BERDIKARI Di Era Ketidakpastian Geopolitik

ASN di Setjen DPD RI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizkynta Jaya Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jika Kepentingan Amerika Terganggu: Seberapa Aman Indonesia?

Dalam politik global, selalu ada pertanyaan klasik: “apakah negara besar menjaga stabilitas dunia, atau mempertahankan dominasinya?” Nama yang hampir selalu muncul dalam diskusi ini adalah AS. Dengan kekuatan militer dan ekonomi yang sangat besar, kebijakan luar negeri AS selalu menarik perhatian negara lain, terutama ketika menyangkut kedaulatan negara lain.
Yang telah terjadi di Venezuela dan Iran menjadi contoh yang kerap dibicarakan. Di Venezuela, pemerintahan Presiden Nicolás Maduro menghadapi tuduhan serius dari AS terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan narkotika internasional. Ini diperparah dengan tindakan AS yang menyerang negara tersebut dan menangkap Presidennya.
Sementara itu, di Iran, ketegangan meningkat terutama pada masa Presiden Donald Trump, ketika AS menyerang Iran dengan tuduhan Iran melakukan pengembangan nuklir dan dukungan terhadap kelompok militan menjadi alasan utama tekanan tersebut.
Di satu sisi, AS menyatakan kebijakan itu demi keamanan global. Namun ini masih diperdebatkan apakah murni menjaga keamanan global atau menjaga kepentingan dan pengaruh negara, khususnya terkait dengan potensi sumber daya alam dan ekonomi negara-negara tersebut.
Lalu muncul pertanyaan di dalam negeri: bagaimana posisi Indonesia di tengah pusaran geopolitik ini?
Indonesia memiliki posisi penting secara geopolitik dan ekonomi. Menurut saya salah satu aset Indonesia yang menjadi penghubung dengan AS adalah tambang emas dan tembaga di Papua yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, anak perusahaan dari Freeport-McMoRan.
Langkah Indonesia meningkatkan kepemilikan saham nasional atas tambang tersebut dipandang sebagai penguatan kedaulatan ekonomi. Hingga saat ini, proses tersebut berjalan melalui jalur hukum dan negosiasi bisnis yang baik.
Namun dalam perspektif geopolitik global, sumber daya alam selalu memiliki dimensi strategis. Karena itu, kewaspadaan tetap relevan. Bukan dalam bentuk ketakutan, tetapi dalam bentuk penguatan posisi tawar nasional.
Indonesia sendiri menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Indonesia tidak memihak blok kekuatan tertentu, tetapi aktif dalam diplomasi internasional. Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace saat ini dipandang sebagai salah satu perwujudannya. Karena itu, menurut saya skenario intervensi langsung terhadap Indonesia sangat kecil kemungkinannya dalam kondisi saat ini. Indonesia adalah negara besar dengan stabilitas relatif kuat dan posisi penting di ASEAN. Namun rasanya itu bukan lagi jaminan. Kita saat ini dihadapkan dengan situasi Geopolitik yang sangat dinamis, pemimpin-pemimpin negara Adi Daya yang boleh jadi pemikirannya tidak bisa ditebak.
Dimasa depan bukan tidak mungkin AS merasa terganggu dengan upaya Indonesia untuk meningkatkan kepemilikan Saham di PT Freeport. Tindakan Indonesia mungkin saja dianggap mengurangi pengaruh mereka. Sebagai langkah konfrontasi, menurut saya bisa saja mereka akan mulai menebar isu ke dunia Internasional dengan tuduhan pelanggaran HAM telah terjadi. Seperti biasa hal ini dilakukan sebagai jalan masuk militer mereka kedalam kawasan. Cara ini pun sedang berlangsung di Iran, dimana Presiden AS meminta masyarakat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya sendiri.
Melihat kondisi saat ini dimana masyarakat meminta Presiden Prabowo agar Indonesia keluar dari Board of Peace, menjadikan Indonesia berada di posisi yang sulit. Bila “si Negara Adidaya” itu merasa terganggung bukan tidak mungkin dia mulai melirik kepentingannya di Indonesia yang bisa di intervensi. Perlu kita ingat AS Tidak Pernah Terlalu Jauh. Hubungan Indonesia dan AS bukanlah hubungan yang jauh secara geografis maupun strategis.
AS memiliki jaringan pangkalan militer global yang luas. Di kawasan Asia-Pasifik, kehadiran militernya sangat signifikan. Yang paling dekat dengan Indonesia misalnya ada di Jepang dan Korea Selatan. Artinya, secara militer, AS memang memiliki jangkauan cepat ke berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara. Namun penting dicatat: kehadiran militer tersebut adalah hasil perjanjian bilateral resmi dengan negara tuan rumah, bukan bentuk pendudukan sepihak.
Dunia saat ini memang terasa lebih tegang, tensi di berbagai Kawasan sangat tinggi. Konflik regional, perang proksi, sanksi ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar membuat situasi global tidak sepenuhnya stabil.
Namun kewaspadaan tidak sama dengan ketakutan.
Indonesia perlu:
• Memperkuat pertahanan nasional
• Menjaga kedaulatan ekonomi
• Memastikan stabilitas dalam negeri
• Memperluas diplomasi multilateral
Bukan untuk menghadapi ancaman tertentu secara langsung, tetapi untuk memastikan bahwa dalam dinamika global apa pun, Indonesia mampu Berdiri di Atas Kakinya Sendiri (BERDIKARI).
Hegemoni adalah bagian dari realitas politik internasional. Mungkin AS akan tetap menjadi pemain utama dalam percaturan global. Namun Indonesia bukan negara kecil tanpa daya tawar. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah Indonesia akan menjadi target berikutnya, melainkan:
Apakah kita cukup kuat secara internal untuk menghadapi dunia yang semakin kompetitif?
Karena dalam geopolitik modern, kekuatan terbesar bukan hanya militer—melainkan stabilitas, diplomasi, dan ketahanan nasional dalam negeri. Saya berharap apa pun yang terjadi di dalam situasi Geopolitik yang dinamis ini, Indonesia sudah siap BERDIKARI.
By: Rizkynta Ginting
ASN Setjen DPD RI
