Kopi Bukan Sekadar Minuman: Transformasi Biskuit dan Kopi Jadi Peluang Usaha

Rohmawan Mujadah Wijayanta adalah mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Brawijaya yang aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rohmawan Mujadah Wijayanta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Argoyuwono, 5 Agustus 2025 — Dalam rangka memberdayakan potensi lokal Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Kelompok 29 menghadirkan inovasi kuliner dalam kategori Masak Kilat yang sederhana namun kaya manfaat. Kegiatan ini dipelopori oleh Rohmawan Mujadah Wijayanta, mahasiswa aktif yang mengusung program kerja bertajuk “Tiramisu Sederhana Berbahan Kopi Lokal dan Eggdrop Biskuit”. Program ini menjadi sorotan karena menggabungkan Berita Terkini Masak Kilat, Berita Hari Ini Masak Kilat, dan potensi kuliner desa sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
Paduan Tiramisu dan Kopi Lokal untuk Pemberdayaan Ibu Desa
Pelatihan ini terlaksana melalui kerja sama dengan Kelompok Senam Insan Sehat Desa Argoyuwono. Rohmawan menggagas pelatihan pembuatan camilan modern berbahan dasar kopi robusta lokal. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan produk olahan berbasis Tiramisu yang mudah dibuat, hemat biaya, serta punya nilai ekonomi tinggi. Upaya ini selaras dengan Berita Terkini Tiramisu dan Berita Terbaru Kopi, yang menyoroti tren inovasi UMKM di wilayah pedesaan.
Pelatihan dilakukan langsung bersama para ibu-ibu anggota kelompok senam yang rutin mengikuti kegiatan pemberdayaan. Para peserta belajar membuat Tiramisu Masak Kilat dengan bahan seperti eggdrop biskuit bulat, whip cream bubuk instan, kopi robusta seduh, serta bubuk cokelat sebagai topping akhir.
Antusiasme Peserta dan Potensi Usaha Rumahan
“Ide ini tidak hanya menyenangkan, tapi juga membuka peluang baru bagi kami untuk memanfaatkan kopi dari desa sendiri,” ungkap Ibu Lilis, salah satu peserta pelatihan. Ia mengaku baru pertama kali membuat tiramisu dan merasa tertarik menjualnya sebagai produk rumahan.
Kegiatan berlangsung santai dan interaktif. Proses dimulai dari mengocok whip cream, menyusun biskuit yang telah dicelup kopi, lalu ditutup dengan taburan bubuk cokelat. Hasil tiramisu disajikan dalam wadah praktis dan bisa langsung dikonsumsi.
Sebagai media edukasi dan dokumentasi, Rohmawan juga merancang poster infografis bertajuk “Simple Tiramisu” yang membimbing pembuatan tiramisu dalam bentuk visual. Poster ini dibagikan ke peserta dan akan dipasang di lokasi strategis seperti balai desa dan posyandu agar informasi tersebar lebih luas.
Apresiasi terhadap Kopi Argoyuwono
Menurut Rohmawan, penggunaan kopi bukan sekadar pemanis resep, tetapi bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam desa. “Kopi robusta dari Argoyuwono punya cita rasa khas. Sayang kalau hanya dijual mentah. Kami ingin mendorong masyarakat mengolahnya jadi produk kreatif yang bisa bersaing,” tuturnya. Pernyataan ini selaras dengan sorotan Berita Hari Ini Kopi yang menekankan pentingnya diversifikasi produk pertanian lokal.
Penutup dan Harapan
Program kerja ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa diwujudkan lewat cara sederhana dan menyenangkan. Dengan pendekatan kuliner lokal dan metode masak kilat, warga desa tak hanya menikmati hasilnya tapi juga melihat peluang usaha nyata.
Kegiatan ditutup dengan sesi berbagi kesan dan diskusi wirausaha ringan. Diharapkan, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mendorong wirausaha rumahan berbasis potensi lokal di Desa Argoyuwono.
