Konten dari Pengguna

Benarkah Salah Jurusan Bisa Mengubah Masa Depan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkya Annurie Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumen pribadi.

“Kalau nanti salah jurusan gimana?”

Pertanyaan sederhana ini bisa terasa berat bagi siswa yang sedang menentukan pilihan kuliah. Di usia 17 atau 18 tahun, seseorang sering kali diminta memilih bidang yang dianggap akan menentukan masa depannya. Padahal, tidak semua orang sudah benar-benar mengenal minat, kemampuan, dan tujuan hidupnya.

Kekhawatiran tersebut ternyata cukup banyak dialami mahasiswa. Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur, menyebutkan bahwa 87 persen mahasiswa di Indonesia salah memilih jurusan. Angka tersebut menunjukkan bahwa menentukan jurusan bukan sekadar persoalan memilih mata kuliah yang disukai, tetapi juga berkaitan dengan proses mengenali diri sendiri.

Dikutip dari Detik, terdapat beberapa alasan yang dapat membuat seseorang salah memilih jurusan. Ada yang mengikuti teman, bingung karena terlalu banyak pilihan, belum mengetahui minat dan bakat, mengikuti keinginan orang tua, hingga memilih jurusan karena hanya bidang tersebut yang menyediakan beasiswa.

Ketika Pilihan Bukan Sepenuhnya Milik Sendiri

Memilih jurusan sering kali tidak sesederhana “ikuti passion”. Seorang siswa bisa saja menyukai suatu bidang, tetapi kemudian memilih jurusan lain karena dianggap lebih memiliki prospek kerja. Ada pula yang mengikuti pilihan teman karena tidak ingin menjalani masa kuliah sendirian.

Tekanan dari keluarga juga dapat memengaruhi keputusan. Jurusan tertentu terkadang dianggap lebih bergengsi atau lebih menjanjikan dibandingkan bidang lainnya. Akibatnya, siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan harapan orang lain tanpa benar-benar memahami apakah bidang tersebut sesuai dengan dirinya.

Masalahnya, pilihan yang terlihat tepat sebelum kuliah belum tentu terasa sama setelah perkuliahan dimulai.

Saat Jurusan Tidak Sesuai Ekspektasi

Tugas yang menumpuk, materi yang sulit, atau mata kuliah yang ternyata berbeda dari bayangan dapat membuat mahasiswa berpikir bahwa dirinya salah jurusan. Namun, rasa kesulitan tidak selalu berarti ketidakcocokan.

Mahasiswa membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan pola belajar di perguruan tinggi. Karena itu, penting membedakan antara benar-benar tidak memiliki ketertarikan dengan bidang tersebut dan sekadar sedang mengalami kesulitan.

Jika dibiarkan, perasaan tidak cocok dapat memengaruhi motivasi belajar dan membuat mahasiswa menjalani kuliah tanpa tujuan yang jelas. Inilah mengapa proses mengenali minat dan kemampuan seharusnya dimulai sebelum memilih jurusan.

Jurusan Bukan Penentu Tunggal Masa Depan

Salah jurusan juga tidak berarti masa depan seseorang otomatis gagal. Dunia kerja terus berkembang dan perjalanan karier seseorang tidak selalu berjalan lurus sesuai jurusan kuliahnya.

Selama kuliah, mahasiswa dapat membangun pengalaman melalui organisasi, magang, pekerjaan, maupun berbagai keterampilan lain. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal tambahan ketika memasuki dunia kerja.

Karena itu, keputusan mengenai jurusan sebaiknya tidak hanya berfokus pada nama atau gengsi sebuah program studi, tetapi juga pada kecocokan dengan kemampuan dan tujuan pribadi.

Lalu, Harus Bagaimana?

Sebelum memilih jurusan, calon mahasiswa perlu mencari informasi sebanyak mungkin, mengenali minat dan kemampuan diri, serta memahami seperti apa bidang yang akan dipelajari. Berdiskusi dengan guru, konselor, mahasiswa, atau orang yang sudah bekerja di bidang tersebut juga dapat membantu memberikan gambaran yang lebih realistis.

Bagi mahasiswa yang sudah terlanjur merasa salah jurusan, tidak perlu langsung menganggap semuanya berakhir. Evaluasi kembali alasan ketidaknyamanan tersebut. Jika memang diperlukan, pilihan seperti pindah jurusan dapat dipertimbangkan dengan matang.

Pada akhirnya, tidak ada jurusan yang mampu menjamin masa depan seseorang sepenuhnya. Memilih jurusan memang penting, tetapi masa depan tidak berhenti pada satu keputusan ketika berusia 17 atau 18 tahun.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Bagaimana supaya aku tidak salah jurusan?”, tetapi “Apa yang bisa aku lakukan dengan pilihan yang sudah aku ambil?”

Sebab, masa depan bukan hanya tentang jurusan yang dipilih, tetapi juga tentang bagaimana seseorang terus belajar, berkembang, dan menemukan jalannya sendiri.