Konten dari Pengguna

Self-Healing ala Al-Qur’an: Panduan Spiritualitas untuk Kesehatan Mental

Muhammad Rufait Balya

Muhammad Rufait Balya

Lulusan Ma'had Aly Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, serta author disalah satu website keislaman ternama Indonesia

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rufait Balya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi self healing dengan membaca Al-Qur'an. (Foto: iStock).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi self healing dengan membaca Al-Qur'an. (Foto: iStock).

Kesehatan mental bukan cuma urusan psikolog atau rumah sakit. Dalam Islam, jiwa yang tenang dan pikiran yang sehat juga bagian dari keimanan. Nah, menariknya, Al-Qur’an ternyata menyimpan banyak "obat jiwa" yang bisa bantu kita menghadapi stres, overthinking, bahkan depresi sekalipun. Yuk, kita bahas bareng-bareng bagaimana ayat-ayat suci Al-Qur’an bisa jadi pelipur hati dan penguat mental!

1. Hati Tenang dengan Zikir

Seseorang yang mengalami gangguan mental umumnya sulit merasa tenang dalam menjalani hidup sehari-hari. Pikiran yang terus-menerus dipenuhi kekhawatiran dan masalah dapat memicu stres berkepanjangan, bahkan berujung pada kondisi serius seperti depresi.

Untuk mencegah hal tersebut, Islam menganjurkan agar kita mengelola pikiran dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya melalui zikir. Karena berzikir bukan hanya ibadah, tetapi juga menjadi sumber ketenangan batin. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya:“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Ayat ini cukup populer, kan? Tapi bukan cuma sekadar kutipan indah akan tetapi juga memiliki makna yang dalam banget. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa hati orang beriman jadi tenang karena mereka percaya sepenuhnya kepada Allah. Mereka sadar, segala urusan hidup ini pada akhirnya dikendalikan oleh-Nya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, [Riyadh, Dar Thayyibah lin Nasyri wa Tauzi’: 1999 M/ 1420 H], juz 4, halaman 455).

Sementara Imam Al-Qurthubi bilang bahwasannya zikir itu seperti pelukan hangat buat hati yang sedang gundah. Dia menulis, “Zikir adalah penghibur hati dan obat bagi kegundahan.” Jadi, kalau kamu lagi gelisah, coba deh duduk tenang dan berdzikir. Itu bukan cuma ibadah, tapi juga terapi psikis.

2. Sabar dan Shalat: Kombinasi Penguat Mental

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Insyirah [2]: 153).

Dua hal ini sering kita dengar, tapi seberapa sering kita benar-benar mengamalkannya ketika mental down? Al-Tabari menjelaskan bahwa sabar saat menghadapi musibah dan menguatkan diri lewat shalat adalah kunci ketahanan jiwa. Shalat itu seperti charging buat hati yang mulai lelah. Gak heran Nabi Muhammad SAW menjadikan shalat sebagai pelipur lara beliau.

Syekh Nawawi Banten (wafat 1316 H) menjelaskan maksud dari ayat “yâ ayyuhalladzîna âmanusta‘înû”, wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan untuk membersihkan dosa”. Kemudian disusul dengan penjelasan ayat “bish-shabri”. Syekh Nawawi berkata: “Dengan sabar dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban-Nya dan meninggalkan bermaksiat kepada-Nya serta ketika ditimpakan ujian-Nya”. Sedangkan makna lafal “wash-shalâh”, maksudnya ialah dengan memperbanyak shalat sunnah di malam dan siang hari. (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsirul Munir li Ma’alimit Tanzil, juz I, halaman 36).

3. Harapan Selalu Ada: Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan

Dalam Al-Qur’an secara tegas disampaikan, bahwa setelah kesusahan akan datang kelapangan dari Allah swt. 

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ  

Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6).

Imam Al-Qurtubi menyebutkan bahwa pengulangan ini adalah bentuk penegasan: satu kesulitan pasti disertai dua kemudahan. Jadi, saat kamu merasa stuck, ingat—Allah sudah siapkan jalan keluar bahkan sebelum masalah itu selesai.

 

Sedangkan, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, menjelaskan bahwa Allah swt mengabarkan, sesungguhnya setelah kesusahan akan datang kemudahaan. Kemudian menegaskan kabar tersebut dengan ayat ini.

Ia juga menyampaikan sebuah hadits Nabi saw yang menjelaskan makna ayat di atas, bahwa Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur‘ah, dari Mahmud bin Ghaylān, dari Humayd bin Hammad bin Khawwar Abu al-Jahm, dari ‘Aid bin Shurayh Ia berkata: Aku mendengar Anas bin Mālik berkata: “Nabi ﷺ sedang duduk, dan di hadapannya ada sebuah batu. Maka beliau bersabda:

‘Seandainya kesulitan masuk ke dalam batu ini, niscaya kemudahan akan datang menyusulnya hingga mengeluarkannya.’ Lalu Allah menurunkan ayat:

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, [Riyadh, Dar Thayyibah lin Nasyri wa Tauzi’: 1999 M/ 1420 H], juz 8, halaman 431).

4. Doa: Curhat Tertinggi kepada Allah

Doa merupakan perisai bagi orang mukmin, perisai dari luka lahir maupun batin, juga bentuk menghambaan kita sebagai makhluk kepada Allah sang pencipta, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَۚ

Artinya: "(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya' [21]: 83).

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَۚ

Artinya: "Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami)." (QS. Al-Anbiya' [21]: 84).

Dari kisah Nabi Ayyub AS di atas, menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan bukan hanya sebuah curhatan yang penuh keluh kesah, akan tetapi kepasrahan diri dan bentuk tawakkal kepada Allah, hingga akhirnya doa Nabi Ayyub itu dikabulkan oleh Allah.

Doa ini luar biasa. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ayyub mengadu bukan untuk mengeluh, tapi sebagai bentuk kepasrahan yang lembut dan penuh adab. Doa ini jadi contoh bahwa curhat kepada Allah bisa jadi cara terbaik untuk meredakan luka batin dan rasa sakit. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, [Riyadh, Dar Thayyibah lin Nasyri wa Tauzi’: 1999 M/ 1420 H], juz 5, halaman 359).

Jadi, Apa Intinya? Al-Qur’an bukan cuma panduan hidup, tapi juga punya formula spiritual untuk menjaga dan memulihkan kesehatan mental. Seperti halnya zikir dapat menenangkan hati, shalat dan sabar bisa memperkuat, doa itu menyembuhkan, dan keyakinan kepada Allah memberi harapan.

Semua ini bukan sekadar teori. Tafsir dari ulama besar seperti Ibn Katsir, Al-Qurthubi, Al-Tabari, dan Imam Nawawi menegaskan bahwa spiritualitas dalam Islam punya efek nyata buat kesehatan jiwa. Jadi, kalau kamu sedang merasa down, jangan ragu buat mendekat kepada Al-Qur’an. Bisa jadi, ketenangan yang kamu cari selama ini, justru ada di dalam ayat-ayat-Nya. Wallahu a'lam