Konten dari Pengguna

Peluang Indonesia di Tengah Kebangkitan Kembali Industri Semikonduktor Jepang?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robi Salman Alfarisi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi dari judul artikel yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi dari judul artikel yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.

Semikonduktor merupakan material yang memiliki sifat kemampuan untuk menghantarkan listrik di antara konduktor (penghantar listrik) dan isolator (penghambat listrik). Hal tersebut memungkinkan semikonduktor untuk mengendalikan arus listrik melalui berbagai perubahan dan penambahan unsur tertentu. Kemampuan tersebut menjadikan semikonduktor sebagai salah satu material paling krusial dalam pembuatan berbagai komponen berteknologi tingkat tinggi seperti transistor dan chip. Beberapa jenis industri seperti otomotif, elektronik, telekomunikasi, kesehatan, kecerdasan buatan (AI), dan lain sebagainya, menjadi beberapa contoh dari penggunaan semikonduktor dalam berbagai kebutuhan sektor industri. Adapun beberapa material semikonduktor yang sering digunakan dalam berbagai kegiatan industri diantaranya merupakan Silikon (Si), Germanium (Ge), dan Galium arsenida (GaAs).

Gambar ilustrasi dari berbagai macam material semikonduktor yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi dari berbagai macam material semikonduktor yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.

Karena kegunaannya yang begitu krusial dalam berbagai kebutuhan industri, menjadikan semikonduktor dan produk olahan turunannya memiliki nilai yang begitu tinggi di pasaran global. Semiconductor Industry Association (SIA) atau Asosiasi Industri Semikonduktor global mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan dalam nilai perdagangan semikonduktor global di angka 791.1 miliar USD pada tahun 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 25.6% dari tahun 2024 sebelumnya dengan nilai perdagangan sebesar 630.5 miliar USD. Dengan demikian, negara-negara yang memiliki kapasitas dan kemampuan industri yang mumpuni untuk mengolah material ini ke dalam berbagai bentuk produk jadi berteknologi tinggi memiliki indikasi yang begitu kuat untuk berada di posisi yang strategis dalam rantai pasok global.

Hal tersebut dapat dilihat dalam aspek produksi, penjualan, dan penguasaan teknologi yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan dalam sektor industri semikonduktor. Pasalnya, hampir semua komponen penting dari barang berteknologi tinggi yang kita gunakan saat ini diproduksi dengan menggunakan semikonduktor sebagai salah satu bahan materialnya. Beberapa komponen elektronik yang diproduksi dengan menggunakan semikonduktor diantaranya merupakan transistor, dioda, chip, prosesor (CPU), RAM/DRAM, LED, Sel surya, dan lain-lain.

Sejarah Singkat Mengenai Kejayaan dan Kemunduran Industri Semikonduktor Jepang

Jepang sendiri pada awalnya pernah menduduki posisi puncak dalam industri semikonduktor global. Era tahun 1970-1980 an merupakan puncak kejayaan dari industri semikonduktor Jepang. Dimulai pada akhir tahun 1970 an, Jepang bersama dengan Amerika dan Uni Eropa setidaknya pernah menguasai sekitar 90% pangsa pasar semikonduktor global. Satu dekade setelahnya di tahun 1980 an, tepatnya pada tahun 1986, industri semikonduktor Jepang berhasil menduduki posisi pertama sebagai supplier global dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 48%. Angka yang begitu tinggi hingga bahkan mampu menyaingi dominasi Amerika sebagai salah satu produsen tangguh dalam industri semikonduktor global.

Di tengah kesuksesan dan dominasi Jepang dalam pasar semikonduktor global, DRAM menjadi salah satu produk semikonduktor mereka yang paling berpengaruh di pasaran global. DRAM merupakan singkatan dari Dyanmic Random Access Memory, yaitu sejenis chip memori penyimpanan sementara layaknya RAM di era saat ini yang banyak digunakan oleh industri komputer di era tahun 1970 - 1980 an kala itu. Laporan yang diterbitkan oleh The Research Institute of Economy, Trade and Industri (RIETI) pada tahun 2025 mencatatkan sejarah dari dominasi chip DRAM Jepang di pasaran semikonduktor global. Hal tersebut dimulai dari dominasi dalam pangsa pasar semikonduktor global di akhir tahun 1970 an oleh Amerika, Jepang, dan Uni Eropa (sebagaimana yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya). Pada dekade ini di tahun 1978, setidaknya Jepang menguasai sekitar 25% pangsa pasar chip DRAM global. Kemudian pada rentang tahun 1983-1984 an, permintaan pasar global atas produk semikonduktor Jepang melesat hingga 150%. Hingga akhirnya di tahun 1987 Jepang telah berhasil menguasai pangsa pasar chip DRAM global sebesar 80%.

Gambar ilustrasi dari chip DRAM hasil produksi industri semikonduktor Jepang yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.

Akan tetapi, dominasi Jepang di dalam pasar semikonduktor global melalui produk chip DRAM mereka tidak berlangsung lama. Pasalnya, di tahun 1986 Jepang harus menandatangani perjanjian dagang bersama Amerika di bidang industri semikonduktor yang bernama U.S.–Japan Semiconductor Agreement. Dasar dari perjanjian ini adalah Amerika menganggap berbagai produk semikonduktor yang dijual oleh perusahaan Jepang seperti Toshiba, Fujitsu, Hitachi, Mitsubishi, dan lain-lain, memiliki harga yang terlalu murah di pasaran global sehingga dituduh telah melakukan praktek Dumping. Selain itu, Jepang juga dituduh telah melakukan pembatasan terhadap penjualan produk asing di dalam pasar domestik mereka. Akibatnya, produk semikonduktor Jepang mengalami pengontrolan harga dan pembatasan volume ekspor yang begitu ketat di pasaran Amerika. Selain itu, Jepang juga didorong untuk membuka akses pasar domestiknya secara lebih luas bagi produk-produk Amerika, khususnya bagi produk semikonduktor.

Keadaan tersebut semakin diperparah ketika Korea Selatan melalui perusahaan-perusahaan mereka seperti Samsung dan SK Hynix mulai memasuki pasar semikonduktor global melalui segmen penjualan chip DRAM dengan penawaran harga yang lebih murah daripada produk chip DRAM milik Jepang. Selain itu, penguatan mata uang Yen sebagai hasil dari Kesepakatan Plaza (Plaza Accord) di tahun 1985 membuat harga ekspor untuk produk-produk dari Jepang menjadi lebih mahal. Akibatnya, produk chip DRAM Jepang menjadi tidak sekompetitif dibanding pesaingnya Korea Selatan. Hingga akhirnya, cahaya kejayaan dari industri semikonduktor Jepang menjadi tidak semendominasi seperti sebelumnya di sepanjang tahun 1990 an dan masa-masa setelahnya.

Upaya Kebangkitan Industri Semikonduktor Jepang di Masa Kini

Kemunduran dominasi dari industri semikonduktor Jepang dalam pasaran global dapat dikatakan berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut setidaknya bertahan selama tiga dekade kebelakang dengan rentang waktu antara tahun 1990 an hingga awal 2020 an. Dalam sebuah laporan informasi yang diterbitkan oleh Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan atau Kementrian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (selanjutnya disingkat dengan METI) pada tahun 2023 melalui laman situs resmi mereka, industri semikonduktor Jepang pernah mencatat pangsa pasar global sebesar 50,3% pada tahun 1988 dan telah turun hingga 10% pada tahun 2019.

Upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan dari industri ini kembali muncul pada Juni 2021 pasca METI menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul Semiconductor and Digital Industry Strategy sebagai landasan utama dalam penguatan kembali industri semikonduktor nasional yang kemudian direvisi pada tahun 2026. Dalam proses dari upaya tersebut, pemerintah Jepang melakukan upaya untuk menggaet pihak Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dalam sebuah skema investasi. TSMC sendiri merupakan sebuah perusahaan manufaktur semikonduktor asal Taiwan yang salah satu fokusnya berada pada segmen produksi chip untuk berbagai kebutuhan pasar elektronik global.

Gambar ilustrasi dari perusahaan TSMC asal Taiwan yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.

Bersama TSMC, pemerintah Jepang melalui METI menargetkan untuk melakukan kerja sama investasi di bidang manufakturing semikonduktor berbasis produk chip. Hal tersebut diwujudkan di kemudian hari melalui perencanaan pembangunan cabang pabrik dari TSMC di wilayah Prefektur Kumamoto. Dalam mendukung rencana ini, pihak TSMC juga membentuk anak perusahaan TSMC di Jepang bernama Japan Advanced Semiconductor Manufacturing (JASM). JASM sendiri merupakan perusahaan patungan antara pihak TSMC dengan beberapa perusahaan nasional Jepang. Pada awalnya, Sony menjadi satu-satunya perusahaan nasional Jepang yang tergabung ke dalam JASM ini pada awal pembentukannya di Desember 2021. Tidak lama setelah itu pada Februari 2022, perusahaan Denso juga ikut bergabung yang kemudian juga disusul oleh perusahaan Toyota 2 tahun setelahnya pada Februari 2024.

Pembangunan pabrik JASM sendiri dimulai sejak April 2022 dan telah diresmikan pada 24 Februari 2024 dengan operasional produksi massal resmi yang baru dimulai pada Desember 2024. Tidak hanya itu, sebelum diresmikannya pabrik pertama pada 24 Februari 2024, pemerintah Jepang bersama TSMC bahkan telah lebih dulu merencakan untuk melakukan pembangunan cabang pabrik kedua pada 6 Februari 2024 sebelumnya. Dari segi biaya, pihak pemerintah Jepang juga memberikan bantuan dana khusus terhadap proyek ini dalam bentuk subsidi. Pada tahap pembangunan pabrik pertama, batas subsidi maksimum yang dapat disetujui pada Juni 2022 mencapai sekitar 476 miliar Yen. Sementara itu, pada tahap pembangunan pabrik kedua, batas subsidi maksimum yang dapat disetujui pada Februari 2024 mencapai 732 miliar Yen. Berdasarkan kondisi ini, kita dapat memahami betapa seriusnya upaya Jepang dalam membangkitkan kembali kejayaan dari industri semikonduktor mereka melalui kerja sama yang digaet bersama dengan pihak TSMC.

Peluang Indonesia dalam Pengembangan Industri Semikonduktor

Di tengah upaya pemerintah Jepang dalam mengembalikan kejayaan dari industri semikonduktor mereka, Indonesia secara tidak langsung telah berhasil masuk ke dalam lingkaran tersebut. Dalam forum kerja sama bisnis internasional yang digelar di Hotel Imperial Tokyo pada 30 Maret 2026 yang juga dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, para pelaku usaha Indonesia dan Jepang telah menyepakati 10 nota kesepahaman (Mou) di berbagai bidang kerja sama ekonomi. Kabar baiknya, dari kesepuluh nota kesepahaman yang tercipta, pengembangan semikonduktor termasuk ke dalam salah satunya. Kedua belah pihak melalui PT Eblo Teknologi Indonesia dan Hayashi Kinzoku Co., Ltd Jepang telah menyepakati untuk melakukan kerja sama di bidang pengembangan dan produksi semikonduktor pada sektor desain dan manufaktur chip, serta kecerdasan buatan (AI).

Hal ini semakin diperkuat ketika Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melakukan pertemuan kenegaraan pada 31 Maret 2026 di Rumah Tamu Negara Asakasa Tokyo. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin negara melakukan pembahasan diplomatik mengenai berbagai macam isu global dan kerja sama multilateral di antara kedua negara. Berdasarkan informasi yang dikutip melalui laman situs resmi Dewan Pertahanan Nasional Republik Indonesia (2026), disebutkan bahwa kerja sama di bidang semikonduktor menjadi salah satu pembahasan keduanya sebagai salah satu pilar strategis dalam ketahanan ekonomi dan kemitraan industri kedua negara.

Gambar dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (sebelah kiri) dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (sebelah kanan) sedang berjabat tangan di Rumah Tamu Negara Asakasa Tokyo pada 31 Maret 2026. Gambar ini diambil melalui laman situs resmi Prime Minister's Office of Japan.
Gambar dari berlangsungnya pertemuan antara kedua pemimpin negara di Rumah Tamu Negara Asakasa Tokyo pada 31 Maret 2026. Gambar ini diambil melalui laman situs resmi Prime Minister's Office of Japan.

Pada tahapan selanjutnya, kerja sama tersebut telah berkembang hingga kemudian berlanjut melalui sebuah forum bernama Indonesia–Japan Joint Roadmap Creation on Semiconductor Industry and Policy yang digelar di Jakarta oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) pada 8 September 2026. Melalui forum ini, perwakilan pemerintah, lembaga penelitian, dan pelaku industri dari Indonesia maupun Jepang melakukan pembahasan mengenai penyusunan Road Map (Peta Rancangan Aksi) dalam pengembangan industri semikonduktor. Beberapa bidang yang menjadi fokus pembahasan dalam forum ini antara lain meliputi pengolahan material semikonduktor, pengembangan desain chip, investasi industri, penelitian dan pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Gambar pertemuan dari forum Indonesia–Japan Joint Roadmap Creation on Semiconductor Industry and Policy yang digelar di Jakarta oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) pada 8 September 2026. Gambar ini diambil melalui laman situs resmi ERIA.

Tidak hanya sampai di situ saja, delegasi pemerintah Ind0nesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga telah melakukan kunjungan terhadap perusahaan Kouwa-Tec di Ibukota Prefektur Aichi Nagoya pada 18 September 2026. Kouwa-Tec sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri mesin presisi (precision machine parts processing) dengan objek pasar untuk memenuhi kebutuhan dari industri penerbangan, semikonduktor, kesehatan, serta pengembangan bentuk prototipe. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (2026) sendiri melalui laman situs resminya mengatakan bahwa kunjungan ini dilatarbelakangi oleh faktor untuk memperkuat hubungan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Jepang, mempelajari teknologi manufaktur presisi dari industri Jepang, dan mendukung pengembangan industri berteknologi tinggi di Indonesia.

Bidang yang menjadi pembahasan meliputi industri semikonduktor dan pendukungnya, manufaktur presisi, industri kedirgantaraan ,teknologi medis, dan teknologi generasi berikutnya. Kemudian, kunjungan juga bertujuan untuk menjajaki peluang investasi, mendorong transfer teknologi, meningkatkan kualitas SDM, memperkuat daya saing industri nasional, dan mengintegrasikan industri Indonesia ke dalam rantai pasok global. Ditambah lagi, Kementerian menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan pemerkuatan dari momentum yang telah dibangun pasca penyelenggaran forum Indonesia–Japan Joint Roadmap Creation on Semiconductor Industry and Policy pada 8 September 2026 sebelumnya.

Gambar dari kunjungan delegasi Indonesia ke perusahaan Kouwa-Tec di Nagoya pada 18 September 2026. Gambar ini diambil melalui laman situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Di Tengah Peluang yang Tersedia, Apakah Indonesia Mampu Untuk Memanfaatkannya?

Dari kondisi yang ada hingga saat ini, peluang Indonesia untuk mengembangkan sektor industri semikonduktornya secara mandiri telah terbuka cukup lebar melalui Road Map kerja sama yang telah terbentuk bersama pemerintah Jepang. Ditambah lagi, momentumnya juga lumayan tepat di tengah upaya pemerintah Jepang dalam membangkitkan kembali kejayaan dari industri semikonduktor mereka. Secara peluang, Indonesia dapat menjadi salah satu dari ekosistem rantai pasok untuk industri semikonduktor Jepang sebagai langkah awal dalam mencapai kemandirian nasional, sebelum akhirnya mampu untuk berdiri sendiri sebagai sektor industri yang mandiri dalam hal pengembangan dan produsen global.

Akan tetapi, apakah Indonesia sendiri sudah memiliki persiapan yang begitu matang dalam menyambut peluang tersebut? Kalau dijelaskan lebih lanjut, peluang yang ada apabila tidak diiringi dengan kesiapan yang begitu matang, maka sulit sekali untuk mencapai indikator keberhasilan. Kalau berbicara mengenai kondisi Indonesia saat ini dalam mendukung pengembangan awal dari industri semikonduktor, tentulah terdapat keunggulan dan kekurangan yang harus dipahami secara bersama.

Secara proporsional, terdapat beberapa indikator keunggulan dan kekurangan yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam hal keunggulan, Indonesia sudah diunggulkan dalam beberapa hal berikut. Pertama, wilayah Indonesia mengandung beberapa jenis material semikonduktor seperti silika, timah, dan timah yang berpotensi dalam mendukung basis ketersediaan material produksi. Kedua, sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, usia produktif angkatan kerja di Indonesia sangat melimpah. Ketiga, hubungan baik antara Indonesia dan Jepang telah terjalin dalam waktu yang cukup lama, khususnya di bidang ekonomi. Keempat, jumlah penduduk yang begitu banyak menjadikan pasar domestik Indonesia sangat menjanjikan, terkhusus pada kebutuhan elektronik, otomotif, dan teknologi digital. Kelima, Indonesia sendiri sudah memiliki berbagai basis produksi untuk industri elektronik dan otomotif yang dapat menjadi landasan awal dalam mendukung pengembangan dari industri semikonduktor.

Gambar dari pekerja pabrik di salah satu pabrik produksi milik Toyota di Indonesia. Gambar ini diambil dari salah satu artikel berita Kompas yang berjudul Toyota Indonesia Bakal Perbanyak Komponen Lokal di Kendaraan Elektrifikasi.

Adapun beberapa hal yang menjadi kelemahan Indonesia sebagai berikut. Pertama, tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan teknologi SDM Indonesia dalam fabrikasi chip belum banyak secara garis besar. Kedua, jumlah SDM dengan keahlian yang khusus di bidang semikonduktor masih sangatlah terbatas. Ketiga, infrastruktur berupa fasilitas produksi berteknologi tinggi masih belum merata. Keempat, dalam hal pemenuhan pasokan chip dan peralatan pengolahan untuk semikonduktor itu sendiri, masih banyak yang harus diimpor dari luar negeri. Kelima, ekosistem industri yang masih belum matang dan terintegrasi secara kuat dari hulu hingga ke hilir. Kalau dilihat pada sektor industri sebelah berupa produksi kendaraan listrik, itu pun masih belum merata, apalagi semikonduktor yang mau dirintis dari awal sekali.

Gambar ilustrasi dari SDM terampil di bidang semikonduktor yang dibuat dengan menggunakan proses generating oleh Chat GPT.

Jadi, apakah Indonesia memiliki peluang dalam mengembangkan industri semikonduktor bersama Jepang? Jawabannya bisa saja "iya" dan juga "tidak". Semuanya bergantung pada bagaimana kita sebagai warga negara Republik Indonesia menyikapi peluang tersebut. Apabila kita benar-benar ingin mendukung pemerintah dalam mengembangkan industri semikonduktor nasional, maka sudah sepatutnya kita turut berusaha meningkatkan kualitas diri, khususnya dengan mengembangkan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan oleh industri tersebut. Dengan begitu, kita tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mewujudkan kemandirian industri semikonduktor nasional.

Sebaliknya, apabila kita hanya berfokus pada kritikan tanpa disertai kemauan untuk berkontribusi, maka janganlah heran apabila dalam beberapa tahun mendatang Indonesia masih harus bergantung pada impor semikonduktor dari negara lain. Namun, perlu diingat pula bahwa keberhasilan pengembangan industri ini tidak hanya bergantung pada masyarakat, tetapi juga pada keseriusan pemerintah dalam menyediakan pendidikan, fasilitas penelitian, investasi, dan kebijakan industri yang mendukung. Pada akhirnya, kemandirian industri semikonduktor Indonesia tidak akan terwujud hanya melalui ambisi dan perencanaan, melainkan membutuhkan usaha nyata dari pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat itu sendiri.

Sekian, terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, A. (2026). Bangun Kemandirian Semikonduktor, Kemenperin Fokus Pengembangan Chip & SDM. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

BAPPENAS. (2026). Bappenas Dorong Grand Strategy Pengembangan Industri Semikonduktor Nasional.

Dewan Pertahanan Nasional RI. (2026). DPN Hadiri Eria Executive Roundtable, Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia–Jepang di Sektor Semikonduktor.

ERIA. (2026). ERIA Hosts Indonesia–Japan Roundtable on Semiconductor Industry Roadmap.

Kementerian Bidang Koordinator Perekonomian Republik Indonesia. (2026). Temui Industri Manufaktur Presisi di Nagoya, Kemenko Perekonomian Dorong Penguatan Kerja Sama Teknologi Indonesia–Jepang.

Kementerian Bidang Koordinator Perekonomian Republik Indonesia. (2026). Pemerintah Siapkan SDM Unggul untuk Masuki Industri Semikonduktor Global

Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2026). Presiden Prabowo Saksikan Kesepakatan Bisnis Senilai Rp401,71 Triliun, Indonesia Jadi Magnet Investasi Kawasan.

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2023). 第Ⅱ部 第1章 我が国を取り巻くグローバル・バリューチェーンの強靱化.

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2024). Press Conference by Minister Saito (Excerpt).

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2025). 認定特定半導体生産施設整備等計画.

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2026). 半導体・デジタル産業戦略検討会議.

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2026). Parliamentary Vice-Minister KOMORI Attends Japan-Indonesia Business Forum.

Ministry of Economy, Trade and Industry of Japan (METI). (2026). Symposium on Economic Resilience Strategy for Japan and ASEAN Held.

Ministry of Foreign Affairs of Japan (MOFA). (2026). Japan-Indonesia Summit Meeting.

Prime Minister's Office of Japan. (2026). Japan-Indonesia Summit Meeting.

Semiconductor Industry Association (SIA). (2025). Global Annual Semiconductor Sales Increase 25.6% to $791.7 Billion in 2025.

Semiconductor Industry Association (SIA). (2025). Strengthening the Global Semiconductor Supply Chain in an Uncertain Era.

Tomoshige, H. (2022). Japan's Semiconductor Industrial Policy from the 1970s to Today. Central For Strategic & International Studies (CSIS).

TSMC. (2021). TSMC to Build Specialty Technology Fab in Japan with Sony Semiconductor Solutions as Minority Shareholder.

TSMC. Company Info.

TSMC. (2022). DENSO to Take Minority Stake in JASM.

TSMC. (2022). TSMC Celebrates the Opening of JASM in Kumamoto, Japan.

TSMC. (2024). JASM Set to Expand in Kumamoto Japan.

US Geological Survei. (2024). Indonesia.

World Bank Group. (2026). Population Ages 15-64 total- Indonesia.