Laut Bukan Gudang yang Tak Pernah Kosong

Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Dr. Djar Wattiheluw (UNIDJAR) Masohi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Rizky Umarella tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sering disebut sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang luar biasa. Laut menyediakan pangan, lapangan pekerjaan, sumber pendapatan, sekaligus ruang hidup bagi jutaan masyarakat pesisir.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi perikanan pada 2026 mencapai 25,84 juta ton (Kompas, 11/01/2026). Angka itu tentu penting. Namun, kita perlu berhati-hati ketika menjadikan produksi sebagai ukuran utama keberhasilan pembangunan perikanan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak ikan yang dapat ditangkap dari laut Indonesia. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah ikan ditangkap, siapa yang memperoleh manfaat paling besar, dan apakah laut masih mampu menyediakan ikan dengan jumlah yang sama untuk generasi berikutnya?
Produksi Bukan Ukuran Tunggal
Selama bertahun-tahun, keberhasilan pembangunan perikanan mudah dibaca melalui angka produksi. Semakin banyak ikan ditangkap, semakin besar pula kesan bahwa sektor perikanan semakin maju. Cara pandang seperti itu perlu dikaji ulang.
Dalam ekonomi sumber daya perikanan, Gordon (1954) telah lama menjelaskan persoalan open access: ketika sumber daya dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak tanpa pengaturan yang efektif, setiap orang memiliki dorongan untuk menangkap sebanyak mungkin. Jika berlangsung terus, tekanan terhadap sumber daya akan semakin besar.
Schaefer (1954) juga menunjukkan bahwa hasil tangkapan tidak dapat meningkat tanpa batas hanya dengan menambah upaya penangkapan. Setiap stok ikan memiliki kemampuan biologis untuk tumbuh kembali. Ketika tekanan penangkapan melampaui kemampuan tersebut, produksi yang tinggi hari ini justru dapat menjadi masalah bagi produksi pada masa depan.
Penelitian Haris (2025) terhadap data 34 provinsi selama 2020–2023 juga memberikan gambaran menarik. Jumlah nelayan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi perikanan, sementara status stok ikan tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model jangka pendek. Penelitian yang sama mencatat kenaikan produksi sebesar 4,4 persen setelah penerapan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) pada 2023.
Angka tersebut tidak serta-merta berarti kondisi biologis laut membaik. Penguatan pengawasan dan pencatatan, termasuk melalui electronic logbook, dapat membuat hasil tangkapan yang sebelumnya tidak tercatat masuk ke dalam statistik resmi. Karena itu, kenaikan produksi harus dibaca bersama dengan kondisi stok dan ekosistem.
Kita Pernah Diperingatkan
Persoalan tersebut bukan sesuatu yang baru. Hardin (1968), melalui gagasan The Tragedy of the Commons, menjelaskan bagaimana kepentingan individu untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dapat menghasilkan tekanan terhadap sumber daya yang digunakan bersama.
Namun, Elinor Ostrom (1990) menunjukkan bahwa tragedi tersebut bukan sesuatu yang pasti terjadi. Sumber daya bersama dapat dikelola secara berkelanjutan ketika masyarakat memiliki aturan, kelembagaan, pengawasan, dan mekanisme kepatuhan yang berjalan.
Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Laut tidak harus diperlakukan sebagai ruang yang bebas dieksploitasi. Tetapi laut juga tidak cukup dijaga melalui larangan dan regulasi di atas kertas. Yang menentukan adalah apakah aturan tersebut benar-benar bekerja di lapangan: sampai kepada nelayan, pelaku usaha, pemerintah daerah, pengawas, dan pasar.
Charles (2001) mengingatkan bahwa keberlanjutan perikanan bukan semata-mata persoalan biologis. Ia juga berkaitan dengan ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Artinya, menjaga ikan saja tidak cukup. Kita juga harus memastikan bahwa manusia yang hidup dari ikan memiliki masa depan.
Ketika Laut Kalah oleh Cara Kita Membangun
Masalah menjadi lebih rumit ketika perikanan ditempatkan dalam lanskap pembangunan nasional yang semakin kuat berorientasi pada investasi dan ekstraksi.
Pertambangan, hilirisasi mineral, energi, dan pembangunan industri menawarkan angka investasi yang besar dan mudah dipresentasikan sebagai pertumbuhan ekonomi. Perikanan memiliki karakter berbeda. Nilainya tersebar di wilayah pesisir, melibatkan rumah tangga nelayan, bergantung pada kesehatan ekosistem, dan membutuhkan waktu panjang agar sumber daya tetap tersedia. Akibatnya, laut sering diperlakukan sebagai ruang ekonomi yang harus terus menghasilkan, sementara biaya ekologisnya baru terasa kemudian. Pauly dan koleganya (1998) menunjukkan fenomena fishing down marine food webs: ketika tekanan penangkapan berlangsung terus, eksploitasi dapat bergeser ke ikan-ikan pada tingkat trofik yang lebih rendah. Pesannya sederhana. Ketika ikan bernilai tinggi semakin sulit ditemukan, manusia tidak selalu berhenti menangkap. Kita dapat bergerak semakin jauh ke bawah dalam jejaring makanan laut. Kerusakan laut karena itu tidak selalu terlihat dalam bentuk air yang tercemar atau terumbu karang yang rusak. Ia juga dapat muncul secara perlahan melalui perubahan struktur komunitas ikan akibat tekanan penangkapan.
Nelayan Jangan Hanya Menjadi Angka
Ada ironi yang sering luput dalam pembicaraan mengenai produksi perikanan.
Nelayan merupakan bagian penting dari sistem produksi, tetapi kenaikan produksi tidak otomatis berarti kesejahteraan mereka meningkat. Penelitian Haris (2025) menunjukkan bahwa jumlah nelayan merupakan salah satu faktor penting dalam produksi perikanan. Namun, pembangunan perikanan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak kapal yang beroperasi atau berapa ton ikan yang dihasilkan.
Pertanyaan yang sama penting adalah: berapa bagian nilai ekonomi yang kembali kepada nelayan? Apakah mereka memperoleh akses pasar yang lebih baik? Apakah posisi tawarnya meningkat? Apakah hasil tangkapan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah di wilayah pesisir? Dan ketika hasil tangkapan menurun, apakah mereka memiliki perlindungan yang memadai?
Di sinilah keberlanjutan harus dibedakan dari sekadar konservasi. Menjaga ikan tanpa memperbaiki kehidupan nelayan dapat melahirkan konflik. Sebaliknya, meningkatkan produksi tanpa menjaga stok hanya akan menunda persoalan.
Hilborn dkk. (2020) menunjukkan bahwa stok ikan cenderung berada dalam kondisi yang lebih baik di wilayah dengan pengelolaan perikanan yang lebih intensif dan efektif. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan yang baik bukan penghambat kegiatan perikanan, melainkan fondasi agar sumber daya tetap tersedia dalam jangka panjang. Dengan kata lain, menjaga stok ikan bukan berarti memusuhi pertumbuhan ekonomi. Stok ikan yang sehat justru merupakan modal ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.
Jangan Sampai Ekonomi Biru Menjadi Nama Baru Ekstraksi
PIT dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut. Namun, kebijakan ini tidak boleh berhenti pada persoalan kuota dan pencatatan hasil tangkapan. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan kuota didasarkan pada data ilmiah yang dapat dipercaya, pengawasan berjalan, kepatuhan dapat ditegakkan, dan nelayan kecil tetap memiliki ruang hidup serta akses yang adil terhadap sumber daya.
Di sinilah gagasan ekonomi biru perlu diuji. Ekonomi biru jangan sampai hanya menjadi istilah baru untuk kegiatan ekonomi yang mengambil sebanyak mungkin dari laut. Jika demikian, kita hanya mengganti nama tanpa mengubah cara berpikir.
FAO melalui The State of World Fisheries and Aquaculture juga menempatkan keberlanjutan perikanan dalam kaitannya dengan kondisi stok, tata kelola, perubahan lingkungan, dan kemampuan masyarakat memperoleh manfaat dari sumber daya perikanan.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan perikanan harus diperluas. Bukan hanya berapa ton ikan yang dihasilkan, tetapi apakah stok tetap sehat, apakah ekosistem mampu pulih, apakah nilai tambah tumbuh di wilayah pesisir, dan apakah kehidupan nelayan menjadi lebih baik.
Indonesia sudah terlalu lama melihat laut sebagai sumber yang dapat terus dipanen. Padahal, laut bukan gudang yang isinya tidak pernah berkurang. Laut adalah sistem kehidupan. Ketika kita mengambil terlalu banyak, yang hilang bukan hanya ikan hari ini. Yang ikut hilang adalah kesempatan masyarakat pesisir untuk memperoleh penghidupan pada masa depan.
Karena itu, pembangunan tidak semestinya hanya bertanya berapa banyak yang dapat kita ambil dari laut. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak yang harus kita pertahankan agar laut tetap mampu memberi kehidupan bagi generasi berikutnya.
