Bonus Demografi atau Cemas Demografi? Ironi Menuju Indonesia Emas

Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang aktif menulis opini tentang ekonomi, sosial, dan pembangunan masyarakat.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rofiqoh Aliyah Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jargon Indonesia Emas 2045 barangkali sudah terlalu sering kita dengar. Pemerintah, akademisi, hingga berbagai lembaga terus menyampaikan optimisme bahwa Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang akan membawa negara ini menuju kemajuan. Dalam berbagai forum, bonus demografi bahkan disebut sebagai peluang emas yang hanya datang sekali dalam sejarah sebuah bangsa.
Namun di balik narasi besar tersebut, banyak anak muda justru menghadapi kenyataan yang berbeda. Media sosial dipenuhi keluhan para pencari kerja yang mengirim puluhan hingga ratusan lamaran tanpa kepastian. Fresh graduate dihadapkan pada persyaratan kerja yang sering kali tidak masuk akal, sementara berita tentang pemutusan hubungan kerja terus bermunculan. Akibatnya, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah bonus demografi benar-benar menjadi peluang, atau justru berubah menjadi kecemasan bersama?
Ketika Gelar Tidak Lagi Menjamin Kesempatan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok usia muda masih menjadi salah satu penyumbang terbesar angka pengangguran di Indonesia. Fenomena pengangguran terdidik juga masih terus muncul ketika lulusan diploma dan sarjana kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki.
Ironi inilah yang sering luput dari pembahasan mengenai bonus demografi. Semakin banyak anak muda berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi kesempatan kerja yang tersedia tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bekerja di luar bidang keahliannya atau bahkan menganggur dalam waktu yang cukup lama.
Jika kondisi ini terus berlangsung, bonus demografi berisiko kehilangan maknanya. Sebab jumlah penduduk usia produktif yang besar hanya akan menjadi kekuatan pembangunan apabila benar-benar terserap dalam aktivitas ekonomi yang produktif.
Gelar Sarjana dan Kebutuhan Industri yang Tidak Bertemu
Salah satu persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi belum memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar kerja yang terus berubah.
Perkembangan digitalisasi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan telah mengubah struktur pekerjaan secara signifikan. Beberapa jenis pekerjaan mulai berkurang, sementara profesi baru terus bermunculan. Sayangnya, perubahan tersebut sering kali berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem pendidikan dalam menyesuaikan diri.
Akibatnya, muncul kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan keterampilan yang dicari perusahaan. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan hanya kurangnya lapangan pekerjaan, tetapi juga ketidaksiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi ekonomi yang sedang berlangsung.
Pertumbuhan Ekonomi yang Belum Ramah Tenaga Kerja
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kualitas pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Indonesia memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Namun pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan lapangan kerja formal yang berkualitas dalam jumlah besar.
Sebagian anak muda akhirnya berkompromi dengan realitas dan masuk ke dalam gig economy, seperti menjadi pekerja lepas, pengemudi transportasi daring, content creator, affiliate marketer, atau pekerja berbasis platform digital lainnya. Pilihan ini memang membuka peluang pendapatan, tetapi sering kali tidak disertai kepastian karier, perlindungan sosial, maupun jaminan kerja jangka panjang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu menciptakan pekerjaan yang layak bagi generasi muda. Jika dibiarkan, Indonesia dapat menghadapi situasi paradoks: jumlah penduduk usia produktif terus bertambah, tetapi kesempatan kerja berkualitas tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Menolak Menjadi Generasi Cemas
Karena itu, bonus demografi tidak boleh berhenti sebagai slogan pembangunan. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mampu memperluas kesempatan kerja produktif, terutama melalui penguatan sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja dan menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.
Selain itu, insentif bagi perusahaan yang menyediakan program magang berkualitas dan merekrut tenaga kerja muda juga perlu diperkuat. Di sisi lain, dunia pendidikan harus lebih adaptif terhadap kebutuhan industri melalui program upskilling dan reskilling yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Sebab keberhasilan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia dan kesempatan yang mereka miliki untuk berkembang.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya karena memiliki jutaan anak muda. Indonesia Emas baru dapat menjadi kenyataan ketika generasi mudanya memperoleh akses pendidikan yang baik, kesempatan kerja yang layak, dan ruang untuk mengembangkan potensi mereka.
Jika hari ini anak muda justru dipenuhi kecemasan karena sulit mendapatkan pekerjaan dan kehilangan harapan terhadap masa depan, maka bonus demografi bisa berubah menjadi cemas demografi. Dan ketika itu terjadi, yang kandas bukan hanya impian generasi muda, tetapi juga cita-cita besar pembangunan Indonesia itu sendiri.
