Konten dari Pengguna

BEV Pemerintah dan HEV Toyota: Ketika Negara dan Korporasi Berbeda Pandangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robi Salman Alfarisi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi Cover Utama.                                                                                                                                                                                                                                     Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Cover Utama. Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.

Dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah Indonesia terus mendorong penggunaan, pengembangan, dan produksi kendaraan listrik berbasis baterai /BEV (Battery Electric Vehicle). Tujuan tersebut bukan hanya wacana semata, melainkan dibuktikan melalui berbagai dukungan biaya administratif perpajakan kendaraan yang dibuat lebih mudah untuk kendaraan listrik berjenis BEV. Sebagaimana yang diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 perihal percepatan program kendaraan listrik berbasis baterai, setidaknya terdapat tiga dukungan biaya perpajakan yang ditawarkan oleh pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut.

Pertama, kendaraan listrik berjenis BEV dibebaskan dari Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga 0%. Kedua, pemilik kendaraan listrik berjenis BEV mendapatkan keringanan atau pembebasan dari pembayaran Pajak Kendaraan Tahunan (PKB) dan biaya administratif untuk urusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang mana juga disesuaikan dengan aturan pemerintahan daerah setempat. Ketiga, intensif perpajakan yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan yang berinvestasi di bidang kendaraan listrik, khususnya yang berjenis BEV.

Dengan berbagai kemudahan tersebut, ini bisa menjadi sebuah angin segar bagi pertumbuhan basis produksi dan pasar konsumen untuk kendaraan listrik, khususnya yang berjenis BEV di Indonesia. Selain itu juga, pola yang diberikan oleh pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 menunjukkan tujuan jangka panjang mereka dalam menjadikan Indonesia sebagai pasar yang strategis untuk industri kendaraan listrik berjenis BEV. Apalagi, kemudahan biaya perpajakan yang diberikan juga diiringi dengan kelimpahan ketersediaan bahan baku dalam produksi kendaraan listrik berupa Nikel, Kobalt, Mangan, Tembaga, Aluminium/Bauksit, hingga Besi dan Baja.

Meskipun kondisi Indonesia saat ini sangatlah menguntungkan dalam hal produksi kendaraan listrik berjenis BEV dari sisi kemudahan biaya administratif perpajakan dan ketersediaan bahan baku, nyatanya tidak semua perusahaan otomotif sejalan dalam merespon kondisi tersebut secara langsung. Toyota, salah satu perusahaan otomotif asal Jepang ini justru mengambil jalan yang agak berbeda dibandingkan pemerintah dalam pemercepatan produksi kendaraan listrik berjenis BEV. Alih-alih memfokuskan lini pengembangan dan produksi untuk kendaraan listrik berjenis BEV, Toyota justru terkesan masih nyaman dengan produk kendaraan listrik berjenis Hybrid/HEV (Hybrid Electric Vehicle) milik mereka.

Gambar Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, dan Yaris Cross Hybrid. Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.

Berdasarkan data penjualan kendaraan listrik berjenis HEV yang diambil melalui website resmi Astra Toyota, tercatat sebanyak 57.311 unit telah terjual selama rentang waktu Januari hingga November di tahun 2025 yang lalu. Sebuah angka penjualan begitu baik yang juga menunjukkan seberapa besar dominasi Toyota dalam lini produksi dan penjualan kendaraan listrik berjenis HEV. Beberapa nama dari produk kendaraan Toyota seperti Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, maupun Yaris Cross Hybrid, mungkin dapat menjadi beberapa contoh familiar dari kendaraan listrik berjenis HEV milik Toyota yang sering kita lihat maupun dengar di kehidupan sehari-hari.

Kendati demikian, bukan berarti Toyota tidak mengembangkan kendaraan listrik berjenis BEV mereka sendiri. Di ajang acara GIIAS yang digelar pada tahun 2025 yang lalu, untuk pertama kalinya Toyota memperkenalkan series kendaraan listrik BEV mereka yang diberi nama Toyota bZ4X. Ini merupakan kendaraan listrik berjenis BEV pertama Toyota yang mulai diproduksi dan dijual secara lokal di Indonesia sejak awal tahun 2026 dengan harga jual yang dimulai pada rentang 799 Juta untuk wilayah OTR Jakarta.

Gambar Toyota bZ4X di ajang pameran GIIAS pada tahun 2025 yang lalu. Gambar ini diambil oleh saudara Aditya Wisnu yang tertera di dalam sebuah artikel berita yang diterbitkan dan dimiliki oleh media berita Kompas dengan judul Toyota New bZ4X Meluncur di GIIAS 2025, Siap Diproduksi Lokal.

Antara Pabrikan Otomotif Tiongkok dan Jepang dalam Merespon Kemudahan Produksi Kendaraan Listrik Berjenis BEV di Indonesia

Kalau kita lihat, rasanya perlu waktu yang tidak sebentar bagi Toyota untuk masuk ke dalam sektor produksi kendaraan listrik berjenis BEV. Hal yang sebenarnya cukup mengganjal apabila kita juga melihat pada berbagai kemudahan yang sebenarnya telah ditawarkan oleh pemerintah sejak beberapa tahun terakhir. Lebih jauh lagi, apabila kita membandingkan dengan pabrikan otomotif Wuling asal Tiongkok, justru mereka sudah lebih dulu memproduksi kendaraan berjenis BEV di Indonesia sejak tahun 2022 dengan lokasi pabrik yang beralokasi di Cikarang Jawa Barat.

Gambar Wuling Air Ev sebagai kendaraan listrik berjenis BEV yang diproduksi oleh perusahaan Wuling asal Tiongkok sejak tahun 2022. Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.

Berdasarkan fakta tersebut, Wuling sebenarnya lebih cepat tiga hingga empat tahun ketimbang Toyota dalam lini pengembangan dan produksi kendaraan listrik berjenis BEV. Maka timbullah sebuah pertanyaan di dalam benak kita semua, apa yang membuat Toyota terkesan tidak serius atau bahkan lambat di dalam lini pengembangan dan produksi kendaraan listrik berjenis BEV di Indonesia? Untuk menjawab hal tersebut, artikel ini akan menguraikan sudut pandang dari kedua pihak terkait antara pemerintah Indonesia dan Toyota dalam menyikapi kendaraan berjenis BEV.

Ambisi Pemerintah Indonesia dalam Pengembangan Industri BEV (Battery Electric Vehicle)

Ketika berbicara mengenai alasan di balik pemercepatan pengembangan dan produksi kendaraan listrik berjenis BEV di Indonesia, terdapat tiga faktor strategis yang secara garis besarnya cukup mewakili kepentingan dari pemerintah Indonesia saat ini.

1. Mengurangi Ketergantungan Terhadap Impor BBM

Pada sektor energi di dalam negeri, Indonesia masih belum mandiri secara penuh. Untuk ketersediaan berbagai jenis bahan bakar kendaraan, negara ini masih harus melakukan impor bahan bakar dari luar. Data yang dikutip melalui Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan angka volume impor minyak bumi Indonesia selama rentang tahun 2017 hingga 2024 berada di kisaran 40.000 hingga 50.000 Ton per tahunnya. Hal ini dapat menjadi sebuah masalah ketika rantai pasok global terganggu dan pengiriman dari luar pun menjadi tertunda. Akibatnya, banyak dari kendaraan bermesin konvensional tidak dapat beroperasi di tengah kelangkaan atau bahkan ketiadaan bahan bakar.

2. Mengurangi Volume Emisi Lingkungan

Ketika berbicara mengenai mesin konvensional, entah apakah itu bensin maupun diesel, hal yang tidak bisa dipisahkan merupakan polusi dan emisi CO2 yang tercipta dari pembakaraan mesin tersebut. Kementrian ESDM (2024) sendiri menyebutkan setidaknya dari 11 juta kendaraan yang mengaspal di Indonesia telah menjadi penyebab dari terbentuknya 85 juta ton emisi CO2, dengan ketentuan 50 juta emisi dihasilkan oleh Truk dan 35 juta sisanya merupakan gabungan dari berbagai jenis kendaraan. Angka tersebut bukan hanya menampilkan volume emisi yang begitu tinggi, tetapi juga seberapa besar dampak yang dihasilkan olehnya terhadap kesehatan lingkungan.

3. Hilirisasi dan Modernisasi Industri di Sektor Otomotif dan Energi

Bagian terpenting dari semuanya adalah hilirisasi dan modernisasi industri. Sejak lama Indonesia hanya mengekspor berbagai mineral bumi hasil tambang ke negara-negara luar secara mentah. Akibatnya, harga jual yang didapat tidaklah seberapa apabila jika diolah menjadi barang jadi. Bisa kita pahami bahwa ketersediaan berbagai bahan baku untuk pembuatan kendaraan listrik ingin dimanfaatkan oleh pemerintah sebaik mungkin guna menciptakan industri dalam negeri yang mandiri. Yang pada giliran selanjutnya, lapangan pekerjaan akan tercipta, impor kendaraan dari luar diharapkan berkurang, penggunaan berbagai produk lokal meningkat, hingga terciptanya sistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Bukan hanya itu saja, pemerintah juga mendorong untuk melakukan reformasi pada industri energi negara dengan berupaya menciptakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Jadi, bukan hanya kendaraannya saja yang bebas emisi, namun sumber listrik yang menjadi bahan bakarnya pun harus juga bebas emisi. Hal ini selaras sebagaimana yang diucapkan oleh Presiden Indonesia saat ini Prabowo Subinato, dimana dalam salah satu sesi wawancara bersama para pakar di bidangnya beliau mengatakan.

'Saya ingin listriknya itu dari matahari. Kenapa? Kalau kita mau pakai mobil berbahan bakar combustion engine, mobil bensin atau solar, kita tetap bergantung pada impor,"

Gambar Presiden Prabowo Subianto saat berdiskusi dengan jurnalis dan ekonom. Gambar ini diambil dari media berita Metro TV News dengan judul artikel Prabowo Mau Mobil hingga Motor Full Listrik, Tenaganya dari Matahari.

Alasan Toyota Berbeda Pandangan dengan Pemerintah Indonesia Perihal BEV

Tidak seperti pemerintah Indonesia yang cenderung bermain agresif dalam mendorong percepatan industri kendaraan listrik berjenis BEV, Toyota justru terlihat mengambil langkah yang lebih halus dan bertahap dalam menyikapi perkembangan tersebut. Untuk melihat hal ini lebih jauh, artikel ini akan menguraikan tiga alasan utama yang boleh jadi dapat menjelaskan mengapa Toyota tidak seagresif pemerintah Indonesia dalam mendorong industrialisasi kendaraan listrik berjenis BEV. Perlu digarisbawahi bahwa ketiga alasan tersebut merupakan hasil analisis pribadi penulis dan tidak mewakili suara, sikap, maupun pernyataan resmi dari pihak Toyota.

1. Perbedaan Kesiapan Infrastruktur di Tiap Wilayah Indonesia

Kendaraan listrik berjenis BEV memang terkesan menggunakan mesin motor listrik 100% ketimbang jenis HEV yang masih mencampurkan penggunaan mesin konvensional. Akan tetapi, justru di situ letak masalahnya berada. Karena menggunakan motor listrik secara 100%, kendaraan listrik berjenis BEV mengisyaratkan adanya penggunaan baterai guna menyimpan daya listrik di kendaraan. Masalah menjadi muncul ketika baterai tersebut harus diisi ulang setiap kendaraan dipakai dalam jarak tertentu.

Gambar ilustrasi stasiun pengisian baterai bagi kendaraan listrik berjenis BEV. Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.

Sebenarnya, bagian mengisi ulang baterai bukanlah masalah bagi mobil listrik berjenis BEV, akan tetapi ketersediaan infrastruktur stasiun pengisian ulang baterai yang masih belum merata di banyak wilayah Indonesia. Di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, tentulah tidak begitu sulit untuk menemukan fasilitas pengisian listrik untuk mobil berjenis BEV. Hal tersebut akan lain ceritanya jikalau melihat pada daerah-daerah plosok. Jangankan memikirkan stasiun pengisian listrik untuk baterai mobil, di beberapa daerah tertinggal pun kadang kebutuhan listrik dasar masih belum merata.

2. Lebih Fleksibel Terhadap Berbagai Jenis Pasar Konsumen

Selain masalah infrastruktur yang belum merata, Toyota juga sebenarnya masih memikirkan kesiapan konsumen mereka. Bagi beberapa jenis konsumen, kendaraa listrik dinilai belum begitu cocok dengan kondisi dan gaya hidup mereka. Beberapa faktor seperti harga kendaraan listrik yang lebih mahal, jarak tempuh yang lebih terbatas menyesuaikan dengan kapasitas baterai, waktu pengisian baterai yang begitu lama, serta masalah infrastruktur pengisian sebelumnya, masih menjadi polemik tersendiri bagi beberapa kalangan konsumen. Kalaupun memakai opsi stasiun pengisian baterai pribadi di rumah, agaknya tidak semua masyarakat memiliki rumah yang siap dipasangi infrastruktur pengisian baterai pribadi.

Gambar ilustrasi dari mekanisme kerja mesin kendaraan listrik berjenis HEV. Gambar ini dibuat dengan menggunakan proses generating yang dilakukan oleh Chat GPT pada tanggal 06 Oktober 2026.

Itulah sebabnya, alih-alih melakukan peralihan secara langsung menuju kendaraan yang 100% listrik, kenapa tidak menciptakan solusi pertengahan? kurang lebih mungkin begitu yang ada di dalam fikiran para petinggi Toyota di Indonesia. Sebuah kendaraan yang bisa diisi dengan bahan bakar minyak, namun memiliki efisiensi energi yang lebih baik ketimbang kendaraan bermesin konvensional. Untuk mereka yang tinggal di daerah plosok tanpa infrastruktur pengisian baterai yang memadai, kendaraan berjenis HEV masih bisa diisi dengan bahan bakar pada umumnya. Sementara untuk masyarakat perkotaan yang mengejar emisi gas buang yang lebih rendah dan kehematan dalam berkendara, HEV juga masih menjadi solusi karena dibantu oleh motor listrik dalam menjalankan kendaraan.

3. Jaringan Global Industri HEV yang Sudah Terbentuk Sejak Lama

Alasan terakhir merupakan rantai pasok industri yang sudah lama terbentuk. Jauh sebelum industri kendaraan listrik berjenis BEV menjadi populer seperti saat ini, Toyota sudah lebih dulu mengembangkan jaringan industri mereka di berbagai negara di dunia untuk kategorisasi mesin konvensional dan HEV. Dimulai dari bahan baku, suku cadang, perakitan, manufaktur, tenaga kerja, dan komponen-komponen lain kendaraan, telah terorganisir dengan begitu baik dari hulu hingga hilir. Jaringan tersebut telah menyebar luas di seluruh dunia mencakup Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Asia, Australia, Jepang, dan wilayah-wilayah lain.

Di Indonesia sendiri pun, basis produksi Toyota sudah lebih dulu berorientasi pada mesin HEV sebelum BEV masuk. Di daerah Karawang misalnya, sudah terdapat pabrik manufaktur milik Toyota untuk lini produksi Yaris Cross Hybrid dan Kijang Innova Zenix Hybrid di wilayah pabrik Karawang 1 dan Karawang 2. Bagian terpenting yang harus diingat adalah bahwa Indonesia hanya merupakan satu dari sekian banyaknya jaringan produksi kendaraan skala global yang dimiliki oleh pihak Toyota. Kendaraan-kendaraan yang diproduksi di Indonesia juga, tidak semuanya akan dijual untuk pasar dalam negeri. Beberapa diantaranya akan diekspor dan dijual ke pasaran global sesuai dengan permintaan pasar.

Dengan struktur jaringan yang sudah terorganisir begitu kuat, mengubah orientasi produksi dari HEV menuju BEV dalam waktu sekejap bukanlah sebuah perkara yang mudah meskipun diberikan berbagai inisiatif oleh pemerintah. Malahan, jumlah kerugian yang dialami oleh Toyota bisa jadi jauh lebih besar untuk merekonstruksi ulang jaringan yang sudah terbentuk sebelumnya. Selain itu juga, teknologi Hybrid yang dimiliki oleh kendaraan jenis HEV Toyota jauh lebih matang berdasarkan riset dan pengembangan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Mempertahankan lini pasar yang sudah dikuasai agaknya terasa lebih mudah ketimbang mencoba segmen baru yang penuh dengan resiko ketidakpastian.

DAFTAR PUSTAKA

Presiden Republik Indonesia. (2023). Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023. Peraturan.bpk.go.id.

Muhammad Reza Ilham Taufani. (2024). Nyaris Lengkap! RI Kuasai Bahan Baku Baterai dan Kendaraan Listrik. Cnbcindonesia.com.

Wuling. (2022). Kendaraan Listrik Wuling Pertama di Indonesia, Air Ev, Resmi Diproduksi di Cikarang. Wuling.id.

Toyota. (2025). Mobil Hybrid Toyota Paling Laris Periode Januari-November 2025, Siapakah Dia?. Toyota.astra.co.id.

Ferry Sandi. (2025). Akhirnya Toyota Bikin Mobil Listrik BEV di RI, Ini Gambaran Harganya. Cnbcindonesia.com.

Digiroom Auto 2000. (2025). Toyota Produksi Mobil Listrik Buatan Indonesia untuk Perkuat Misi Net Zero Emission. Auto2000.co.id.

Toyota. (2026). Harga New bZ4X Semakin Terjangkau, Battery EV Toyota Pertama yang Diproduksi Lokal dan Zero Emission. Toyota.astra.co.id.

Badan Pusat Statistik. (2025). Impor Minyak Bumi dan Hasil-Hasil Menurut Negara Asal Utama, 2017-2024. Bps.go.id.

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (2024). Indonesia Tekankan Urgensi Dekarbonisasi Sektor Transportasi. Esdm.go.id.

Ade Hapsari Lestarini. (2026). Prabowo Mau Mobil hingga Motor Full Listrik, Tenaganya dari Matahari. Metrotvnews.com.

Toyota. (2026). Global Operations.

Toyota. (2026). Manufacturing Factory. Toyota.co.id.