Konten dari Pengguna

Retorika Sumpah Pemuda dan Simbol Pemuda yang Kian Jauh dari Janjinya

Robaitulloh Salim MS

Robaitulloh Salim MS

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Jember

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robaitulloh Salim MS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan momentum lahirnya kesadaran nasional yang mempersatukan bangsa Indonesia. Tiga kalimat sederhana—bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu—menjadi ikrar sakral yang lahir dari keberanian dan kejernihan visi para pemuda kala itu.

Mereka tidak hanya berbicara tentang identitas, tetapi juga menegaskan arah perjuangan: melawan penjajahan dengan persatuan. Retorika yang digunakan dalam teks Sumpah Pemuda sangat kuat, singkat namun sarat makna. Ia bukan slogan kosong, melainkan seruan moral yang membakar semangat generasi muda untuk menyingkirkan kepentingan pribadi demi cita-cita bersama.

sekelompok pemuda berargumentasi ide dan gagasan. sumber: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
sekelompok pemuda berargumentasi ide dan gagasan. sumber: unsplash

Kekuatan Retorika dalam Sejarah

Retorika Sumpah Pemuda mengandung daya magis karena muncul dari konteks perjuangan yang nyata. Kata “sumpah” sendiri mengandung beban moral dan spiritual yang dalam—suatu janji yang tidak bisa diingkari tanpa mengkhianati diri dan bangsanya. Para pemuda 1928 menggunakan bahasa sebagai alat revolusi. Mereka sadar, bahwa bahasa Indonesia adalah jembatan yang bisa mempersatukan berbagai suku dan daerah yang sebelumnya terpisah.

Dengan retorika itu, mereka bukan hanya membentuk gagasan kebangsaan, tetapi juga membangun imajinasi kolektif tentang Indonesia yang merdeka dan setara. Retorika mereka hidup karena diucapkan dengan keyakinan dan diperjuangkan dengan pengorbanan.

Pemuda Kini: Antara Identitas dan Realitas

Sembilan puluh tujuh tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat yang dulu membara itu tampak mulai meredup di sebagian kalangan pemuda Indonesia. Simbol “pemuda” yang dahulu identik dengan idealisme, keberanian, dan pengorbanan kini sering kali disamakan dengan gaya hidup, tren media sosial, atau bahkan pencitraan semata.

Banyak anak muda lebih tertarik mengejar validasi digital ketimbang memperjuangkan gagasan. Ruang-ruang publik yang dulu menjadi ajang diskusi kebangsaan kini bergeser menjadi ruang kompetisi personal yang dangkal. Di sinilah jarak antara retorika Sumpah Pemuda dan kenyataan pemuda masa kini mulai terasa lebar.

Nasionalisme yang Menjadi Seremonial

Setiap tahun, peringatan Sumpah Pemuda dilakukan dengan upacara dan pidato yang megah. Namun sering kali, makna yang terkandung di dalamnya terjebak dalam formalitas. Retorika kebangsaan hanya menjadi ritual tahunan tanpa refleksi mendalam. Nasionalisme yang dulu dihidupi melalui tindakan kini lebih banyak dijadikan narasi simbolik.

Padahal, tantangan bangsa saat ini tidak kalah berat dibanding masa penjajahan: ketimpangan sosial, degradasi moral, korupsi, dan polarisasi digital. Ketika pemuda hanya menjadi penonton dan tidak lagi merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap bangsa, maka semangat persatuan yang dulu dibangun bisa terkikis perlahan.

Krisis Identitas dan Keberpihakan

Generasi muda kini dihadapkan pada dilema identitas. Di satu sisi, mereka hidup dalam dunia global yang menuntut keterbukaan dan adaptasi; di sisi lain, mereka sering kehilangan arah terhadap akar budaya dan sejarah bangsanya. Ketika nilai-nilai lokal mulai ditinggalkan demi modernitas semu, muncul kekosongan makna dalam kehidupan sosial.

Banyak pemuda yang pintar, berprestasi, dan melek teknologi, namun tidak lagi memiliki kepekaan sosial dan kesadaran kebangsaan. Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak berarti melupakan jati diri. Persatuan yang sejati bukanlah penyeragaman, tetapi kesediaan untuk bekerja sama di tengah perbedaan.

Menemukan Kembali Makna Sumpah

Meski demikian, harapan tidak sepenuhnya hilang. Di berbagai penjuru negeri, masih banyak pemuda yang berjuang untuk perubahan—melalui inovasi, gerakan sosial, aktivisme lingkungan, atau kewirausahaan yang berpihak pada masyarakat. Mereka inilah wujud nyata dari semangat Sumpah Pemuda dalam konteks baru.

Hanya saja, perjuangan hari ini tidak lagi berbentuk perang fisik, melainkan perjuangan ide, integritas, dan konsistensi moral. Tugas pemuda masa kini adalah menafsirkan ulang makna “bersatu” di tengah disrupsi digital dan derasnya arus informasi.

Janji yang Perlu Dihidupkan Kembali

Sumpah Pemuda bukanlah dokumen mati. Ia adalah janji yang seharusnya terus hidup dalam perilaku, etika, dan komitmen generasi muda terhadap bangsa. Pemuda hari ini perlu belajar kembali bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil: kesediaan untuk mendengar, memahami, dan bekerja bersama.

Retorika Sumpah Pemuda hanya akan bermakna jika dihidupkan kembali dalam tindakan nyata. Di tengah zaman yang serba cepat dan terpecah, pemuda Indonesia perlu menyalakan kembali api persatuan—bukan sebagai romantisme sejarah, tetapi sebagai arah moral untuk masa depan bangsa.