Konten dari Pengguna

Mengapa Gen Z Lebih Memilih Hubungan Tanpa Status?

Roby tawaabun

Roby tawaabun

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roby tawaabun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu dekat banget sama seseorang? Tiap hari obrolan di WhatsApp nggak pernah putus, malam-malam call-an sampai tertidur, akhir pekan jalan bareng, tapi kalau ditanya "kita ini apa?", jawaban yang keluar justru bikin gantung: "Jalanin aja dulu."

Fenomena ini sudah makin sering kita temui di sekitar kita, atau bahkan mungkin sedang kamu alami sendiri. Dalam kultur anak muda dan Generasi Z saat ini, kondisi ini populer dengan istilah HTS (Hubungan Tanpa Status) atau situationship. Sebuah ruang di mana ada kedekatan emosional layaknya orang berpacaran, tetapi tanpa ikatan, tanpa janji, dan tanpa komitmen yang jelas.

Lantas, kenapa ya fenomena ini makin menjamur dan jadi pilihan banyak anak muda zaman sekarang?

Ilustrasi fenomena Hubungan Tanpa Status (HTS) yang marak di kalangan anak muda. (Foto: Dokumentasi Pribadi/AI Generated)

1. Ingin Mesra, Tapi Ogah Ribet

Jujur saja, dalam hubungan berstatus seperti pacaran, ada banyak hal dan "tuntutan" yang ikut menempel. Mulai dari harus memberi kabar setiap jam, wajib melapor mau ke mana saja, hingga kewajiban memenuhi ekspektasi pasangan.

Bagi sebagian Gen Z, HTS menawarkan jalan tengah yang menarik: kita bisa merasakan kasih sayang, perhatian, dan tempat berbagi cerita tanpa perlu terikat oleh serangkaian aturan tersebut. Ada kebebasan untuk tetap jadi diri sendiri tanpa merasa terkekang.

2. Lagi Fokus Mewujudkan Life Goals

Masa-masa usia 18 hingga 20-an awal adalah fase di mana fokus utama kita sering kali tersita untuk hal-hal besar lainnya. Kuliah yang makin numpuk, mengejar karier pertama, mencari pengalaman baru, hingga eksplorasi identitas diri.

Dalam kondisi seperti ini, memberikan komitmen penuh pada sebuah hubungan romantisme terkadang terasa seperti beban tambahan. Melalui HTS, anak muda merasa bisa tetap menikmati kehangatan sebuah hubungan tanpa harus mengorbankan impian pribadi atau fokus utama mereka saat ini.

3. Terlalu Terbiasa dengan Interaksi Digital

Sadar atau tidak, cara kita berkomunikasi hari ini sangat membentuk pola hubungan kita. Gen Z tumbuh bersama media sosial, chatting, hingga dating apps. Kita bisa sangat dekat dengan seseorang hanya lewat pesan teks dan video call tanpa harus sering bertatap muka secara langsung.

Interaksi yang serba cepat dan intens di dunia digital ini acap kali membuat kita enggan atau canggung untuk membuka obrolan yang sifatnya serius di dunia nyata. Termasuk obrolan tentang "Mau dibawa ke mana hubungan ini?". Ditambah lagi dengan istilah-istilah seperti red flag, green flag, atau situationship yang terus berseliweran di linimasa, secara tidak langsung membuat kita memaklumi pola hubungan yang tidak berkepastian ini.

Tapi, Apakah HTS Beneran Sebebas Itu?

Meskipun awalnya terasa santai dan membebaskan, jalan-jalan di area HTS sering kali tidak semulus yang dibayangkan. Ketidakjelasan status ini bak pedang bermata dua.

Ketika rasa nyaman makin dalam, batas-batas yang awalnya disepakati kerap kali kabur. Mulai timbul rasa cemburu ketika dia dekat dengan yang lain, muncul kecemasan, hingga rasa takut kehilangan tanpa pernah benar-benar merasa memiliki. Konflik pun rawan terjadi hanya karena ekspektasi salah satu pihak yang mendadak berubah tanpa sempat diselaraskan.

Bukan Berarti Gen Z Anti-Komitmen

Apakah ini artinya semua Gen Z takut atau anti dengan komitmen? Tentu saja tidak. Fenomena ini lebih menunjukkan bahwa cara kita memandang sebuah hubungan kini jauh lebih beragam. Hubungan tidak lagi hanya dinilai hitam-putih antara "cuma teman" atau "pacaran".

HTS bukan sepenuhnya hal yang buruk, tetapi juga bukan solusi instan tanpa risiko emosional. Pada akhirnya, mau memilih berstatus atau tidak, kunci utamanya tetap ada pada komunikasi yang jujur dan kesepahaman bersama. Sebab, senyaman-nyamannya berjalan tanpa status, kejujuran pada perasaan sendiri adalah hal yang paling utama.