Konten dari Pengguna

Milenial Mengawal APBN Indonesia Maju

Rohmah Elfrida
ASN Kementerian Agama Kab. Kuningan
1 Maret 2022 13:52 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Rohmah Elfrida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Image Credit by : https://www.pexels.com/search/technology/
zoom-in-whitePerbesar
Image Credit by : https://www.pexels.com/search/technology/
ADVERTISEMENT
Apakah anda lahir pada kisaran Tahun 1980-an sampai dengan 2000-an? Jika iya, maka anda adalah generasi milenial. Hal yang menarik dari generasi kelahiran setelah Baby Boomer ini yaitu tumbuh dan berkembang di ruang dinamis teknologi informasi.
ADVERTISEMENT
Aktivitas sehari-hari mereka identik dengan kecepatan beradaptasi dengan platform digital dan keterbukaan menerima inovasi baru. Generasi Millenial dimanjakan oleh akses yang mudah dalam segala aktivitasnya cukup dengan jentikan jari di layar gadget semua bisa terakses dengan mudah sesuai kebutuhan.
Dikatakan juga generasi milenial adalah generasi emas penerus bangsa yang produktif, berharga dan berkualitas. Namun dibalik kelebihannya mereka terkenal dengan gaya hidup YOLO dan FOMO. YOLO (you only live once), alias, nikmatilah kehidupan masa sekarang tanpa perlu mengkhawatirkan masa yang akan datang atau istilah kerennya lagi easy going begitu kira-kira. Sedangkan FOMO (fear of missing out), artinya ketakutan ketinggalan mode yang sedang berlangsung di lingkaran komunitasnya.
Tentu saja dari fenomena tersebut akan memicu beragam masalah keuangan yang akan dihadapi di antaranya, kesulitan menabung, boros dan kurangnya analisa terhadap kebutuhan investasi masa depan.
ADVERTISEMENT
Akibatnya, generasi milenial diramalkan menghadapi risiko finansial lebih besar di masa depan sebagai efek dari gaya pengelolaan keuangan yang kurang sehat.
Sejalan dengan mobilitas kaum milenial maka Kementerian Keuangan Republik Indonesia turut menyesuaikan keadaan yang tengah terjadi, salah satunya adalah dengan gencar memperkenalkan wawasan perekonomian mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) khususnya generasi milenial.
Seperti dilansir salah satu media, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pihaknya telah menempuh berbagai cara seperti melalui media sosial, program Indonesia Mengajar, mengadakan olimpiade tingkat SMA, hingga sosialisasi langsung kepada anak-anak PAUD.
Hal tersebut ditujukan Sri Mulyani agar masyarakat memahami informasi APBN secara utuh mengingat banyak informasi yang disampaikan sepotong-sepotong sehingga akhirnya bermuara pada kesimpulan yang berbeda-beda. karenanya ia merasa penting bagi Kemenkeu untuk mengajak generasi ini bisa memahami APBN secara penuh.
ADVERTISEMENT
Pada kesempatan lain, dalam acara Ministry of Finance Festival (MOFEST) 2021 Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengajak serta memfasilitasi generasi milenial untuk melek APBN.
Acara ini selain untuk memfasilitasi juga sebagai wadah kolaborasi generasi muda dalam mewujudkan Visi Indonesia 2045, yakni berdaulat, maju, adil, dan makmur.
Langkah cemerlang ini pun diapresiasi oleh beragam kalangan baik muda maupun tua, dengan memahami dan belajar instrumen APBN diharapkan generasi muda mampu mengelola keuangan negara dalam membangun tanah air Indonesia sebagaimana cita-cita bangsa yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar Negara RI yaitu mewujudkan Negara adil dan makmur.
Mengingat Indonesia kaya akan jumlah penduduk, maka hal ini tentu saja menjadi nilai plus tersendiri karena faktor demografi ini mempunyai peran yang sangat vital guna mendorong pertumbuhan ekonomi negara, serta meningkatkan produk domestic bruto (PDB).
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk Indonesia tahun 2020 tercatat sebanyak 270,20 juta jiwa dengan jumlah penduduk usia milenial mencapai 70,72 persen.
Data penunjang lain, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) periode Agustus 2021, Generasi milenial akan terus mendominasi hingga tahun 2035, hal ini ditunjang pula dengan keadaan demografi Indonesia pada Tahun 2030 sehingga milenial menjadi kaum yang berpeluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Agar bangsa Indonesia ini dapat memperoleh manfaat maksimal dari bonus demografi, keadaan sumber daya manusia pada usia produktif harus diselaraskan dengan eskalasi kualitas dari bidang pendidikan, kesehatan, serta keterampilan individu yang merefleksikan keberpihakan APBN.
Oleh sebab itu, Sri Mulyani menginginkan generasi milenial dapat memiliki rasa kepedulian terhadap sekitar, kepintaran, karakter, dan mau bergerak untuk negara.
ADVERTISEMENT
Sepuluh tahun ke depan generasi milenial diprediksi akan tumbuh sebagai penopang ekonomi bangsa. Rasa kebersamaan, saling memiliki, bergotong royong membangun bangsa, menjadi modal pemersatu untuk melindungi dan memajukan bangsa ini.
Sebab memajukan bangsa tidak sekadar dengan menjadi ASN, polisi maupun tentara, hanya dengan menjadi pembayar pajak yang taat maka generasi milenial dapat menjadi pahlawan keuangan negara.
Harapan lain yang tersemat untuk generasi muda adalah kader yang akan memimpin bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Di tangan generasi mudalah tongkat estafet kepemimpinan dan pengelolaan ekonomi dipegangnya untuk mengawal APBN lebih maju.
Membicarakan generasi muda memang tidak akan ada habisnya, oleh karena itu kita sepakat bahwa generasi muda yang baik ialah generasi yang bukan hanya menyantap, memakan dan menikmati hasil jerih payah orang lain. Tapi generasi yang baik adalah yang pandai menanam dan merawat jasa untuk umat seribu tahun yang akan datang.
ADVERTISEMENT