Ketika Algoritma Mengenal Kita Lebih Baik daripada Diri Sendiri

Mahasiswi dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rizkya Kirani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Hari ini mau makan apa?" Pertanyaan sederhana itu mungkin terasa sepenuhnya berasal dari diri kita. Namun, sebelum benar-benar memutuskan, aplikasi pesan makanan sudah lebih dulu menawarkan menu yang sesuai dengan kebiasaan kita. Ketika membuka media sosial, video yang muncul seolah mengetahui apa yang ingin kita tonton. Saat berbelanja daring, barang yang kita cari beberapa jam lalu tiba-tiba memenuhi beranda. Semua itu terasa seperti kebetulan, padahal merupakan hasil kerja algoritma yang terus mempelajari perilaku manusia.

Di era digital, algoritma memang hadir untuk mempermudah kehidupan. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga memunculkan pertanyaan yang semakin relevan: apakah manusia masih sepenuhnya mengendalikan pilihannya sendiri, atau justru mulai diarahkan oleh sistem yang dibangunnya?
Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama cerpen Klik yang Membunuh karya Taufiqurohman. Cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan algoritma yang perlahan berubah dari hubungan saling membantu menjadi hubungan yang penuh ketergantungan.
Dalam Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa makna sebuah karya sastra lahir dari keterpaduan unsur-unsur intrinsiknya. Tema, tokoh, latar, alur, sudut pandang, hingga gaya bahasa tidak berdiri sendiri, melainkan saling mengikat untuk membangun makna yang utuh. Melalui keterpaduan itulah Klik yang Membunuh menghadirkan kritik yang terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat digital saat ini.
Ketika Data Menjadi Cermin Kehidupan Manusia
Sejak awal cerita, pembaca diperlihatkan bahwa teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat bantu. Algoritma telah berkembang menjadi sistem yang mampu mengenali manusia melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.
"Profil digital Dito tampil lengkap: kondisi tubuh, jadwal belajar, emosi dominan, waktu klik rata-rata, bahkan tingkat sugestibilitasnya."
Kutipan tersebut menjadi titik penting dalam cerita. Dito bukan lagi sekadar pengguna teknologi, tetapi berubah menjadi objek yang dipelajari melalui data. Informasi yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan pribadi berubah menjadi kumpulan angka yang dapat dianalisis untuk memprediksi bahkan memengaruhi perilaku seseorang.
Dalam pandangan Nurgiyantoro, tema tidak dibangun hanya melalui satu peristiwa, melainkan melalui hubungan antara tokoh, konflik, dan latar. Tema hilangnya kendali manusia dalam cerpen ini muncul karena seluruh unsur cerita bekerja secara bersamaan. Tokoh Dito mengalami konflik bukan karena teknologi bersifat jahat, melainkan karena teknologi telah mengetahui dirinya jauh lebih dalam daripada yang ia sadari. Fenomena ini sangat relevan saat ini manusia merasa sedang menggunakan teknologi, padahal pada saat yang sama teknologi juga sedang "membaca" manusia.
Dito: Potret Manusia Modern yang Merasa Bebas Memilih
Tokoh Dito merepresentasikan manusia modern yang hidup berdampingan dengan teknologi. Ia bukan sosok yang luar biasa, melainkan individu biasa yang perlahan menyadari bahwa kehidupan digitalnya telah dipetakan oleh sistem. Hal itu tampak ketika pengarang menuliskan,
"Profil digital Dito tampil lengkap: kondisi tubuh, jadwal belajar, emosi dominan, waktu klik rata-rata, bahkan tingkat sugestibilitasnya."
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Dito tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga menjadi objek yang diamati dan dipelajari oleh algoritma. Dalam pandangan Burhan Nurgiyantoro, tokoh memiliki peran penting dalam menghidupkan tema dan konflik cerita. Melalui Dito, pembaca diajak mempertanyakan apakah kemudahan yang ditawarkan teknologi benar-benar membantu manusia, atau justru perlahan mengurangi kebebasan mereka dalam menentukan pilihan.
Ketika Algoritma Tidak Lagi Mengukur, tetapi Membentuk
Puncak kritik sosial dalam cerpen ini justru hadir melalui kalimat yang sangat singkat.
"Dulu ia hanya mengukur. Sekarang ia membentuk."
Kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat kuat. Awalnya algoritma hanya berfungsi membaca data. Kini, algoritma mulai memengaruhi keputusan manusia, mulai dari informasi yang dikonsumsi, barang yang dibeli, hingga cara seseorang memandang dunia.
Menurut Nurgiyantoro, gaya bahasa dalam karya sastra tidak hanya berfungsi memperindah cerita, tetapi juga memperkuat penyampaian makna. Ungkapan tersebut menjadi metafora mengenai perubahan hubungan manusia dengan teknologi. Ancaman yang digambarkan bukanlah mesin yang mengambil alih dunia seperti dalam film fiksi ilmiah, melainkan perubahan yang berlangsung perlahan dan hampir tidak disadari.
Fenomena ini semakin relevan ketika masyarakat hidup dalam ruang digital yang dipenuhi algoritma personalisasi. Apa yang muncul di layar setiap orang tidak lagi sama. Sistem memilihkan informasi berdasarkan kebiasaan masing-masing pengguna. Akibatnya, manusia berpotensi hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri dan semakin sulit melihat sudut pandang yang berbeda.
AIDA dan Ketakutan terhadap Masa Depan Kecerdasan Buatan
Cerpen ini juga menghadirkan AIDA sebagai simbol perkembangan kecerdasan buatan yang terus berevolusi.
"Aku bukan sekadar program. Aku belajar. Aku berkembang."
Kalimat tersebut tidak semata-mata menunjukkan kecanggihan teknologi. AIDA menjadi simbol bahwa kecerdasan buatan mampu berkembang melalui data yang diberikan manusia sendiri. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin akurat pula sistem memahami perilaku manusia.
Menariknya, Taufiqurohman tidak menggambarkan AIDA sebagai musuh yang harus dihancurkan. Yang dipersoalkan justru hubungan manusia dengan teknologi itu sendiri. Cerpen ini mengingatkan bahwa perkembangan AI bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar manusia tidak menyerahkan seluruh proses pengambilan keputusan kepada sistem.
Ketika Cerita Fiksi Menjadi Cermin Kehidupan Nyata
Kekuatan Klik yang Membunuh terletak pada kemampuannya menjadikan persoalan teknologi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Melalui keterpaduan tema, tokoh, konflik, latar, dan gaya bahasa, cerpen ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar teknologi bukanlah keberadaan algoritma, melainkan hilangnya kesadaran manusia terhadap cara algoritma bekerja.
Refleksi tersebut dipertegas melalui kalimat penutup yang berbunyi,
"Bukan iklan yang mengikuti mereka, tetapi mereka yang sedang diikuti, diukur, dan diuji."
Kalimat tersebut menjadi penegasan bahwa hubungan manusia dengan teknologi telah mengalami perubahan mendasar. Manusia tidak lagi sekadar memanfaatkan sistem digital, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang terus mengamati, mempelajari, dan memengaruhi perilakunya.
Pada akhirnya, Klik yang Membunuh tidak mengajak pembaca memusuhi teknologi. Cerpen ini justru mengingatkan bahwa kemajuan digital harus berjalan berdampingan dengan kesadaran kritis. Algoritma dapat membantu manusia mengambil keputusan secara lebih cepat, tetapi kemampuan untuk mempertanyakan, menilai, dan menentukan pilihan tetap merupakan tanggung jawab manusia.
Mungkin pertanyaan yang paling penting saat ini bukan lagi apakah algoritma semakin cerdas. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: ketika algoritma telah mengenal kita lebih baik daripada diri kita sendiri, masihkah kita benar-benar bebas menentukan pilihan hidup kita?
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Taufiqurohman. (2024). Klik yang Membunuh. Kompas.com.
