Bukan Sekadar Kata, Tapi Sikap: Anak Mencontoh Perilaku Orang Tua

Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rohana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usia dini merupakan masa awal kehidupan anak dan merupakan masa awal rentan kehidupan anak. Perkembangan anak pada usia dini disebut sebagai “Golden Age” yang artinya disini perkembangan pada usia ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan di periode selanjutnya. Oleh karena itu sangat penting bagi orang tua untuk memberikan dukungan yang baik agar anak tumbuh kembang sesui usianya tanpa memiliki gangguan yang mengahalangi pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Salah satu karakter yang melekat pada anak usia dini adalah suka meniru. Di karakter ini anak akan cenderung untuk meniru apa saja yang di lakukan oleh orang-orang di sekitarnya baik itu di lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Perlakuan anak akan dibentuk oleh orang-orang disekitarnya baik ataupun buruk perlakuan anak tergantung dari stimulus yang dia dapat dari orang disekitanya terkhusus orang tua.
Lingungan merupakan tempat anak untuk tumbuh dan berkembang katika lingkungan memberikan hal-hal positif maka anak akan mendapatkan hal-hal positif pula misalnya dalam hal bertutur kata, berperilaku baik, tidak membuat masalah di lingkungannya contohnya, mencuri, bermain gedget yang berlebihan dan perlakuan buruk lainnya, begitupun sebaliknya jika anak berada di lingkungan yang tidak baik maka anak pasti akan cenderung untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya.
Dampak yang terjadi pada anak ketika mendapatkan stimulus yang tidak baik, maka akan berpengaruh di usia anak ketika remaja ataupun dewasa. Anak akan cenderung terbiasa berperilaku buruk, misalnya anak yang terbiasa berkata kasar, maka di usia dewasa anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan dalam menjaga hubungan sosial,dan mereka mungkin akan dianggap kurang sopan dan juga mereka akan sulit diajak untuk bekerja sama. Dan contoh lainnya juga seperti anak yang bermain gedget berlebihan, ketika anak bermain gedget berlebihan tanpa di kontrol oleh orang tua maka si anak ini akan mendapatkan gangguan kesehatan ataupun mental seperti kecemasan, depresi dan juga kurang kemampuan fokus misalnya disaat pembelajaran, karena di dalam gedget itu terdapat permainan-permainan yang membuat si anak candu dalam memainkannya.
Dalam mengatasi kasus di atas tadi orang tua harus berperan penting untuk mengatasinya. Cara mengatasinya mungkin orang tua bisa memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anaknya dan juga orang tua harus memberikan ruang yang aman untuk anak-anaknya, misalnya mengajak anak bercerita, bermain pazzle, dan hal-hal positif lainnya. Begitupun dalam hal memegang gedget juga orang tua sebenarnya boleh memberikan gedget kepada anak akan tetapi orang tua harus mempunyai ketegasan dalam membuat aturan agar nanti anak tidak berlarut-larut dalam bermain gedget, misalnya membuat jadwal khusus buat anak yang dimana jadwal anak untuk belajar, bermain, dan menggunakan gedget karena di dalam gedget juga banyak permainan yang menstimulus anak agar mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketika orang tua mampu menerapkan hal seperti itu maka anak akan terbiasa dalam mengatur waktunya dengan baik.
Oleh karena itu penting bagi orang tua menciptakan ruang yang aman bagi anak-anaknya dan orang tua juga harus peduli dalam memberikan pola asuh yang baik bagi anak, jangan menjadi orang tua yang bodoh amat terhadap anak, anak itu titipan tuhan dan orang tua yang menjadi tanggung jawab dalam membesarkan dan menyediakan kebutuhan anak baik itu memberikan pendidikan mulai anak itu di usia dini sampai di usia dewasa. Jikalau orang tua mau anak yang sholeh dan sholehah, pintar, dan mandiri maka didiklah anak itu dengan baik karena hasil dari didikan itu akan mebentuk diri seorang anak baik ataupun buruk anak tergantung dari didikan orang tua.
