Konten dari Pengguna

Mengenal Metode Penafsiran Alquran

rizqinailulb

rizqinailulb

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rizqinailulb tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alquran merupakan mukjizat islam yang kekal dan selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Rasulullah menyampaikan Alquran kepada para Sahabatnya sehingga apabila mereka mengalami kesulitan dalam memahami suatu ayat, mereka bisa langsung menanyakannya kepada Rosulullah. Kemampuan setiap manusia dalam memahami lafadz dan ungkapan dalam Alquran tidaklah sama, meskipun penjelasannya sedemikian gamblang dan ayat-ayatnyapun jelas terperinci.

Sebagian kalangan manusia awam hanya dapat memahami makna yang zahir dan memahami pengertian ayatnya secara global. Sedangkan, kalangan cendekia dan terpelajar akan menyimpulkan pemahaman mereka dengan makna-makna yang menarik. Oleh karena itu, tidak heran jika Alquran mendapatkan perhatian besar dari siapapun yang mau mengkaji secara intensif, terutama dalam menafsirkan kata-kata yang asing, atau mengkaji susunan kalimatnya.

Tafsir secara bahasa berasal dari kata “al-fasr” yang berarti menjelaskan. Menurut istilah adalah ilmu yang membahas tentang cara pengungkapan lafaz-lafaz Alquran mengenai petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri maupun tersusun dengan sesuatu yang melengkapinya. Pertumbuhan dan perkembangan tafsir berjalan seiring berjalannya zaman, sehingga muncul beberapa fase penafsiran mulai dari masa Nabi dan Sahabat, tafsir pada masa Tabi’in, tafsir pada masa pembukuan, sampai muncul tokoh-tokoh yang menjadikan tafsir sebagai ilmu yang independen dan terpisah dari hadits. Mereka menafsirkan Alquran secara sistematis, tertib sesuai dengan susunan mushaf.

Diantara metode-metode penafsiran Alquran yang masyhur dikalangan masyarakat adalah metode tafsir bil ra’yi, bil ma’tsur, dan tafsir isy’ari. Tafsir bil ma’tsur adalah penafsiran yang bertumpu pada Al-Qur’an, hadits, atau perkataan sahabat dengan tujuan menjelaskan maksud Allah dalam kitabNya (Alquran). Seperti tafsir Ibnu Katsir karangan Al-Hafidz Imaduddin Ismail bin Amr ibnu Katsir Al-Qursyiy Ad-Dimasyqy. Tafsir bil ra’yi adalah penafsiran yang bertumpu pada ijtihad, namun tetap berpegang teguh pada perkataan Nabi dan para sahabatnya. Salah satu kitab yang menggunakan metode tafsir bil ra’yi adalah Tafsir Jalalain. Sedangkan, tafsir isy’ari adalah interpretasi Alquran yang merujuk pada hal-hal samar yang dapat diketahui oleh para ahli ilmu. Tafsir ini dapat diterima jika istinbat yang digunakan tidak bertentangan, serta didukung oleh bukti adanya kesahihan.

Ketiga metode tafsir tersebut sangat berhubungan erat meskipun terdapat beberapa perbedaan yang spesifik. Ketiganya tentu memiliki keistimewaan tersendiri. Demi sampainya tujuan kepada para pengkaji, para ulama memilih metode penafsiran Alquran sesuai dengan bidang keilmuan mereka.

Refrensi

Al-Qatthan, Manna’ Khalil. "Mabahist fi Ulum Alquran."

Dimyathi, Muhammad Afifuddin. "Mawaridul Bayan Fii Ulumil Qur’an".