen-elemen pertunjukan meliputi gerak tari, volume, pola lantai, dinamika, dsain dramatik, rias dan kostum, musik dan tempat pementasan. Gerak tari Buncisan disusun dengan gerak baku, gerak peralihan dan gerak pengulangan. Pada awalnya Tari Buncisan terdiri dari 9 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yaitu 6 orang menggunakan properti angklung dan 1 orang , 1 kenong dan 1 sinden. menggunakan properti gong bumbung, 1 kendang Angklung, kenong dan gong bumbung terbuat dari bambu bernada slendro, Angklung penggunaannya diayunkan, kenong penggunaannya di tabuh dan Gong Bumbung ditiup. Properti Angklung tersebut adalah perwujudan suasana dari kegembiraan Raden Prayitno.

Jejak Lama yang nyaris terhapus

Kesenian ini sempat redup bertahun-tahun hingga adanya kegiatan identifikasi potensi kesenian di daerah tersebut yang memicu bangkitnya kesenian ini. Melalui salah satu tokoh yang berinisiatif untuk membangun dan untuk mengembangkan kesenian Buncis yang telah lama fakum menjadi kesenian buncis tetap berkembang yang bernama Mbah Sarwono. Pada awalnya Sarwono mencari tahu tentang Kesenian Buncis mengapa fakum dan tidak berjalan lagi. Menurut beliau, kesenian ini ditinggalkan setelah mendapat alasan dari beberapa seniman Buncis jaman dulu karena tidak ada yang bisa membuat Angklung dan belum ada generasi yang membangun kesenian Buncisan itu. Kesulitan mencari generasi penerus menjadi kendala utama pelestarian kesenian ini. Disebabkan adanya pergeseran minat masyarakat terhadap budaya populer, generasi muda kurang terlibat dalam aktivitas seni tradisional.

Minimnya regenerasi juga berkaitan dengan pola pewarisan kesenian yang masih bersifat konvensional. Pengetahuan dan keterampilan Buncisan umumnya diwariskan secara informal melalui praktik langsung dan pengalaman bersama. Ketika ruang sosial untuk proses tersebut semakin menyempit akibat urbanisasi dan perubahan pola hidup, pewarisan nilai dan keterampilan pun menjadi terhambat.

Pementasan Kesenian Buncisan Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Fungsi Sosial dan Nilai Pendidikan

Kesenian Buncisan berperan penting dalam pertunjukan kerakyatan, dimaknai adanya sejarah dan filosofi tradisi langka ini, dari pertunjukan di pernikahan, sampe kearah spiritual yang biasanya kita lakukan. Selain pemetasan tari, untuk sebagai ungkapan rasa syukur para petani setelah masa panen dilakukannya pada upacara Merti Dusun. Menggabungkan tari, musik, dan vokal dalam satu pementasan, seringkali dengan tarian yang teratur dan sederhana namun penuh makna.

Dalam pemetasan selain alat musik, ada juga yang dimiliki kesenian buncisan yaitu kostum khas. Penari mengenakan mahkota berhias bulu ayam dan hiasan rumbai-rumbai di celana. Alat musik yang digunakan kesenian buncisan unik, menggunakan berbahan bambu seperti angklung slendro, gong bambu, dan ketipung.

Upaya Pelestarian

Salah satu tantangan utama yang dihadapi kesenian Buncisan adalah masalah regenerasi pelaku seni. Dominasi penari Buncisan oleh kalangan usia lanjut menunjukkan kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tradisional ini. Minimnya regenerasi dalam kesenian Buncisan menjadi cermin dari persoalan yang dihadapi banyak tradisi lokal saat ini. Keberlanjutan kesenian rakyat tidak hanya ditentukan oleh pengakuan sebagai warisan budaya, tetapi oleh keterlibatan generasi penerus sebagai subjek budaya.

Regenerasi dalam kesenian Buncisan seharusnya dipahami sebagai proses adaptif. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk terlibat secara aktif, menafsirkan ulang, dan mengembangkan kesenian ini sesuai dengan konteks zamannya. Dengan cara tersebut, Buncisan dapat tetap mempertahankan nilai budaya sekaligus menemukan relevansinya di tengah perubahan sosial. Sama hal dengan semangat membara salah satu tokoh berperan penting dalam kesenian ini, Mbah Sarwono. Sarwono berinisiatif untuk membangun dan untuk mengembangkan kesenian Buncis yang telah lama fakum, sehingga kesenian buncis tetap berkembang di Desa Tanggeran, Sarwono meminta ijin kepada Rasum sebagai sesepuh kesenian Buncis untuk mengangkat kembali Kesenian Buncis di Desa Tanggeran. Rasum sebagai sesepuh sangat menyetujui ide yang diungkapkan Sarwono, Sarwono mulai bergerak membuat alat musik Angklung dan menjalani proses latihan rutin ditempat Sarwono. Setelah 6 bulan Sarwono memberi nama grupnya dengan nama Paguyban Buncis Ngundi Utomo. Dukungan tidak hanya berhenti pada pelestarian simbolik, tetapi juga mencakup pembinaan, pendampingan, serta penyediaan ruang ekspresi bagi generasi muda pelaku Buncisan. Tanpa regenerasi yang berkelanjutan, kesenian Buncisan berisiko kehilangan ruang hidupnya di masa depan.