Konten dari Pengguna

Football is Coming Home, tapi Sepatunya Hilang

Robby Effendi

Robby Effendi

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Medan Area, Medan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robby Effendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh generatif AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh generatif AI

Piala Dunia selalu dimulai dengan hal-hal besar: prediksi, tekanan, ambisi, dan harapan sebuah negara. Namun Piala Dunia 2026 justru memberi Inggris pembukaan yang aneh. Perlengkapan tim mereka dilaporkan hilang dalam perjalanan menuju Kansas City. Beberapa sepatu pemain, bola latihan, hingga alat-alat tim raib sebelum sesi latihan pertama dimulai.

Di media sosial, berita itu langsung berubah menjadi bahan lelucon. “Belum main sudah kena musibah.” Kalimat itu terdengar lucu, tetapi justru di situlah sepak bola bekerja. Ia selalu punya cara membuat hal kecil terasa dramatis, apalagi ketika yang mengalaminya adalah Inggris, negara yang selama puluhan tahun hidup bersama kalimat “football is coming home.”

Kalimat itu romantis, tetapi sekaligus terasa seperti kutukan. Sejak juara dunia tahun 1966, Inggris terus datang ke turnamen besar dengan generasi emas, pelatih hebat, dan ekspektasi tinggi, tetapi sering pulang membawa kekecewaan. Kadang kalah penalti, kadang gugur tragis, kadang dihancurkan oleh tekanan mereka sendiri.

Mungkin karena itu, kabar kehilangan sepatu Harry Kane dan Jude Bellingham terasa seperti metafora kecil tentang nasib sepak bola Inggris: selalu ada sesuatu yang tidak berjalan sempurna. Namun justru di tengah kekacauan kecil itu, optimisme Inggris tidak benar-benar mati.

Wayne Rooney bahkan memprediksi Inggris akan mencapai final Piala Dunia 2026 dan menghadapi Spanyol di partai puncak. Ia berharap Harry Kane menjadi top skor turnamen. Prediksi itu terdengar berani, tetapi tidak sepenuhnya mustahil.

Inggris hari ini memang berbeda. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan romantisme masa lalu. Mereka punya kombinasi generasi yang matang: Harry Kane yang lebih dewasa, Bellingham yang tenang, Bukayo Saka yang semakin matang, dan Thomas Tuchel yang datang dengan disiplin khas Jerman. Di atas kertas, ini mungkin salah satu skuad Inggris paling stabil dalam dua dekade terakhir.

Sementara itu, Spanyol datang dengan energi yang berbeda: lebih muda, lebih cair, dan lebih tenang memainkan bola. Jika final Inggris vs Spanyol benar-benar terjadi, dunia mungkin akan melihat dua cara berbeda memahami sepak bola modern: Inggris dengan intensitas dan emosinya, Spanyol dengan kontrol dan ketenangannya.

Tetapi sebelum semua prediksi itu terjadi, ada satu hal yang menarik: perjalanan menuju juara dunia ternyata tidak selalu dimulai dengan kemenangan besar. Kadang dimulai dari koper yang hilang, ruang ganti yang panik, dan staf tim yang mendata barang satu per satu sambil berpacu dengan waktu.

Dan mungkin justru itu yang membuat Piala Dunia selalu terasa manusiawi. Karena di balik jutaan dolar, stadion megah, dan sorotan global, sepak bola tetap dipenuhi hal-hal sederhana: sepatu, keringat, kecemasan, dan harapan kecil bahwa besok akan berjalan lebih baik.

Inggris mungkin belum memainkan satu pertandingan pun. Tetapi seperti biasa, mereka sudah memainkan dramanya lebih dulu.