Resensi Film Agak Laen: Menyala Pantiku!
Tulisan dari Rojiv Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agak Laen: Menyala Pantiku!
Judul Film: Agak Laen: Menyala Pantiku!
Sutradara: Muhadkly Acho
Produser: Ernest Prakasa, Dipa Andika
Pemeran: Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, Oki Rengga, Tissa Biani, Indah Permatasari, Ari Kriting
Rumah Produksi: Imajinari
Genre: Komedi Drama/Komedi Keluarga
Sinopsis
Bene, Boris, Jegel, dan Oki adalah empat detektif yang reputasinya jauh dari gemilang. Hampir semua kasus yang mereka tangani berakhir kacau. Kesempatan terakhir pun datang: mereka harus menyamar sebagai penghuni panti jompo untuk mengungkap pelaku pembunuhan anak wali kota yang diduga bersembunyi di sana dengan menyamar sebagai lansia. Misi yang awalnya terasa seperti tugas biasa perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal. Di tengah penyamaran, mereka justru menemukan kehangatan, kepedulian, dan ikatan yang tidak mereka duga akan tumbuh di sebuah panti jompo.
Agak Laen: Menyala Pantiku! merupakan sekuel film Agak Laen yang pertama. Berkat kesuksesan film pertamanya, Imajinari berani mengambil peluang dengan menggarap sekuelnya. Film kedua ini melanjutkan kisah empat sahabat yang masing-masing memiliki masalah pribadi, mulai dari perceraian, percintaan, keuangan, hingga keluarga. Mereka disatukan kembali oleh misi yang menjadi kesempatan terakhir untuk membuktikan diri, yakni mencari pelaku pembunuhan anak wali kota yang diduga terakhir kali terlihat di sebuah panti jompo.
Yang membedakan film ini dari seri pertama adalah cerita dan karakternya yang berkembang semakin dalam, tanpa mengurangi kelucuan komedinya. Jika film pertama berlatar di pasar malam, kali ini panti jompo menjadi sorotan utama dalam perjalanan empat sekawan tersebut. Panti jompo disini bukan sekadar latar tempat, melainkan ruang tempat keempat sahabat ini belajar peduli, bertanggung jawab, dan akhirnya merasa memiliki.
Bagian paling ikonik dan membekas bagi saya adalah adegan ketika Boris dan Oki menyamar sebagai sepasang kakek-nenek. Puncaknya, mereka dipaksa tetap berperan (stay in character) hingga harus berciuman demi menjaga penyamaran di depan ibu kos. Satu bioskop pecah tertawa saat itu. Di balik kekonyolannya, terlihat pula totalitas mereka menjalani peran dan kekompakan sebagai sahabat.
Selain disuguhi banyak adegan komedi ada pula adegan yang membuat seiisi bioskop hening yaitu momen terakhir Koh Acim. Saat keempat sahabat menyerahkan koper uang dan menawarkan biaya operasi agar Koh Acim bisa sembuh, Jegel berbicara pelan sambil membayangkan pesta jompo spesial yang akan dibuat setelah Koh Acim pulih, lengkap dengan musik, balon warna-warni, dan kembang api. Kalimat itu ternyata sama persis dengan yang pernah diucapkan putri Koh Acim semasa hidup. Tak lama setelah itu, Koh Acim mengembuskan napas terakhirnya. Selama menonton film ini, perasaan saya seperti dibolak-balik saya dibuat tertawa oleh komedi yang sangat lucu, lalu tersentuh oleh adegan yang sedih.
Dari sisi visual, panti jompo di film ini digarap hangat dan hidup, dan nyaman. Sang sutradara juga sangat serius dalam casting para pemain terbukti dari aktor di panti jompo yang sangat totalitas dalam berakting. Komedi para penghuni panti mulai dari kakek, nenek hingga para pengurusnya mampu mengimbangi komedi empat tokoh utama. Tidak heran film ini menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan tahun ini. Setelah 132 hari tayang, Agak Laen: Menyala Pantiku! berhasil mengumpulkan 11.000.866 penonton, mengalahkan film pertamanya, Agak Laen (2024), yang ditonton 9.127.602 orang.
Sekuel ini sukses, terbukti dari jumlah penontonnya, alur cerita yang berkembang, dan basis penggemar yang semakin besar. Namun, di balik kesuksesannya, ada kekurangan yang menurut saya cukup krusial. Penyelesaian konflik terasa terburu-buru dan kurang matang, padahal plot twist yang disuguhkan bisa menjadi peluang jika konklusinya dikemas dengan baik. Meski begitu, banyak pesan yang bisa dibawa pulang setelah menonton, mulai dari kasih sayang seorang ayah, bakti kepada orang tua, hingga arti persahabatan yang sesungguhnya.

