Telinga yang Berbicara: Memulihkan Makna Mendengarkan dalam Komunikasi

Hai! Saya Dwi Azizah, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang. Saya suka berbagi cerita dan informasi seputar hiburan, pendidikan, dan news. Menulis adalah cara saya belajar dan berbagi sudut pandang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dwi Rohimatul Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya berbicara yang mendominasi ruang publik, ada satu keterampilan yang pelan-pelan kehilangan tempatnya: mendengarkan.
Dalam percakapan sehari-hari, kita sering kali lebih sibuk mempersiapkan respons daripada memahami maksud lawan bicara. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak secara mental. Akibatnya, komunikasi tak lagi menjadi jembatan penghubung, melainkan monolog dua arah yang saling berlomba tanpa arah.
Padahal, kemampuan mendengarkan adalah fondasi komunikasi yang sehat. Bukan hanya sekadar mendengar suara, tetapi memahami isi, meresapi emosi, dan menunjukkan kepedulian.
Mendengarkan: Keterampilan yang (Hampir) Terlupakan
Larry L. Barker dalam Listening Behavior menyebut bahwa mendengarkan adalah proses aktif yang membutuhkan perhatian, pemahaman, dan interpretasi. Artinya, mendengarkan bukan kegiatan pasif, melainkan aksi mental dan emosional yang kompleks.
Judi Brownell memperkenalkan model HURIER (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, Responding), yang menjelaskan bahwa mendengarkan adalah sebuah proses bertahap. Setiap tahapnya menuntut keterlibatan yang utuh—tidak bisa setengah hati.
Sebuah laporan dari Harvard Business Review (2016) bahkan menekankan bahwa pemimpin terbaik bukan yang paling lantang berbicara, melainkan yang paling andal mendengarkan. Pendengar yang baik mampu membangun rasa percaya, mendorong ide, dan menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk tumbuh.
Mengapa Mendengarkan Itu Penting?
Data dari International Listening Association mencatat bahwa sekitar 45% aktivitas komunikasi manusia dihabiskan untuk mendengarkan, namun kita hanya mampu mengingat sekitar 25–50% dari apa yang didengar. Angka ini menunjukkan bahwa meski mendengarkan adalah aktivitas dominan, kita masih sangat lemah dalam melakukannya secara efektif.
Lebih lanjut, studi dari McKinsey & Company (2021) menyebut bahwa karyawan yang merasa "didengar" oleh atasan menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 40% dan loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan.
Dalam konteks sosial, penelitian dari Greater Good Science Center – UC Berkeley menyebut bahwa mendengarkan secara empatik dapat mengurangi konflik, meningkatkan rasa aman dalam hubungan, serta memperkuat kohesi sosial di komunitas.
Mendengarkan Sebagai Alat Rekonsiliasi dan Kepemimpinan
Dalam dunia yang dipenuhi perbedaan pendapat, mendengarkan bisa menjadi jembatan pemulih. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, dikenal bukan hanya karena retorikanya yang kuat, tetapi juga karena kesediaannya mendengarkan semua pihak—termasuk lawan politiknya. Dalam autobiografinya, Mandela menulis: "A leader is like a shepherd... He stays behind the flock, letting the most nimble go out ahead, whereupon the others follow, not realizing that all along they are being directed from behind."
Ini adalah bukti bahwa mendengarkan adalah strategi kepemimpinan, bukan kelemahan.
Tips Menjadi Pendengar yang Lebih Baik
Beberapa cara praktis untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan:
- Tatap mata lawan bicara, tunjukkan bahwa Anda hadir sepenuhnya.
- Berikan jeda sebelum merespons—hindari memotong atau menyela.
- Gunakan bahasa tubuh terbuka dan ekspresi wajah yang selaras dengan pesan.
- Parafrase atau ulang inti pesan untuk menunjukkan pemahaman.
- Latih mindfulness, hadir secara sadar dalam setiap percakapan.
Menurut Julian Treasure, pakar komunikasi dan penulis buku How to Be Heard, kemampuan mendengarkan bisa dilatih seperti otot. Ia menyarankan untuk mempraktikkan listening silence—menyisihkan waktu dua hingga tiga menit dalam sehari untuk benar-benar hening, agar telinga dan pikiran terbiasa menangkap makna di balik kata.
Dunia yang Mau Mendengar, Dunia yang Lebih Manusiawi
Di era di mana setiap orang ingin didengar, mungkin yang paling kita butuhkan adalah lebih banyak orang yang bersedia mendengarkan. Mendengarkan bukan hanya keterampilan komunikasi, tetapi bentuk penghormatan terhadap sesama. Di ruang kerja, di rumah, maupun di masyarakat, mendengarkan yang tulus bisa mengubah cara kita memahami dunia dan satu sama lain.
Karena sejatinya, telinga yang berbicara adalah telinga yang mampu mendengar—dengan kesadaran, empati, dan hati.
