Dua Singgasana, Satu Pengabdian

ASN Kementerian Agama Kab. Kuningan
ยทwaktu baca 6 menit
Tulisan dari Rohmah Elfrida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Izinkan aku bercerita tentang sebuah kursi. Bukan kursi sembarang kursi, melainkan kursi yang diperebutkan ribuan orang, dipertaruhkan dengan doa, air mata, bahkan usaha maksimal bertahun-tahun. Tapi kursi itu justru jatuh ke pangkuan seseorang yang bahkan tidak pernah memimpikannya. Orang itu adalah aku.
Ada manusia-manusia yang sejak kecil sudah menuliskan cita-citanya di halaman pertama hidup mereka, rapi, dengan tinta yang tak pernah luntur oleh hujan zaman. Mereka tahu hendak ke mana, dan berjalan lurus menujunya seperti anak panah yang sudah tahu sasarannya. Aku tidak begitu. Aku hanya seorang perempuan dengan banyak mimpi kecil yang berserakan, dan sungguh, menjadi abdi negara bukan satu pun di antaranya.
Lima belas tahun lalu, aku duduk di sebuah ruang ujian dengan kepala yang penuh sesak, bukan oleh rumus atau soal yang harus kupecahkan, melainkan oleh satu niat sederhana: mengantar bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. Sebab sejak kecil aku dibesarkan dengan satu ayat kehidupan yang tak pernah pudar: rida Allah ada pada rida orang tua. Maka hari itu aku datang tanpa senjata. Tak ada buku yang kupelajari sungguh-sungguh malam sebelumnya, tak ada bimbingan belajar, tak ada strategi cerdik seperti peserta lain. Yang kubawa hanya doa kedua orang tuaku yang dipanjatkan diam-diam di sepertiga malam, dan keyakinan kecil yang naif namun kukuh: jika sebuah langkah dimulai dari rida, Tuhan pasti menunjukkan ke mana kaki ini harus melangkah.
Dan Tuhan benar-benar menunjukkannya. Ketika namaku muncul di antara mereka yang dinyatakan lulus, dadaku bergetar oleh perasaan yang campur aduk tak karuan. Bahagia, iya. Terharu, sudah tentu, air mataku tumpah seperti hujan pertama yang turun tanpa pernah memberi kabar. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku terpaku lama di depan pengumuman itu: aku baru saja memiliki sesuatu yang bahkan tak pernah kuinginkan. Aku tahu benar, kelulusanku murni dari doa, bukan dari titipan siapa pun, bukan dari amplop yang berpindah tangan di bawah meja. Tapi bersamaan dengan syukur itu, tumbuh pula sebuah pertanyaan yang membuntutiku bertahun-tahun seperti bayang-bayang yang enggan pergi walau senja sudah lama tenggelam: pantaskah aku duduk di kursi ini, sementara di luar sana beribu orang mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya demi kursi yang justru kudapatkan tanpa perlu bersusah payah?
Begitulah aku memulai hidup sebagai abdi negara, bukan dengan gegap gempita cita-cita yang lama diperjuangkan, melainkan dengan amanah yang datang seperti hujan yang turun ke ladang yang tak sedang menunggunya, namun kelak tetap menyuburkannya juga. Ditempatku bekerja, aku diamanahkan sebagai penyusun laporan keuangan. Di dunia angka itu, tak ada ruang untuk hati yang berantakan. Angka hanya kenal satu bahasa: ketepatan. Dari sanalah aku belajar, di atas mejaku setiap pagi ada kepercayaan yang dititipkan: memastikan setiap angka tidak keluar jalur dan dapat dipertanggungjawabkan, sampai ke rupiah terakhir, sebagaimana seorang nelayan menjaga jaringnya agar tak sobek walau ombak sedang ganas-ganasnya.
Sempat kubayangkan, hanya di situlah singgasana yang perlu kujaga seumur hidup. Tapi dugaanku meleset jauh. Begitu langkahku keluar dari pintu kantor, ada singgasana lain yang telah lama menunggu tanpa pernah protes: rumah.
Di rumah aku bukan lagi penyusun laporan. Aku istri, sekaligus ibu dari lima anak. Dan sungguh, ini adalah kejutan di luar skenario mana pun yang telah digariskan Tuhan: angka lima itu pun tak pernah kurencanakan, sama seperti status ASN-ku. Bedanya, kalau kursi abdi negara adalah amanah yang harus kupelajari mencintainya pelan-pelan, kelima anakku adalah amanah yang membuatku jatuh cinta seketika, secepat kilat menyambar di langit kampung saat hujan pertama turun.
Aku masih ingat, dan akan terus kuingat sampai rambutku memutih seluruhnya seperti kapas yang siap dipanen: bagaimana setiap kelahiran menghadirkan rasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sepasang mata kecil yang baru membuka dunia. Tangis pertama yang memenuhi ruang bersalin, hingga menggema menembus dinding, lalu menetap di dadaku selamanya. Jemari mungil yang menggenggam jariku, tak tahu bahwa tangan kecil itu kelak akan mengajariku arti sabar, takut, lelah, sekaligus bahagia yang tak mungkin dijelaskan pada siapa pun yang belum mengalaminya sendiri. Lima anak, lima manusia dari rahimku, lima amanah yang tak tergantikan oleh apa pun di dunia ini.
Rumahku setiap pagi adalah semacam pasar kecil yang riuh sebelum matahari benar-benar terbit. Lima suara berebut ingin didengar dengan drama yang berganti setiap harinya. Rumah dengan lima anak tidak pernah benar-benar sunyi, dan anehnya, justru dari keramaian itulah aku belajar bahwa cinta akan terus menebarkan cahayanya seperti nyala lilin yang menyalakan lilin lain tanpa kehilangan apinya sendiri. Mungkin bagi dunia, semua itu hanya keributan rumah tangga biasa, tak akan tercatat dalam sejarah siapa pun. Tapi dari keributan penuh cinta semacam itulah masa kanak-kanak dibangun, bata demi bata, seperti rumah panggung yang ditegakkan pelan-pelan oleh tangan yang sabar dan tak pernah mengeluh. Dan aku tahu benar, waktu tak pernah mau mengulang dirinya. Pekerjaan bisa menunggu, laporan bisa diperbaiki esok hari. Tapi lima anak yang hari ini masih memanggil "Ibu" dari sudut-sudut rumah yang berbeda, suatu hari akan tumbuh besar dan pergi satu demi satu, meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi. Masa kecil tak punya tombol jeda. Ia berjalan satu kali, lalu pergi, dan tak pernah benar-benar kembali walau kita memanggilnya dengan seluruh rindu yang kita punya.
Dari persimpangan sunyi semacam itulah aku belajar arti pengabdian yang sesungguhnya. Ada hari-hari ketika aku merasa menjadi ibu yang kurang hadir karena pekerjaan. Ada pula hari-hari ketika aku merasa menjadi pegawai yang kurang maksimal karena pikiranku tertinggal di rumah. Ada rasa bersalah yang kadang datang diam-diam, menyusup seperti udara dingin lewat celah pintu yang tak tertutup rapat, bukan karena aku tidak mencintai pekerjaanku, bukan pula karena aku ingin meninggalkan rumah, tetapi karena aku adalah seorang perempuan yang sedang berusaha berdiri dengan kedua kaki di dua dunia yang sama-sama penting, sama-sama meminta seluruh diriku. Barangkali di situlah aku akhirnya memahami: pengabdian bukan selalu tentang memilih salah satu lalu meninggalkan yang lain. Kadang-kadang, pengabdian adalah tentang belajar membagi hati, pelan-pelan, tanpa membuat salah satunya merasa kehilangan.
Bukan aku yang merencanakan menjadi abdi negara, dan bukan pula aku yang merencanakan menjadi ibu dari lima anak, sebab manusia hanya diberi ruang untuk berharap, sementara Tuhanlah yang sesungguhnya berencana dan berkehendak. Tetapi barangkali memang begitulah cara Tuhan menuliskan sebagian besar kisah hidup kita: kita menyusun rencana, Tuhan yang menuliskan jalan. Kita memilih arah, Tuhan yang menentukan di tempat mana sebenarnya kita paling dibutuhkan. Dan sungguh, kerap kali tempat yang paling tak pernah kita bayangkan itulah justru menjadi tempat kita menemukan makna paling besar dari seluruh hidup kita.
Kini aku tahu, hidup telah memberiku dua singgasana. Satu di kantor, tempat aku menjaga amanah dari rakyat. Satu lagi di rumah, tempat aku menjaga lima kehidupan yang Tuhan titipkan khusus kepadaku. Dua singgasana yang kadang membuatku lelah hingga ingin rebah begitu saja selepas magrib. Tapi tak pernah, sekali pun, membuatku ingin berhenti mencintai keduanya. Sebab pada akhirnya, pengabdian yang sesungguhnya bukan tentang kepada siapa kita mengabdi, melainkan seberapa utuh hati kita menjaga apa yang telah dipercayakan, di dua singgasana yang sama-sama, dan akan selalu, kucintai.
