Pemerkosaan di Bima: Alarm Keras atas Hancurnya Nilai Sosial Remaja

Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rohana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tragedi pemerkosaan di bima bukan hanya soal kejahatan seksual akan tetapi juga menjadi alarm keras atas hancurnya nilai-nilai sosial di kalangan remaja. Dalam akun instagram mbojoinside terdapat berita tentang “seorang gadis 13 tahun di bima jadi korban pemerkosaan oleh tiga orang terduga yang masih berstatus pelajar”. Kasus ini mencerminkan betapa rusaknya pola pergaulan remaja, kurangnya kontrol sosial dan gagalnya pendidikan karakter yang tertanam di setiap individu yang seharunya pendidikan karakter menjadi pondasi kekuatan bagi setiap remaja.
Kasus ini sangat di sayangkan padahal para remaja tersebut seharusnya berada dalam fase pertumbuhan dan pembentukan jati diri malah justru sebaliknya. Kejadian ini bukan hanya berdampak di korban saja akan tetapi semua kelompok remaja tersebut juga ikut berdampak dan merugikan diri mereka sendiri. Jikalau kita melihat umur sekelompok remaja ini mereka seharusnya lagi sibuk untuk mengejar pendidikan dan meraih banyak prestasi akan tetapi karena pergaulan yang sungguh miris di lingkungan sekitar sehingga mereka ikut terjerumus.
Kejadian ini juga menjadi alarm bagi para orang tua yang mungkin kurang memberikan pendidikan karakter terhadap anaknya dan tidak terlalu mengontrol pergaulan anak. Jikalau kita melihat kronologi kejadian yang posting oleh akun instagram mbjoinside “si korban di ajak keluar jalan-jalan di taman amahami kota bima oleh pelaku pada malam hari dan ternyata si pelaku tidak langsung membawa korban ke tempat yang sudah di janjikan justru dia bawa korban ke tempat lain yang beralasan megambil HP di rumah temannya dan disitu pelaku ternyata membawa korban di rumah kosong dan di situlah mereka melakukan aksi bejatnya dan bukan hanya satu remaja saja akan tetapi juga tiga orang remaja terduga”.
Dari kronologi kejadian ini bisa kita lihat kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya, yang dimana tidak ada larangan untuk anak agar tidak keluar malam. Sehingga sudah menjadi hal yang biasa bagi para remaja untuk keluar malam dengan lawan jenis tanpa kepentigan apa-apa. Dan hal-hal tersebut sudah dinormalisasikan bagi mereka, padahal itu menjadi salah satu faktor yang bisa menghancurkan diri mereka sendiri. Yang kedua adalah kurangnya pendidikan karakter dan seksual sehingga membuat para remaja tidak memahami batasan moral, etika, dan dampak hukum dari tindakan mereka. Yang ketiga adalah lingkungan sosial yang rusak, yang dimana para remaja sudah terpengaruh antara satu sama lain terkait perilaku negatif, maka dari itu banyak para remaja yang menormalisasikan perilaku buruk seperti pelecehan seksual, dan hal ini yang mengakibatkan banyak para remaja yang nikah muda akibat dari pergaulan bebas yang mereka lakukan. Yang terakhir adalah pengaruh media sosial dan kurang literasi digital, seperti informasi dan tren negatif di media sosial kerap kali mejadi rujukan remaja dalam bertindak, karena mereka tidak dibekali kemampuan untuk menilai informasi yang sehat dan positif.
Untuk mengatasi permasalahan ini perlu hal-hal konkrit yang dilakukan oleh para orang tua maupun pemerintah setempat agar kasus-kasus ini bisa berkurang atau tidak terjadi kembali diantaranya adalah. Pendidikan karakter dan edukasi seksual sejak dini, sekolah maupun orang tua perlu untuk memberikan pendidikan karakter yang kuat serta pendidikan seksual sejak dini, hal ini mecakup pemahaman tentang batas tubuh, perlindungan diri dan juga konsekuensi hukum dan moral dari tindakan seksual di luar pernikahan dan kekerasan seksual. Yang kedua pengawasan dan pendampingan orang tua, ini sangat penting orang tua tidak boleh lengah dalam mengawasi pergaulan anak, orang tua harus komunikasi terbuka dengan anak dan memberikan aturan yang jelas. Yang ketiga adalah memberikan lingkungan sosial yang sehat, tokoh masyarakat, sekolah, dan organisasi pemuda harus ikut membangun ruang sosial yang aman, mendukung, dan bebas dari kekerasan.
Kasus ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya nilai sosial dan moral di kalangan remaja saat ini. Krisis ini tidak hanya soal tindakan kriminal, akan tetapi juga mencerminkan kegagalan kolektif dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun karakter generasi muda. Oleh karena itu, peran semua pihak sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Pendidikan karakter yang kuat, pengawasan orang tua yang bijak dan lingkungan sosial yang sehat adalah kunci untuk membentengi remaja terhadap pergaulan bebas dan kekerasan seksual.
