Konten dari Pengguna

Hasrat Red Bull Kuasai Sepakbola Dunia

Robert Patrick

Robert Patrick

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robert Patrick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Red Bull Wallpaper (Foto: more-sky.com)
zoom-in-whitePerbesar
Red Bull Wallpaper (Foto: more-sky.com)

Nama minuman berenergi Red Bull tentu sudah tak asing di telinga para penggiat olahraga.

Dietrich Mateschitz pebisnis asal Austria beserta koleganya asal Thailand Chaleo Yoovidhya menemukan produk minuman ini pada tahun 1984. Namun kita sebagai penikmat olahraga pasti lebih sering melihat logo dua banteng ini pada olahraga ekstrim seperti Formula 1, balap motor, snowboarding hingga penerjun bebas.

Siapa sangka bisnis Red Bull berkembang luas dan sampai kepada ranah sepakbola sejak tahun 2005 lalu.

Dietrich Mateschitz (Foto: europeanceo.com)
zoom-in-whitePerbesar
Dietrich Mateschitz (Foto: europeanceo.com)

Pada tahun 2005, Red Bull membeli semua kepemilikan pada tiga kali juara Austria yakni SV Austria Salzburg dan mengubah namanya menjadi FC Red Bull Salzburg. Dalam kurun waktu lima tahun Red Bull sudah mengakuisisi empat klub sepakbola yaitu masing-masing di Amerika Serikat, Jerman, Brasil hingga Ghana.

Pembelian klub sepakbola memang bukan mainan baru bagi konglomerat dewasa ini, namun pendekatan yang dilakukan Red Bull dengan perusahaan lain sangat berbeda.

Sebagai contoh, konsorsium asal Jerman seperti Bayer AG dan Volkswagen memiliki unit kegiatan lain yaitu sepakbola yang diperuntukan untuk para karyawan mereka sejak pabrik mereka berdiri.

Seiring waktu berjalan mereka pun terjun ke dunia sepakbola profesional dalam diri Bayer Leverkusen dan juga VFL Wolfsburg. Contoh lain ada pada klub asal Belanda PSV Eindhoven yang merupakan klub sepakbola dari perusahaan elektronik Philips.

Red Bull melihat klub yang mereka pilih sebagai pintu gerbang ke dunia sepakbola. SV Austria Salzburg, misalnya, memiliki kesuksesan dalam 53 tahun sejarah klub mereka baik di domestik maupun di Eropa.

Dengan klub sedang menderita kesulitan keuangan kala itu, Red Bull melihat kesempatan itu, dan pada musim semi tahun 2005 membeli klub tersebut.

Dengan kepemilikan klub di bawah dana besar mereka, Red Bull melanjutkan untuk benar-benar merombak klub dari atas ke bawah dengan pemilik Red Bull langsung Dietrich Mateschitz bahkan sempat mengatakan: “ini adalah klub baru yang tidak memiliki riwayat sejarah.” Hal ini sempat menjadi pergunjingan para suporter mereka.

Warna khas ungu milik Austria Salzburg pun diganti dengan warna merah dan putih dengan logo dua banteng milik Red Bull.

Hal yang sama juga dilakukan Redl Bull ketika membeli klub asal Jerman SSV Markranstädt dan juga Metro Stars asal Amerika Serikat. Dua klub itu diubah nama menjadi New York Red Bull dan RB Leipzig.

SSV Markranstädt masih bermain di kasta kelima sepakbola Jerman kala itu dan pada musim 2015/16 ini sudah berada di Bundesliga 2. Di musim 2016/17 Red Bull Leipzig sudah berada di Bundesliga untuk bersaing dengan klub top seperti Bayern Muenchen dan juga Borussia Dortmund.

Red Bull Salzburg (Foto: Footyheadline.com)
zoom-in-whitePerbesar
Red Bull Salzburg (Foto: Footyheadline.com)

Tak ada keraguan lagi bahwa semua itu bertujuan pada orientasi bisnis di olahraga. Tidak ada yang meragukan keberhasilan Red Bull, baik dengan empat kali promosi, empat gelar Bundesliga Austria dan gelar Wilayah Timur MLS dengan nama mereka pada kurun waktu delapan tahun saja.

Sulit untuk berdebat dan mengarahkan kritik kepada Red Bull, namun demikian apa yang telah mereka lakukan sejauh ini dan dalam waktu yang cukup singkat mulai mendapat perhatian banyak pihak.

Memiliki sebuah klub sepak bola adalah prospek yang cerah dan menarik, dan menakutkan juga pada porsi yang sama. Ambisi Red Bull dan investasi keuangan mereka membuat kita terkesan, terutama mengingat catatan sukses mereka sejauh ini.

Red Bull pun sudah memiliki dua klub yang kurang dikenal, Red Bull Brasil dan Red Bull Ghana, mungkin dua klub itu adalah permata tersembunyi di antara portofolio mereka di sebuah klub sepakbola.

Tahun 2007 Red Bull membeli sebuah tim amatir dari Brasil yang bermarkas di kota Campinas, São Paulo, dan saat ini sudah merangsek bermain di Campeonato Brasileiro Série D.

Tangan kanan Mateschitz dalam ekspansi Red Bull ke dunia sepakbola adalah Oliver Mintzlaff, seorang mantan atlit lari profesional asal Jerman. Klub Austria lain FC Liefering juga dimiliki oleh Red Bull dan menjadi klub feeder dari RB Salzburg. Parma (Italia), Leeds United hingga FC Twente (Belanda) sempat didekati Red Bull untuk diakusisi namun semua itu mentah karena terbentur masalah regulasi dan juga penolakan dari para suporter.