Prabowo di APEC: Membangun Benteng Ekonomi Digital Indonesia

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Robaitulloh Salim MS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu Tak Terduga di Forum Dunia
Pidato Presiden Prabowo Subianto di forum APEC 2025 mengejutkan banyak pihak. Alih-alih berbicara soal perdagangan bebas atau investasi global, Prabowo memilih mengangkat topik yang jarang terdengar di panggung ekonomi dunia: judi online. Ia menyebut Indonesia kehilangan sekitar Rp133 triliun per tahun akibat aktivitas ilegal tersebut. Angka itu tidak hanya mencerminkan kerugian finansial, tapi juga kebocoran besar dalam sistem ekonomi digital yang terus tumbuh pesat.
Langkah ini dinilai berani. Di tengah euforia negara-negara membicarakan transformasi digital dan ekonomi masa depan, Prabowo justru mengingatkan dunia akan sisi gelapnya. Judi online, kata Prabowo, tidak hanya merugikan masyarakat secara sosial, tetapi juga menguras sumber daya ekonomi nasional. Dengan membawa isu ini ke forum APEC, Indonesia mengirim pesan penting: keamanan digital dan integritas ekonomi sama pentingnya dengan pertumbuhan digital itu sendiri.
Dari Pidato menuju Tindakan Konkret
Pernyataan Prabowo memberi sinyal arah baru kebijakan luar negeri Indonesia di bidang ekonomi digital. Ia tampak ingin menempatkan perlindungan ekonomi nasional dari ancaman digital sebagai prioritas utama. Namun, publik tentu menantikan tindak lanjut nyata dari pernyataan tersebut. Menyampaikan keprihatinan di forum global memang langkah awal yang kuat, tetapi implementasinya di dalam negeri akan menjadi ujian sebenarnya.
Judi online di Indonesia tumbuh subur karena dua faktor utama: lemahnya penegakan hukum dan rendahnya literasi digital masyarakat. Pemerintah perlu membangun sistem pemantauan keuangan digital yang lebih ketat dan bekerja sama dengan lembaga internasional untuk menutup akses transaksi ilegal lintas negara. Tidak kalah penting, edukasi publik harus diperluas. Banyak masyarakat yang terjebak dalam judi online bukan karena niat buruk, melainkan karena tekanan ekonomi dan minimnya pemahaman tentang risikonya.
Selain penegakan hukum, strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat juga perlu diperkuat. Masyarakat yang memiliki akses terhadap pekerjaan layak dan peluang ekonomi produktif akan lebih kebal terhadap godaan judi online. Dengan kata lain, pemberantasan judi online tidak hanya soal menutup situs, tetapi juga membuka lebih banyak pintu harapan ekonomi di dunia nyata.
Momentum Diplomasi Ekonomi Baru
Forum APEC dapat menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk memimpin kerja sama internasional di bidang keamanan digital. Sebagaimana kerja sama pajak digital dan perlindungan data, isu judi online pun membutuhkan pendekatan lintas batas. Prabowo bisa memanfaatkan pengaruhnya untuk mendorong terbentuknya task force antarnegara yang fokus menangani kejahatan ekonomi digital. Langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam tata kelola ekonomi digital kawasan Asia-Pasifik.
Dari sisi domestik, kebijakan ekonomi dan sosial harus saling melengkapi. Pemerintah dapat mengarahkan strategi pembangunan ekonomi digital ke arah yang lebih inklusif dan aman. Masyarakat perlu diberdayakan agar bukan hanya menjadi pengguna, melainkan juga pelaku ekonomi digital yang produktif. Keamanan digital harus berjalan seiring dengan inovasi bukan saling bertentangan.
Pidato Prabowo di APEC menjadi pengingat bahwa era digital membawa peluang sekaligus bahaya. Ketika uang dan data melintasi batas negara dalam hitungan detik, kedaulatan ekonomi menjadi hal yang rapuh tanpa perlindungan yang memadai. Indonesia kini memiliki kesempatan untuk tampil sebagai negara yang tidak hanya mengejar pertumbuhan digital, tetapi juga memimpin upaya menciptakan ekosistem digital yang aman, beretika, dan berkeadilan.
Jika langkah-langkah konkret benar-benar dijalankan, pidato Prabowo di APEC akan dikenang bukan sekadar sebagai peringatan, tetapi sebagai awal dari gerakan besar: membangun benteng ekonomi digital Indonesia.
