Konten dari Pengguna

Fenomena Childfree di Kalangan Gen Z dalam Perspektif Islam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rohadatul Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pasangan yang takut gagal menjadi orang tua sehingga mengambil keputusan childfree demi masa depan yang lebih cerah (Ilustrasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan yang takut gagal menjadi orang tua sehingga mengambil keputusan childfree demi masa depan yang lebih cerah (Ilustrasi dibuat oleh AI)

Belakangan ini, istilah childfree semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari Tiktok, X, Instagram, hingga berbagai podcast, banyak pasangan muda yang secara terbuka mengaku tidak ingin memiliki anak setelah menikah. Keputusan tersebut tentu menuai berbagai tanggapan. Ada yang mendukung dengan alasan setiap pasangan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, tetapi tidak sedikit pula yang menganggap keputusan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai keluarga dan ajaran agama.

Menariknya, jika diperhatikan lebih jauh, alasan yang mereka sampaikan bukan karena membenci anak. Justru sebagian besar mengaku menyukai anak-anak, mereka hanya takut menjadi orang tua yang gagal.

Ketakutan itu tidak muncul tanpa alasan. Banyak pasangan Gen Z yang tumbuh dalam kondisi keluarga yang serba terbatas. Ada yang sejak kecil harus hidup dalam tekanan ekonomi, tinggal di rumah yang kurang layak, melihat orang tuanya bekerja keras, namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, bahkan harus menahan keinginan sederhana karena keterbatasan biaya.

Di sisi lain, media sosial membuat perbandingan hidup menjadi semakin nyata. Setiap hari mereka melihat keluarga lain yang tampak lebih mapan, anak-anak yang dapat menikmati pendidikan terbaik, liburan ke berbagai tempat yang unik, hingga kehidupan yang lebih nyaman. Tanpa mereka sadari ketakutan akan masa depan muncul dalam diri mereka. Ketakutan itulah yang kemudian berkembang menjadi keputusan untuk tidak memiliki anak sama sekali.

Bagi sebagian Gen Z, memiliki anak bukan lagi sekadar tentang kesiapan biologis. Menjadi orang tua dipandang sebagai tanggung jawab besar yang membutuhkan kesiapan mental, emosional, finansial, bahkan kesiapan ilmu dalam mendidik anak.

Mereka takut tidak mampu menjadi orang tua yang baik. Takut emosi yang belum stabil justru melukai sang anak. Takut masalah ekonomi membuat anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Takut anak harus merasakan kehidupan yang sama sulitnya seperti yang pernah mereka alami.

Jika dipikirkan sekilas, alasan tersebut terdengar sangat masuk akal. Sebab, menjadi orang tua bukan perkara yang mudah. Biaya pendidikan semakin mahal, harga rumah terus meningkat, kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang pesat, dan lapangan pekerjaan belum tentu memberikan penghasilan yang stabil.

Fenomena ini menunjukkan bahwa childfree bukan hanya persoalan gaya hidup, tetapi juga cerminan kecemasan sosial yang sedang dialami generasi muda. Mereka tidak sekadar takut memiliki anak, tetapi takut gagal menjalankan peran sebagai orang tua. Namun, apakah ketakutan tersebut cukup menjadi alasan untuk menolak memiliki keturunan?

Dalam perspektif Islam, pernikahan bukan hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis atau membangun hubungan antara suami dan istri. Pernikahan juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah serta menjaga keberlangsungan keturunan (hifz al-nasl), yang merupakan salah satu tujuan utama syariat islam (maqasid al-syari’ah).

Mayoritas ulama memandang bahwa memiliki keturunan merupakan bagian dari tujuan mulia dalam pernikahan. Hal ini juga didukung oleh anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam menikah dengan pasangan yang penuh kasih dan subur, karena beliau berharap umatnya menjadi banyak pada hari kiamat kelak. Oleh karena itu, keputusan untuk menolak memiliki anak secara permanen sejak awal pernikahan pada umumnya dipandang tidak sejalan dengan tujuan tersebut.

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan bahwa setiap anak yang lahir telah membawa rezekinya masing-masing. Allah SWT berfirman:

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud:6)

Ayat ini mengingatkan bahwa rezeki bukan semata-mata hasil kemampuan manusia, melainkan juga merupakan karunia Allah. Bukan berarti umat Islam boleh bermalas-malasan tanpa berusaha, tetapi kekhawatiran terhadap masa depan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kepercayaan kepada pertolongan Allah.

Sering kali, ketakutan terhadap kemiskinan membuat seseorang membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum terjadi. Padahal yang memulai rumah tangga dengan ekonomi sederhana, perlahan Allah membukakan pintu rezeki setelah mereka berusaha dan bertawakal.

Begitu pula dengan kekhawatiran tidak mampu menjadi orang tua yang baik. Tidak ada orang tua yang langsung mengetahui semua cara mendidik anak sejak hari pertama kelahiran. Menjadi orang tua adalah proses belajar sepanjang hayat. Kesalahan tentu mungkin terjadi, tetapi dari kesalah itulah seseorang belajar memperbaiki diri. Bukan berarti Islam mengabaikan pentingnya kesiapan. Justru Islam menganjurkan pasangan untuk mempersiapkan pernikahan sebaik-baiknya, baik dari sisi ilmu, mental, maupun kemampuan mencari nafkah. Persiapan merupakan bentuk ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Allah sebagai bentuk tawakal.

Dalam kondisi tertentu, Islam juga memberikan kelonggaran apabila terdapat alasan medis yang serius, misalnya kehamilan yang berisiko tinggi yang dapat membahayakan keselamatan ibu atau kondisi kesehatan tertentu yang dibuktikan secara medis. Pertimbangan seperti ini tentu berbeda dengan keputusan childfree yang semata-mata didasarkan pada ketakutan terhadap masa depan.

Sebagai generasi muda, kita memang hidup di zaman yang penuh tantangan. Biaya hidup semakin tinggi, persaingan kerja semakin ketat, dan tuntutan sosial semakin besar. Wajar apabila muncul rasa cemas ketika membayangkan tanggung jawab membesarkan anak. Akan terapi, rasa cemas tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan besar yang akan memengaruhi perjalanan hidup dan tujuan pernikahan.

Pada akhirnya, fenomena childfree di kalangan Gen Z bukan sekadar tentang menolak memiliki anak. Fenomena ini adalah gambaran bagaimana banyak anak muda sedang bergulat dengan trauma, tekanan ekonomi, dan rasa takut menghadapi masa depan. Ketakutan tersebut adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, sebagai seorang Muslim, rasa takut seharusnya tidak mengalahkan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai setiap ikhtiar hamba-Nya.

Membangun keluarga memang butuh kesiapan. Akan tetapi, kesiapan tidak selalu berarti harus menunggu segala sesuatu menjadi sempurna. Sebab, kesemprnaan tidak pernah benar-benar datang. Yang terpenting adalah terus berusaha memperbaiki diri, mempersiapkan bekal sebaik mungkin, kemudian menyerahkan kepada Allah SWT dengan penuh kepercayaan. Karena pada akhirnya, setiap amanah yang Allah titipkan selalu disertai dengan kemampuan untuk menjalaninya.