Konten dari Pengguna

Literasi Tanggap Darurat, Pelajaran yang Terlambat Kita Sadari

Rizkynta Jaya Ginting

Rizkynta Jaya Ginting

ASN di Setjen DPD RI

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkynta Jaya Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image Source:Chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Image Source:Chat GPT

Kecelakaan lalu lintas yang terjadi dan diberitakan di berbagai media belakangan ini meninggalkan duka mendalam. Korban jiwa dan korban luka menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan raya masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun, di balik tragedi tersebut, ada fenomena lain yang tak kalah memprihatinkan: banyak orang yang berada di lokasi justru sibuk mengangkat telepon genggam untuk merekam peristiwa, sementara hanya sedikit yang terlihat berupaya memberikan pertolongan.

Fenomena ini sering kali memancing kemarahan publik. Masyarakat dengan mudah melabeli para perekam sebagai tidak memiliki empati. Namun, sebelum terburu-buru menghakimi, ada baiknya kita melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih utuh. Menurut saya ada tiga yang menjadi perhatian.

Pertama, sangat mungkin sebagian besar masyarakat memang tidak mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menyaksikan kecelakaan. Pengetahuan mengenai pertolongan pertama, cara mengamankan lokasi, hingga prosedur menghubungi layanan darurat belum menjadi keterampilan dasar yang dimiliki semua orang. Banyak dari kita tidak pernah memperoleh pendidikan tersebut, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika berhadapan dengan situasi darurat, masyarakat cenderung bingung dan memilih melakukan sesuatu yang paling mudah: merekam kejadian.

Kedua, tidak semua orang yang merekam memiliki niat buruk. Di era media sosial dan komunikasi digital, merekam lalu menyebarkan informasi bisa jadi dipandang sebagai cara tercepat agar kabar kecelakaan segera diketahui banyak orang, termasuk aparat kepolisian, tenaga medis, atau keluarga korban. Video yang beredar melalui grup WhatsApp atau media sosial terkadang memang membuat informasi menyebar dalam hitungan menit. Ada harapan bahwa bantuan akan datang lebih cepat karena semakin banyak orang mengetahui kejadian tersebut.

Namun, niat baik tersebut memiliki batas yang jelas. Ketika proses merekam berubah menjadi ajang mencari eksistensi di media sosial, mendapatkan perhatian, mengejar jumlah viewer, bahkan melakukan siaran langsung (live) demi memperoleh keuntungan dari hadiah digital atau popularitas, nilai kemanusiaan mulai tergeser. Pada titik itulah tragedi berubah menjadi komoditas, dan penderitaan orang lain diperlakukan sebagai konten.

Ketiga, tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya ingin membantu, tetapi takut menghadapi konsekuensi hukum atau khawatir justru memperparah kondisi korban karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Memindahkan korban kecelakaan dengan cara yang salah dapat memperburuk cedera, terutama jika terjadi cedera tulang belakang atau trauma serius. Ketidaktahuan inilah yang sering membuat orang memilih menjadi penonton daripada mengambil tindakan.

Tentu tidak menyamaratakan semua orang, ada orang-orang yang berempati dan siap mengambil risiko serta sigap menolong korban kecelakaan. Namun saya berharap jumlahnya masih dapat ditingkatkan. Persoalan ini menunjukkan bahwa yang kita hadapi bukan semata-mata krisis empati, melainkan juga krisis literasi tanggap darurat. Karena itu, menurut saya solusi yang diperlukan bukan hanya mengimbau masyarakat agar "lebih peduli", tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk bertindak secara benar.

Sudah saatnya pendidikan tanggap bencana dan tanggap kecelakaan diperkenalkan sejak bangku sekolah. Sehingga ilmu yang didapat diharapkan akan tertanam dalam kehidupan sehari-hari hingga dewasa. Siswa perlu dibekali keterampilan dasar seperti, menghubungi layanan darurat, melakukan pertolongan pertama sederhana, memahami tindakan yang tidak boleh dilakukan terhadap korban, serta menjaga etika dalam penggunaan media sosial ketika berhadapan dengan musibah.

Pendidikan semacam ini akan membentuk masyarakat yang tidak hanya memiliki rasa peduli, tetapi juga tahu bagaimana menolong secara aman dan bertanggung jawab. Lebih baik lagi jika di lingkungan masyarakat dilakukan pelatihan serupa, sehingga semua lapisan masyarakat memiliki kemampuan menghadapi kondisi darurat.

Kecelakaan memang tidak pernah dapat diprediksi. Namun, cara masyarakat meresponsnya dapat dipersiapkan. Ketika pengetahuan, empati, dan keberanian bertemu, telepon genggam tidak lagi menjadi alat untuk sekadar merekam tragedi, melainkan sarana membantu menghadirkan pertolongan. Dan pada akhirnya, itulah yang paling dibutuhkan oleh setiap korban kecelakaan: bukan menjadi tontonan, melainkan mendapatkan kesempatan untuk segera diselamatkan.