Menemukan Metamodernisme dalam Chat Dating App

Analis Sosial Politik
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rolip Saptamaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti biasanya, sabtu sore seharusnya berjalan lambat dan malas. Sore itu, aku duduk santai, mata terpaku pada akuarium aquascape yang baru setengah jadi di depan perpustakaan kecilku. Di balik kaca, ikan-ikan kecil berkejaran lincah di antara bebatuan dan tanaman air yang belum sepenuhnya tertata rapi. Aku hampir terbius oleh ritme gerakan mereka. Namun, ponsel di meja bergetar, getaran singkat yang justru terasa keras di ruangan sunyi. Sebuah notifikasi dari Dating App yang hampir terlupakan. Aku hampir mengabaikannya. Biasanya kan cuma "Lagi apa?" atau "Asli mana?". Tapi entah kenapa, jariku sudah bergerak lebih dulu membuka aplikasi itu.
Ternyata, match kali ini berbeda, chat kami terakhir sudah berlalu lebih dari dua minggu dan baru ia balas. Tapi, mungkin menyenangkan jika ada yang diajak bicara di sore ini. Tak terasa, Percakapan kami mengalir begitu saja, tanpa basa-basi awkward yang biasa. Dari obrolan karier, tiba-tiba loncat ke isu-isu aktual, lalu dia bercerita tentang rencana studi doktoralnya. Dia bahkan mengirimkan sebuah artikel jurnal tulisannya.
Aku terdiam sejenak, mengalihkan pandangan dari ikan-ikan di akuarium kembali ke layar ponsel. Sebagai seseorang dengan latar belakang Ilmu Politik Kontemporer, aku terbiasa berurusan dengan kekuasaan, kebijakan, dan konflik riil. Namun, pada artikelnya, aku menemukan banyak istilah-istilah asing yang dia lemparkan terutama "Metamodernisme" dan "OOO (Object Oriented Ontology)".
Sejujurnya, setengah dari penjelasannya yang aku baca tentang metamodernisme seperti masuk kuping kanan keluar kiri. Tapi ada sesuatu dalam antusiasmenya yang bikin aku penasaran. Dia bahkan memaklumi kebingungan aku yang masih terjebak pada ayunan modernisme dan postomoderinisme.
"Mungkin tulisan aku terlalu sistematis untuk orang yang backgroundnya bukan art dan desain. Setelah publish juga aku baru sadar kalau ada bagian yang miss karena terjnadu kesalahan penulisan ganda, jadi enggak efektif kalimatnya"
Tapi percakapan sabtu sore itu nempel di pikiranku berhari-hari setelahnya. Ada sesuatu yang paradoksal di sana, pada sebuah aplikasi yang sering dianggap tempat paling dangkal dan transaksional, kami justru bicara soal etika masa depan dan filsafat. Momen itu sendiri menjadi koneksi yang mendalam di tengah platform yang sinis, mirip seperti ikan yang tetap hidup lincah di aquascape yang belum rampung. Percakapan ini menjadi pintu masuk untukku memahami apa yang sebenarnya sedang dia teliti.
Tapi, aku ataupun kamu yang sedang menatap layar saat ini mungkin masih bingung dengan istilah metamodernisme ini. Hingga detik ini pun, jujur saja, aku masih kesulitan mendefinisikan apa itu Metamodernisme dengan presisi yang memuaskan. Kalau begitu, bolehlah kita bedah bersama apa itu Metamodernisme, berangkat dari kebingunganku di sabtu sore itu.
Ketika Pendulum Berayun Terlalu Jauh dari Dating App
Untuk memahami mengapa peneliti muda seperti matchku itu peduli pada Metamodernisme, kita perlu melihat konteks sejarahnya sedikit. Bayangkan sejarah budaya seperti pendulum yang terus berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Dulu, ada masa ketika semua orang percaya bahwa masa depan akan cemerlang. Sains akan menyelamatkan kita, kemajuan itu pasti, dan kita semua menuju utopia. Arsitektur bangunan tinggi menjulang, pabrik-pabrik beroperasi dengan keyakinan, dan semua orang punya narasi besar tentang ke mana umat manusia akan bergerak. Semuanya serba terstruktur, terencana, percaya diri, begitulah janji modernisme.
Lalu pendulum berayun ke sisi sebaliknya dengan keras. Generasi berikutnya melihat janji-janji itu dan bilang, "Tunggu dulu. Kalian bilang kemajuan, kok malah perang dunia, kolonialisme, dan perusakan lingkungan." Generasi ini mulai membongkar semuanya, menolak kebenaran mutlak, semuanya relatif! Bahkan konsep "kemajuan" itu sendiri bukan lagi menjadin titik tapi menjadi tanda tanya. Pembongkaran besar ini menyisakan ironi, sinisme, dan sikap bahwa terlalu peduli itu naif. Untuk apa berusaha mengubah dunia kalau semua narasi besar itu palsu?
Nah, sekarang pertanyaaan krusial muncul. Di mana posisi kita, generasi yang tumbuh dengan internet di saku?
Kita tidak bisa kembali ke optimisme buta itu seperti kakek dan nenek kita, soalnya kita sudah tahu terlalu banyak. Tapi kita juga tidak bisa sepenuhnya hidup dalam sinisme seperti orang tua kita. Ada sesuatu dalam diri kita yang masih ingin percaya, masih ingin berusaha, meskipun kita tahu kemungkinan besar akan gagal.
Beberapa bulan lalu aku ikut aksi tuntutan 17+8 atau yang sekarang disebut #resetindonesia sambil tahu persis bahwa poster yang kubawa tak akan mengubah apa-apa. Tweetku hanya akan tenggelam di timeline. Tapi aku tetap pergi. Pulang ke rumah, doomscrolling berita tentang demonstrasi yang menyebar ke semua daerah, lalu lima menit kemudian tertawa ngakak nonton video kucing di Instagram.
Itulah yang dimaksud hidup di era Metamodernisme.
Kita berayun sangat cepat antara harapan dan kepahitan, antara percaya dan tidak percaya, sampai keduanya melebur menjadi satu pengalaman yang sama. Kita tahu dunia sedang kacau, tapi kita masih punya keinginan untuk memperbaikinya. Kita tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk di pojokan dan menertawakan kehancuran dunia.
Ketika Koneksi Mendalam Menjadi Pemberontakan
Kembali ke cerita Dating App tadi. Jika aku dan dia hidup sepenuhnya dalam era sinisme, percakapan kami mungkin hanya akan dipenuhi meme, sarkasme, dan sikap "terlalu keren untuk peduli". Kami akan takut terlihat serius karena keseriusan sering dianggap cringe.
Aku ingat di awal chat sore itu, ada momen canggung ketika dia bertanya, "Apa riset sekarang hanya formalitas?"
Dan bukannya dijawab dengan bercanda atau menghindar, aku malah menjawab dengan serius. Lama. Panjang. Bahkan agak menggebu-gebu. Setelah mengirim pesan itu, aku sempat menyesal.
Waduh, terlalu serius. Pasti dia pikir aku aneh.
Tapi dia malah balas dengan melanjutkan tema pertanyaanya.
Inilah yang terjadi sekarang, menjadi tulus, menjadi serius, menjadi peduli itu semua bukan lagi tanda kenaifan. Itu adalah pilihan sadar. Aku jadi ingat, beberapa bulan lalu aku menonton film "Everything Everywhere All At Once", film itu sangat kacau, absurd, dan penuh lelucon nihilistik. Tapi di balik semua kekacauan itu, ada pesan yang sangat sederhana dan hangat tentang kasih sayang Ibu. Plot ini bukan kemunduran ke masa lalu yang lugu. Ini adalah ketulusan yang lahir setelah kita tahu betapa buruknya dunia. Kita memilih untuk menjadi tulus bukan karena kita bodoh, tapi karena kita sadar bahwa ketulusan adalah satu-satunya cara untuk tetap waras di tengah gempuran AI dan deepfake. Di dunia di mana segala sesuatu bisa dipalsukan, ketulusan menjadi hal yang paling radikal.
Mendorong Batu yang Akan Jatuh Lagi
Mungkin ini adalah bagian yang membuat teman bicaraku itu tertarik meneliti etika desainer di era AI. Metamodernisme menawarkan cara hidup yang aneh, kita tahu usaha kita mungkin sia-sia, tapi kita melakukannya juga. Ini seperti orang yang dihukum mendorong batu besar ke atas bukit (Sisyphus), dan setiap kali sampai puncak, batunya menggelinding turun lagi. Orang yang hidup dalam sinisme penuh akan bilang,
"Lihat tuh! Sia-sia kan?. Mending gue duduk di bawah aja daripada dorongin batu segede ini ntar jatoh lagi."
Tapi kita yang hidup sekarang? Kita tahu batunya akan jatuh lagi. Kita sudah lihat itu terjadi berkali-kali. Tapi kita tetap akan mendorongnya seolah-olah kita bisa meletakkannya di puncak kali ini.
Kita jatuh cinta di aplikasi kencan, seolah-olah hati kita tidak akan patah lagi, padahal kita tahu persis rasanya di-ghosting. Kita menuntut etika dalam pengembangan AI, seolah-olah perusahaan teknologi raksasa akan mendengarkan, padahal kita tahu mereka lebih peduli pada profit.
Sama seperti aku merawat aquascape setengah jadi itu. Setiap sabtu aku mengganti airnya, memangkas tanaman yang tumbuh liar, mengatur pH dengan teliti, seolah-olah ekosistem kecil itu akan menjadi sempurna suatu hari nanti. Padahal aku tahu mungkin saja besok ikannya mati, tanaman membusuk, atau aku bosan dan membiarkannya begitu saja. Tapi tetap saja, aku mengganti airnya pagi ini. Karena di antara mengganti air dengan harapan sia-sia dan membiarkan semuanya mati perlahan, aku memilih yang pertama. Ini yang dimaksud dengan hidup dalam filosofi "seolah-olah". Kita bergerak di antara harapan dan skeptisisme begitu cepat sampai keduanya tidak lagi bisa dipisahkan.
Menggenggam Ketidakpastian
Kejadian sabtu sore itu menyadarkanku satu hal, kita semua sedang mencari pegangan. Baik itu melalui penelitian doktoral yang rumit tentang ontologi objek, maupun melalui obrolan sederhana dengan orang asing di internet. Menjadi metamodern berarti mengizinkan diri kamu menjadi makhluk yang penuh kontradiksi. kamu boleh menertawakan meme satir tentang kelelahan kerja, lalu menangis terharu menonton video kucing yang diselamatkan dari got, dan setelah itu berdiskusi serius soal politik dengan penuh semangat. Itu bukan kemunafikan. Itu adalah cara kita bertahan.
Jadi, meskipun aku masih belum sepenuhnya paham seluk-beluk Object Oriented Ontology yang dia bahas, aku paham Metamodernisme adalah undangan untuk peduli lagi, untuk mencoba lagi. Bukan karena kita buta pada realitas. Tapi justru karena kita melihat dengan jelas, maka kita memutuskan untuk tetap berharap.
Masa depan mungkin menakutkan, dan aku tahu persis dating apps itu sepertu mitos Sysiphus. Kamu swipe, kita match, lanjut chat dan menghilang. Tapi setidaknya di sabtu sore itu, di antara ikan-ikan kecil yang berenang di aquascape yang belum sempurna dan layar ponsel yang menyala dengan percakapan tentang filosofi aku belajar bahwa inspirasi bisa muncul dari tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
