Konten dari Pengguna

Di Balik Saham Nvidia, Ada Persaingan Amerika dan Tiongkok

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roger Alexsander sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedung Nvidia di Pune, India. Foto: Abhishek Kumar/Unsplash. Sumber foto
zoom-in-whitePerbesar
Gedung Nvidia di Pune, India. Foto: Abhishek Kumar/Unsplash. Sumber foto

Lead: Prospek saham Nvidia ikut ditentukan oleh keputusan politik di Washington dan Beijing. Persaingan kedua negara memperlihatkan bagaimana perusahaan multinasional harus mempertemukan kepentingan bisnis, keamanan nasional, dan ketergantungan teknologi.

Saham Nvidia mengundang perhatian karena menjanjikan pertumbuhan dari bisnis kecerdasan buatan. Akan tetapi, kecanggihan produk tidak menjamin perusahaan dapat menjualnya ke semua pasar. Pelanggan bisa membutuhkan chip, pesanan bisa tersedia, tetapi keputusan pemerintah dapat membatasi transaksi. Ketidakpastian inilah yang membuat hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok penting ketika kita menilai prospek Nvidia.

Laporan keuangan Nvidia yang diumumkan pada 26 Agustus 2026. Perusahaan mencatat pendapatan US$96,2 miliar untuk kuartal kedua tahun fiskal 2027, yang berakhir pada 26 Juli 2026, naik 106 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Akan tetapi, dalam proyeksi kuartal berikutnya, Nvidia tidak memasukkan asumsi pendapatan komputasi pusat data dari Tiongkok. Di tengah pertumbuhan yang besar, akses ke pasar tersebut masih menyisakan ketidakpastian.

Dua informasi itu memperlihatkan persoalan utama Nvidia. Perusahaan dapat berkembang pesat secara global sekaligus menghadapi batas politik di pasar tertentu. Bagi investor, memahami perusahaan ini membutuhkan perhatian terhadap kemampuan bisnisnya dan hubungan antarnegara yang menentukan ruang geraknya.

Posisi Nvidia menjadi penting karena produknya digunakan dalam pengembangan AI. GPU atau unit pemrosesan grafis, mampu mengerjakan banyak perhitungan secara paralel sehingga berguna untuk melatih dan menjalankan model AI. Kebutuhan komputasi inilah yang menghubungkan bisnis chip dengan pembangunan kapasitas teknologi suatu negara. Kemampuan mengakses teknologi semacam dalam kajian hubungan internasional dapat memengaruhi posisi tawar. Negara yang memiliki akses lebih baik mempunyai peluang lebih besar untuk mengembangkan layanan digital, penelitian, dan industri berbasis AI. Karena itu, keputusan mengenai perdagangan chip ikut menyentuh pertanyaan tentang siapa yang mampu mengembangkan teknologi dan siapa yang bergantung pada pemasoknya.

Amerika Serikat memperlihatkan hubungan antara perdagangan dan keamanan melalui kebijakan perizinan ekspor. Pada 13 Januari 2026, Bureau of Industry and Security mengumumkan bahwa permohonan ekspor chip Nvidia H200 dan produk sejenis ke Tiongkok akan ditinjau kasus per kasus. Persetujuan tetap mensyaratkan pemenuhan ketentuan keamanan, termasuk pemeriksaan pihak ketiga di Amerika Serikat dan prosedur kepatuhan pembeli.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa penjualan dapat dibuka secara terbatas sambil tetap berada di bawah kendali negara. Washington berusaha mempertahankan manfaat ekonomi dari industri teknologinya sekaligus mengatur akses terhadap produk yang dianggap strategis. Kepentingan perusahaan untuk memperluas pasar pun harus berhadapan dengan pertimbangan pemerintah mengenai keamanan.

Persetujuan Amerika Serikat juga belum menjamin penjualan berjalan lancar. Nvidia dalam laporan kuartalnya menyatakan bahwa izin untuk mengirim sebagian produk H200 kepada pelanggan tertentu di Tiongkok masih berhadapan dengan pembatasan pemerintah Tiongkok. Perusahaan belum dapat menjual seluruh produk yang telah memperoleh izin tersebut. Di sinilah posisi perusahaan multinasional menjadi menarik. Nvidia memiliki teknologi dan jaringan bisnis internasional, tetapi tetap harus menyesuaikan diri dengan keputusan negara asal maupun negara tujuan. Kasus ini memperlihatkan bahwa besarnya kekuatan ekonomi perusahaan tidak serta merta memberinya kebebasan menentukan seluruh kegiatan bisnisnya.

Tiongkok memiliki kepentingan untuk memperkuat pemasok domestik. Reuters pada 10 September 2026 melaporkan kenaikan harga chip AI sejumlah produsen Tiongkok, termasuk Huawei dan Cambricon, di tengah keterbatasan pasokan memori berkecepatan tinggi. Laporan itu menggambarkan bahwa pengembangan alternatif lokal terus berlangsung, tetapi masih menghadapi kendala komponen.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa ketergantungan teknologi sulit dilepaskan dalam waktu singkat. Memiliki rancangan chip sendiri belum otomatis membuat seluruh kebutuhan produksi dapat dipenuhi secara mandiri. Pada saat yang sama, pembatasan akses terhadap pemasok asing memberikan dorongan tambahan untuk mencari pengganti. Keamanan pasokan kemudian menjadi pertimbangan yang berjalan bersama harga dan kemampuan produk.

Bagi Nvidia, perubahan itu dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Jika pelanggan membangun sistem dan keahlian menggunakan produk pesaing, mereka belum tentu segera kembali ketika aturan ekspor dilonggarkan. Kerugian strategis yang perlu diperhatikan investor mencakup kemungkinan berkurangnya pengaruh perusahaan dalam ekosistem teknologi, di samping peluang penjualan yang tertunda.

Persaingan tersebut masuk ke pasar saham melalui penilaian investor terhadap masa depan perusahaan. Ketika akses pasar dibatasi, investor perlu menghitung kembali pendapatan yang mungkin diperoleh, biaya yang harus ditanggung, dan peluang pesaing merebut pelanggan. Izin ekspor yang terlihat administratif dengan demikian dapat memengaruhi ekspektasi keuntungan dan penilaian terhadap saham. Sebagai contoh historis, Reuters mencatat saham Nvidia turun 6,9 persen pada 16 April 2025 setelah perusahaan memperingatkan dampak pembatasan baru ekspor H20 ke Tiongkok. Pada hari yang sama, pasar Amerika juga tertekan oleh kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi dan inflasi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa risiko kebijakan dapat hadir bersamaan dengan sentimen ekonomi yang lebih luas. Menghubungkan setiap kenaikan atau penurunan saham Nvidia hanya dengan konflik Amerika Tiongkok akan terlalu menyederhanakan persoalan. Pertumbuhan permintaan AI, kemampuan memenuhi pesanan, persaingan usaha, dan ekspektasi keuntungan juga perlu diperhatikan. Geopolitik menambah ketidakpastian pada perhitungan tersebut; pengaruhnya perlu dibaca bersama kondisi perusahaan.

Kasus Nvidia juga memperlihatkan bentuk kerja sama internasional yang tetap berlangsung di tengah persaingan. Dalam laporan kuartalannya, perusahaan menegaskan ketergantungan pada pasokan mitra luar negeri, terutama di Taiwan dan Korea Selatan. Artinya, kemampuan perusahaan Amerika menjual teknologi ke pasar global tetap ditopang oleh hubungan produksi lintas batas. Negara ingin memiliki kendali atas teknologi strategis, sementara perusahaan membutuhkan jaringan pemasok dan pelanggan yang melampaui wilayah satu negara. Ketika pemerintah membatasi salah satu hubungan tersebut, dampaknya dapat menjalar kepada pelaku usaha lain yang terhubung dalam jaringan yang sama.

Indonesia perlu membaca persoalan ini ketika mengembangkan kerja sama teknologi. Memilih mitra untuk pusat data atau layanan AI perlu pertanyaan tentang biaya investasi disertai penilaian terhadap keberlanjutan pasokan, akses pemeliharaan, serta kemampuan tenaga kerja lokal. Ketergantungan pada satu pemasok dapat menjadi kerentanan jika hubungan politik atau aturan perdagangan berubah. Kerja sama dengan perusahaan multinasional perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam negeri. Pelatihan tenaga ahli, penguatan riset, dan kemampuan mengoperasikan teknologi layak menjadi bagian dari penilaian keberhasilan kerja sama. Dengan kemampuan tersebut, Indonesia akan lebih siap menyesuaikan pilihan mitra ketika lingkungan internasional berubah.

Di balik saham Nvidia, investor sesungguhnya sedang menilai seberapa besar kemajuan teknologi dapat diterjemahkan menjadi bisnis yang berkelanjutan. Jawabannya ikut bergantung pada hubungan antara Washington dan Beijing. Selama akses terhadap chip menjadi bagian dari persaingan kedua negara, membaca laporan keuangan Nvidia perlu disertai pemahaman tentang siapa yang dapat membuka atau menutup pintu pasarnya.