Scrolling TikTok, Musuh Terbesar terhadap Konsentrasi Mahasiswa

Mahasiswa Akuntansi Semester 1 di Universitas Pamulang. Saat ini, saya gemar untuk mencari petualangan-petualangan baru untuk mengisi waktu-waktu kosong saya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syifa Dwi Putri Hendita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada zaman sekarang, orang-orang pasti sudah mengenal apa itu TikTok. TikTok adalah salah satu aplikasi media sosial dan platform video musik yang populer di kalangan masyarakat. Aplikasi ini memungkinkan orang-orang untuk membuat, mengedit, dan membagikan video pendeknya yang disertai dengan filter dan musik pengiringnya.
Ketika membuka aplikasi TikTok untuk pertama kali, kita akan diarahkan untuk menggeser layar agar dapat beralih ke video baru. Tindakan ini disebut scrolling. Saat membuka aplikasi TikTok, mungkin niat awal kita adalah hanya untuk mencari hiburan sejenak. Namun, tanpa sadar kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggeser layar di ponsel kita.
Mahasiswa biasanya berasal dari generasi muda. Generasi muda merupakan kalangan yang paling mudah terpapar penggunaan media sosial karena generasi ini hidup pada zaman pesatnya perkembangan teknologi informasi. Artinya, mahasiswa merupakan salah satu kalangan yang paling mudah terpapar kebiasaan scrolling TikTok. Mungkin awalnya kita hanya membuka TikTok untuk beristirahat sebentar dari mengerjakan tugas. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa tindakan tersebut malah menyebabkan kita menunda-nunda tugas yang sedang kita kerjakan.
Dampak dari Scrolling Terus-menerus di TikTok bagi Mahasiswa
Seperti yang sudah disinggung tadi, mahasiswa yang biasanya berasal dari generasi muda, tentunya merupakan pengguna media sosial terbanyak seperti aplikasi TikTok, sehingga sangat mudah terpapar kebiasaan scrolling. Kebiasaan melakukan scrolling terus-menerus di layar ponsel untuk mencari video baru disebut doomscrolling.
Menurut jurnal “Doomscrolling dalam Kehidupan Akademik Mahasiswa: Studi Fenomenologi”, mahasiswa melakukan scrolling TikTok sebagai pelarian dari stres dan kejenuhan akibat kegiatan akademik. Namun, karena tidak diikuti oleh pembatasan durasi, akhirnya kebiasaan tersebut membawa dampak-dampak buruk bagi kehidupan mahasiswa. Dampak-dampak buruk tersebut bukan hanya berdampak pada aktivitas akademik, tetapi juga pada perilaku dan mental mahasiswa.
Dampak terhadap akademik
Yang pertama, doomscrolling dapat menyebabkan mahasiswa menunda-nunda pengerjaan tugas. Tentunya, kebiasaan tersebut menyita waktu produktif mereka, yang dapat mengakibatkan keterlambatan pengumpulan tugas. Lalu, pikiran yang telanjur tertuju pada konten video menyebabkan mahasiswa menjadi sulit memperhatikan materi yang diajarkan dosen, sehingga mengganggu konsentrasi mereka. Tidak jarang juga mahasiswa melakukan scrolling TikTok sampai begadang, sehingga menyebabkan mereka menjadi terlambat masuk kelas atau bahkan tidak masuk karena terlambat bangun.
Dampak terhadap perilaku
Doomscrolling menciptakan ketergantungan yang mengubah keseharian mahasiswa. Doomscrolling dapat menyebabkan mahasiswa memiliki ketergantungan pada ponsel karena telanjur terjerumus ke dalam kebiasaan tersebut. Lalu, doomscrolling juga menyebabkan berubahnya aktivitas harian mahasiswa. Misalnya, tadinya kita punya waktu untuk makan, mandi, olahraga, membersihkan kamar, atau aktivitas lainnya. Namun, karena doomscrolling, waktu untuk rutinitas tersebut jadi tersita karena habis terpakai hanya untuk scrolling.
3. Dampak terhadap mental
Doomscrolling juga berperan besar dalam memengaruhi mental mahasiswa. Misalnya, kebiasaan scrolling terus-menerus dapat membuat mahasiswa mudah terpapar konten yang menampilkan seseorang yang memamerkan kehidupan, keunggulan, atau pencapaiannya. Akibatnya, kebiasaan tersebut dapat menumbuhkan rasa cemas atau bahkan rendah diri pada mahasiswa karena merasa dirinya tidak sebanding dengan orang-orang tersebut.
Bukan berarti kita tidak boleh melakukan scrolling TikTok. Namun, sebagai mahasiswa, kita tidak boleh melupakan kewajiban utama kita, yaitu tanggung jawab akademik. Mahasiswa juga harus lebih aktif lagi dalam mengatur penggunaan media sosial, yaitu dengan memanfaatkan fitur pembatas waktu layar dan mode do not disturb saat waktunya belajar atau tidur. Untuk menghindari kebiasaan doomscrolling, mahasiswa bisa mecari. aktivitas-aktivitas non-digital yang mampu memulihkan perhatian dan emosi, seperti membaca buku fisik, menulis refleksi, berolahraga ringan, atau aktivitas kreatif, sehingga dampak negatif akibat kebiasaan doomscrolling dapat dikurangi.
