Konten dari Pengguna

Arab Saudi Mulai Berburu Chip AI, Apa yang Dipertaruhkan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roger Alexsander sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Ambisi Arab Saudi mengembangkan industri chip AI dan infrastruktur teknologi — Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Ambisi Arab Saudi mengembangkan industri chip AI dan infrastruktur teknologi — Unsplash.

Lead: Arab Saudi mulai memperbesar investasi pada chip AI untuk membangun kapasitas teknologinya. Namun, akses terhadap chip canggih tidak hanya bergantung pada kemampuan finansial, tetapi juga pada kebijakan ekspor Amerika Serikat dan persaingan teknologi global.

Arab Saudi mulai memperbesar investasi pada chip dan infrastruktur kecerdasan buatan. Langkah tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan industri teknologi, tetapi juga dengan ambisi negara untuk menjadi pusat AI dan posisi strategisnya di tengah persaingan teknologi global.

Arab Saudi sebenarnya sudah menempatkan AI sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Melalui National Strategy for Data and AI, pemerintah menargetkan negara tersebut menjadi salah satu pusat global dalam pengembangan dan pemanfaatan data serta AI. Strategi ini juga menargetkan Arab Saudi masuk dalam 15 negara teratas dalam bidang AI dan menarik sekitar 75 miliar riyal investasi di sektor data dan AI.

Dua hal kemudian berjalan bersamaan. Di satu sisi, Arab Saudi ingin membangun kemampuan AI sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi Vision 2030. Di sisi lain, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur komputasi dalam jumlah besar, termasuk chip yang mampu menjalankan model AI dengan kecepatan tinggi. Karena itu, akses terhadap chip menjadi salah satu bagian penting dari ambisi teknologi Arab Saudi.

Langkah tersebut terlihat dari kerja sama antara HUMAIN, perusahaan AI milik Public Investment Fund Arab Saudi, dan Nvidia pada Mei 2025. Keduanya sepakat membangun AI factories dengan kapasitas hingga 500 megawatt yang akan menggunakan ratusan ribu GPU Nvidia dalam lima tahun. Tahap pertama mencakup superkomputer AI dengan 18.000 GPU Nvidia GB300 Grace Blackwell.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan Arab Saudi terhadap chip AI bukan lagi sekadar untuk menjalankan beberapa aplikasi teknologi. Negara tersebut sedang membangun kapasitas komputasi dalam skala besar. Semakin besar pusat data dan model AI yang ingin dikembangkan, semakin besar pula kebutuhan terhadap GPU berperforma tinggi.

Posisi chip kemudian menjadi lebih penting karena teknologi tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kendali Arab Saudi. Nvidia merupakan perusahaan Amerika Serikat, sehingga akses terhadap produk-produknya juga dipengaruhi oleh kebijakan ekspor Washington. Sebelumnya, Nvidia mencatat bahwa sejumlah produk AI berperforma tinggi untuk Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya memerlukan lisensi ekspor dari pemerintah Amerika Serikat.

Situasi ini memperlihatkan bahwa chip AI bukan hanya barang teknologi biasa. Akses terhadap chip dapat dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan nasional dan kebijakan perdagangan. Bagi negara yang sedang membangun infrastruktur AI dalam skala besar seperti Arab Saudi, perubahan kebijakan ekspor dapat ikut menentukan seberapa cepat proyek tersebut berkembang.

Namun, hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat dalam teknologi AI justru semakin berkembang. Pada November 2025, Departemen Perdagangan Amerika Serikat memberikan izin kepada HUMAIN untuk membeli chip Nvidia Blackwell hingga setara 35.000 unit GB300. Persetujuan tersebut diberikan dengan sejumlah persyaratan keamanan dan pelaporan yang harus dipenuhi.

Bagi Arab Saudi, akses tersebut memberikan peluang untuk mempercepat pembangunan kemampuan AI. Bagi Amerika Serikat, kerja sama ini juga memperluas penggunaan teknologi AI Amerika di salah satu negara yang sedang agresif membangun pusat teknologi baru. Karena itu, hubungan keduanya tidak hanya menghasilkan transaksi bisnis, tetapi juga membentuk hubungan teknologi yang semakin strategis.

Situasi tersebut membuat pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak chip yang berhasil dibeli Arab Saudi. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah chip tersebut tersedia. Infrastruktur AI membutuhkan pusat data, listrik, tenaga ahli, riset, perusahaan teknologi, dan ekosistem digital yang mampu menggunakan kemampuan komputasi tersebut secara berkelanjutan.

Arab Saudi mulai membangun beberapa bagian dari ekosistem tersebut. Data center menjadi salah satu prioritas karena menjadi fondasi bagi AI dan cloud computing. Kapasitas operasional data center di negara tersebut meningkat dari 68 megawatt pada 2021 menjadi lebih dari 440 megawatt pada 2025. Pada periode yang sama, Arab Saudi telah memiliki lebih dari 60 data center yang dikembangkan oleh lebih dari 20 perusahaan dengan investasi lebih dari 16 miliar riyal.

Bagi Arab Saudi, perkembangan ini dapat menjadi bagian dari upaya mengubah posisi negara dari sekadar konsumen teknologi menjadi salah satu pusat komputasi AI. Namun, ketergantungan terhadap chip asing tetap menjadi persoalan. Jika kemampuan AI dibangun dengan teknologi yang berasal dari luar negeri, perubahan kebijakan negara pemasok dapat memengaruhi kemampuan Arab Saudi untuk memperluas infrastrukturnya.

Persoalan lainnya adalah bagaimana investasi tersebut menghasilkan kemampuan domestik. Arab Saudi tidak hanya membutuhkan chip dalam jumlah besar, tetapi juga tenaga ahli yang mampu mengembangkan model AI, mengelola pusat data, melakukan penelitian, dan menciptakan perusahaan teknologi baru. National Strategy for Data and AI sendiri menargetkan lebih dari 20.000 tenaga ahli dan spesialis data serta AI.

Karena itu, berburu chip AI sebenarnya baru merupakan salah satu bagian dari ambisi teknologi Arab Saudi. Chip dapat menyediakan kemampuan komputasi, tetapi tidak secara otomatis menghasilkan industri AI yang kuat. Nilai strategisnya baru akan terlihat jika infrastruktur tersebut mampu mendorong riset, menciptakan tenaga ahli, dan menghasilkan perusahaan serta teknologi yang dapat berkembang di dalam negeri.

Pada akhirnya, langkah Arab Saudi membeli chip AI menunjukkan bahwa persaingan teknologi global semakin berkaitan dengan akses terhadap infrastruktur komputasi. Negara yang memiliki akses terhadap chip canggih akan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan AI dalam skala besar, sementara negara pemasok tetap memiliki pengaruh melalui aturan ekspor dan teknologi yang mereka kuasai.

Arab Saudi karena itu tidak hanya sedang berburu chip. Negara tersebut sedang berusaha mendapatkan posisi dalam industri AI global. Tantangannya adalah memastikan bahwa investasi besar pada GPU, data center, dan teknologi asing dapat berubah menjadi kemampuan domestik yang bertahan dalam jangka panjang.