Konten dari Pengguna

Oligarki dan Negara: Pertarungan Abadi antara Kekuasaan dan Etika Publik

Robaitulloh Salim MS
Wakil Sekertaris PC Ansor Banyuwangi, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Jember
4 Desember 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Oligarki dan Negara: Pertarungan Abadi antara Kekuasaan dan Etika Publik
Oligarki menggerus peran negara dan etika publik, menciptakan ketimpangan, serta melemahkan demokrasi. Reformasi institusi dan kontrol publik menjadi kunci perlawanan. #userstory
Robaitulloh Salim MS
Tulisan dari Robaitulloh Salim MS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar Ilustrasi: Negara terbelenggu kuasa oligarki gelap. Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi: Negara terbelenggu kuasa oligarki gelap. Sumber: Shutterstock

Bagaimana Oligarki Menggerus Etika Publik?

ADVERTISEMENT
Dalam diskursus filsafat politik, oligarki selalu menjadi peringatan tentang bagaimana kekuasaan dapat bergeser dari kepentingan umum ke kepentingan segelintir elite. Negara yang idealnya menjadi institusi penjaga kesejahteraan dan keadilan publik sering kali tergelincir ketika modal ekonomi mengambil alih ruang pengambilan keputusan.
ADVERTISEMENT
Plato jauh hari sudah mengingatkan bahwa ketika kekayaan menjadi standar utama dalam menentukan siapa yang berhak memimpin, negara telah berpindah dari orientasi moral ke orientasi material.
Aristoteles kemudian menguatkannya dengan menyebut oligarki sebagai bentuk pemerintahan yang menyimpang karena mengabaikan keadilan distributif. Artinya, sejak awal peradaban, filsafat politik sudah memberikan sinyal bahaya bahwa kekuasaan yang tunduk pada kapital tidak hanya menciptakan ketimpangan, tetapi juga merusak fondasi etika publik.

Pertarungan Sunyi antara Negara dan Oligarki

Ilustrasi Oligarki. Foto: Getty Images
Di era modern, oligarki tidak lagi hadir secara frontal. Ia bekerja di balik struktur ekonomi dan politik yang tampak legal dan bahkan rasional. Penguasaan sektor strategis oleh sedikit aktor ekonomi sering kali berdampak lebih kuat daripada jabatan formal pejabat negara. Melalui pendanaan politik, kontrol media, dan kemampuan membentuk opini publik, elite ekonomi dapat mengarahkan kebijakan tanpa harus duduk di kursi pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Gramsci menyebut fenomena ini sebagai hegemoni, yaitu dominasi yang tidak menggunakan paksaan, tetapi memengaruhi cara berpikir masyarakat, sehingga keputusan politik tampak seolah-olah untuk kepentingan bersama. Di balik wajah demokrasi, ada pertarungan sunyi tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan negara: apakah pemilih atau pemilik modal.

Menyoal Dominasi Elite dalam Ruang Publik

Salah satu dampak paling serius dari dominasi oligarki adalah hilangnya netralitas negara. Negara yang dipengaruhi oleh modal besar cenderung menyusun kebijakan publik berdasarkan kalkulasi keuntungan kelompok tertentu, bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat luas.
Ilustrasi kebijakan pemerintah. Foto: SsCreativeStudio/Shutterstock
Regulasi yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru dapat menjadi alat penguasaan. Proyek pembangunan yang diklaim demi kesejahteraan bersama sering kali lebih berfungsi memperlebar jarak antara yang berpunya dan yang tidak.
ADVERTISEMENT
Ketika demokrasi prosedural memungkinkan siapa saja menjadi pemimpin, realitas sosial justru menunjukkan bahwa hanya mereka yang memiliki sumber daya finansial signifikan yang bisa bersaing. Kondisi ini menciptakan lingkaran kekuasaan yang sulit ditembus, sehingga negara kehilangan sifat publiknya dan berubah menjadi institusi yang dikelola layaknya perusahaan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan.

Oligarki sebagai Ancaman Permanen bagi Kepentingan Umum

Krisis etika publik muncul ketika warga melihat negara lebih berpihak kepada pemilik modal daripada masyarakat. Kepercayaan publik merosot, partisipasi politik melemah, dan apatisme meningkat. Demokrasi yang idealnya menjadi ruang deliberasi justru tercekik oleh dominasi finansial.
Ilustrasi Demokrasi. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock
Namun, filsafat politik tidak berhenti hanya pada kritik. Ada peluang untuk mengatasi dominasi oligarki melalui penguatan transparansi, reformasi pendanaan politik, dan pengawasan publik yang ketat. Pendidikan politik yang kritis menjadi kunci karena demokrasi hanya bermakna ketika warga memahami dan menjaga haknya. Sebagaimana ditegaskan Hannah Arendt, demokrasi hidup melalui tindakan warga dalam ruang publik, bukan hanya melalui prosedur elektoral.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, negara harus kembali pada prinsip etika publik bahwa kekuasaan adalah amanah. Penguasa politik harus berani menempatkan moralitas di atas transaksi kekuasaan. Oligarki mungkin tidak dapat dihapus sepenuhnya, tetapi ruang geraknya dapat dipersempit melalui mekanisme institusional yang adil dan kesadaran kolektif warga. Pertarungan antara kekuasaan dan etika publik tidak akan pernah benar-benar selesai, tetapi negara dapat memilih berdiri di sisi kepentingan umum, bukan kepentingan minoritas elite.
Dengan demikian, masa depan negara ditentukan oleh pilihan moral dan politik kita bersama: apakah membiarkan oligarki mengatur arah kehidupan publik atau mengembalikan negara sebagai pelindung keadilan, kesejahteraan, dan martabat manusia.