Konten dari Pengguna

Playbour: Bandung dan Ilusi Pekerja Digital

Rolip Saptamaji

Rolip Saptamaji

Analis Sosial Politik

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rolip Saptamaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pekerja Digital di Bandung
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pekerja Digital di Bandung

Seorang desainer duduk di kafe di Dago Bandung, laptopnya dibuka, kopinya sudah dingin sejak setengah jam lalu, ia sedang mengedit deck presentasi digital untuk klien yang tadi pagi WhatsApp-nya masuk dengan kalimat pembuka favorit sepanjang masa "Maaf ganggu ya, Logonya boleh di gedein?." Di sebelahnya, meja lain ada fotografer yang menyeleksi foto sambil sesekali membuka Instagram untuk posting behind the scene pemotretannya. Di sudut ruangan dua orang dengan hoodie yang sama-sama buka Notion, sama-sama pakai earphone, sama-sama tidak jelas apakah mereka sedang rapat atau ngambek. Pemandangan ini bukan anomali. Ini kondisi normal di Bandung, tapi justru di situ masalahnya.

Bandung dan Dosa Kota Kreatif

Bandung punya masalah struktural yang diwariskan dengan bangga. Sejak era distro dan gelombang indie 1990-an, kota ini membangun identitas kolektif di atas premis bahwa batas antara passion dan profesi adalah sesuatu yang dirayakan kekaburannya. "Kerjakan yang kamu sukai, sukai yang kamu kerjakan." Kalimat seperti kutipan dari buku self-help Gramedia ini sudah lama jadi etos yang dihirup oleh ekosistem kreatif kota Bandung jauh sebelum Instagram lahir.

Masalahnya, ketika kapitalisme digital datang dengan seluruh arsitektur platformnya, ia tidak menemukan resistensi. Ia justru menemukan subjek-subjek yang sudah setengah jalan menginternalisasi logika eksploitasinya sebagai otentisitas. Social factory dalam konsep Fuchs tentang seluruh ruang sosial yang berubah menjadi mesin produksi nilai, tidak perlu susah payah masuk ke Bandung. Pintu sudah terbuka. Bahkan sudah didekorasi dengan mural dan dikasih playlist lo-fi.

Kafe Sebagai Pabrik yang Tanpa Neraca Keuangan

Kembali ke orang-orang di kafe tadi. Secara teknis mereka sedang "di luar jam kerja", atau setidaknya tidak sedang di kantor. Tapi nilai sedang diproduksi di sana yang membayar biaya produksinya si pekerja sendiri. Ini bukan metafora. Ini kalkulasi yang sangat literal.

Kafe di Burangrang, di sekitar Dago, di sepanjang Braga, sudah lama bukan sekadar ruang konsumsi. Mereka adalah infrastruktur kerja yang overhead-nya ditanggung oleh pekerja dalam bentuk kopi tiga puluh ribu rupiah per sesi. Klien tidak membayar ruang kerja itu. Agency tidak menanggungnya. Yang bayar adalah desainernya, yang menyebutnya "me time" atau "nugas di luar biar lebih fokus."

Fuchs menyebutnya sebagai liquefaction of boundaries, yaitu kondisi di mana batas antara ruang publik dan privat serta antara waktu kerja dan waktu luang mencair sepenuhnya. Tapi dalam konteks Bandung, cairnya batas itu bukan hanya temporal. Ia juga finansial. Biaya yang seharusnya masuk dalam struktur biaya produksi sebuah proyek secara diam-diam dialihkan ke pundak pekerja, dibungkus dalam narasi tentang fleksibilitas dan kebebasan. Kamu bebas kerja dari mana saja, yang artinya kamu yang nanggung biaya "dari mana saja" itu.

Dan sebelum seseorang mau protes: ya, kafe itu juga jadi tempat networking, ketemu klien baru, dapat proyek dari obrolan di meja sebelah. padahal, itu tetap kerja. Itu tetap produksi nilai. Dan tidak ada satupun dari momen-momen itu yang masuk ke dalam hitungan jam kerja yang dibayar.

Prosumsi dan Kerja yang Menyamar Sebagai Ekspresi

Pada suatu masa di 2022, ada gelombang konten di Twitter Indonesia, yang sekarang bernama X meski tidak ada yang mau memanggilnya itu dengan serius, tentang unpaid labor of personal branding. Ramai beberapa hari, lalu tenggelam di bawah berita lain. Tapi isu yang diangkat itu tepat, meski framing-nya belum sampai ke akarnya.

Inilah yang Fuchs gambarkan sebagai prosumsi, pengguna platform yang secara bersamaan adalah produsen dan konsumen, yang menciptakan konten bukan sebagai kerja formal melainkan sebagai "aktivitas sosial" yang secara ekonomi adalah kerja digital menghasilkan komoditas data dan komoditas perhatian yang dijual ke pengiklan.

Terjemahannya di Bandung sangat konkret. Seorang desainer yang memperbarui portofolio Behance-nya, fotografer yang mengkurasi feed Instagram sebagai window display jasa-nya, motion designer yang bikin reel proses kreatif supaya discoverable di algoritma, semua itu adalah kerja. Kerja yang tidak dibayar. Kerja yang malah kadang dipresentasikan sebagai hobi atau sebagai cara "berbagi inspirasi ke komunitas."

Yang lebih menarik, aktivitas prosumsi ini bukan pilihan sukarela dalam pengertian yang sesungguhnya. Ia adalah syarat tidak tertulis untuk masuk dan bertahan di ekosistem kerja kreatif Bandung. Klien mengecek Instagram sebelum hiring. Rekruter agency melihat Behance sebelum memanggil interview. Artinya, platform berhasil melakukan sesuatu yang sangat elegan secara kapitalisme dengan mengeksternalisasi biaya produksi reputasi kepada pekerja sendiri, sambil memungut nilai dari setiap interaksi yang terjadi dalam proses itu. Pekerja membiayai modal reputasinya sendiri, lalu Meta dan Google mengambil cuan dari setiap scroll yang terjadi di atasnya.

Ini Bukan Sekadar Kerjaan, Ini Passion Kamu

Fuchs punya konsep yang ia sebut strategi manajemen ideologis, yaitu kondisi di mana kerja secara sengaja dipresentasikan sebagai kreativitas, kebebasan, dan kesenangan sehingga eksploitasi dan kegembiraan menjadi tidak terpisahkan. Kalau mau contoh yang lebih empiris dari konsep ini, tidak perlu jauh-jauh cari di literatur akademik. Cukup ingat berapa kali kalimat serupa diucapkan dalam ekosistem kreatif Bandung, di briefing proyek, di culture deck agency, di caption Instagram yang bilang "kami bukan cuma kerja, kami adalah keluarga."

Kata "keluarga" itu kerjanya berat sekali. Ia mengaktivasi logika afektif yang membuat jam kerja yang tidak wajar, ekspektasi fast response di malam hari, dan rate yang tidak proporsional terasa bukan sebagai kondisi kerja yang perlu dinegosiasi, melainkan sebagai konsekuensi natural dari rasa memiliki. Kamu tidak menuntut hak dari keluarga. Kamu berkontribusi.

Ini adalah mekanisme fetishisme komoditas terbalik dalam bentuk yang paling halus sekaligus paling efektif dari logika eksploitasi di balik afeksi dan identitas. Kamu tidak merasa dieksploitasi karena kamu merasa dilihat dan dihargai sebagai individu kreatif yang unik. Dan sementara perasaan itu nyata dan tidak palsu, ia juga berfungsi sebagai penutup yang sempurna bagi proses komodifikasi yang terjadi di balik layar.

Spektrum Formal-Informal

Kesalahan analitis yang sering terjadi dalam diskusi tentang pekerja kreatif Bandung adalah memisahkan mereka dalam dua kategori bersih formal dan yang informal, yang ada di agency dan yang freelance. Realitasnya lebih berantakan, dan kekacauan itulah justru yang fungsional bagi sistem.

Art director di agency yang secara resmi adalah karyawan tetap, malam harinya ngerjain proyek freelance sambil nonton drakor. Desainer yang sepenuhnya freelance tapi bekerja eksklusif untuk satu klien agensi selama berbulan-bulan dengan volume kerja yang setara karyawan full-time, minus seluruh haknya. Content strategist yang WFH tapi dalam praktiknya always on karena tidak ada batas fisik yang menandai kapan ia "pulang kerja." Semua variasi ini bukan kecelakaan administratif. Ini adalah kebutuhan struktural.

Fuchs memberi kerangka untuk memahami mengapa kontinum ini bukan anomali tapi kapitalisme digital membutuhkan fleksibilitas tenaga kerja yang tidak bisa dipenuhi oleh struktur kerja yang kaku. Liquefaction of boundaries melarutkan tidak hanya batas waktu dan ruang. Ia melarutkan batas status ketenagakerjaan itu sendiri. Dan selama statusnya kabur, tanggung jawab hukum dan moral kepada pekerja itu juga ikut kabur bersamanya.

Pertanyaan yang Tidak Dijawab Fuchs, Tapi Sangat Mendesak di Bandung

Fuchs sangat baik dalam mendiagnosis. Tapi ada satu pertanyaan yang ia tinggalkan terbuka dan justru paling relevan untuk ekosistem seperti Bandung, kalau mekanisme playbour bekerja tepat di level afektif dan identitas bukan hanya di level kognitif, maka apa artinya "kesadaran" tentang eksploitasi?

Karena yang menarik bukan bahwa pekerja kreatif Bandung tidak tahu mereka dalam kondisi precarious. Banyak yang tahu. Banyak yang bahkan bisa menggunakan kata "precarious" dengan tepat dalam percakapan kafe sambil minum kopi yang mereka beli sebagai biaya sewa ruang kerja tidak resmi. Tapi pengetahuan itu tidak otomatis mentranslasi diri menjadi kapasitas untuk mengubah kondisi, karena kondisinya bukan hanya soal informasi. Ia soal struktur relasi kuasa yang tertanam dalam etos kota, dalam arsitektur platform, dalam logika pasar tenaga kerja kreatif yang kelebihan pasokan, dan dalam afeksi yang sangat nyata terhadap pekerjaan itu sendiri.

Di situ pertanyaannya menjadi bukan hanya analitis, tapi politis. Solidaritas seperti apa yang mungkin dibangun di antara pekerja kreatif yang tersebar, mobile, saling berkompetisi, dan satu sama lain terkoneksi melalui platform yang infrastruktur keuntungannya dibangun di atas kerja tidak berbayar mereka semua? Itu pertanyaan yang lebih susah dari mengidentifikasi playbour-nya. Dan justru karena itu ia lebih penting untuk dijawab.