Ganguro: Pemberontakan Atas Stereotip Kecantikan Perempuan Jepang

Dosen Universitas Andalas dan Peneliti Kajian Gender dan Feminisme
Konten dari Pengguna
19 September 2023 9:45
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Roma Kyo Kae Saniro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber: https://gyaru.fandom.com/wiki/Ganguro?file=Ganguro111yu.jpg
ADVERTISEMENT
Viralnya gaya Ganguro di berbagai media sosial membuat orang awam akan bertanya-tanya, apakah sebenarnya gaya tersebut. Jika dilihat dari penampilannya, Ganguro menampilkan sisi yang sangat unik dan nyentrik bagi orang lain. Ganguro yang dikenal saat ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1990-an. Kemunculan tren mode Ganguro di Jepang berupa pengadopsian mengadopsi gaya yang sangat berbeda dengan standar kecantikan tradisional Jepang wanita muda.
ADVERTISEMENT
Pada masa lalu, standar kecantikan tradisional bagi wanita muda di Jepang mencakup beberapa unsur kunci. Salah satunya adalah kulit yang cerah dan bersih, yang dianggap sebagai simbol kecantikan yang sangat dihargai.
Wanita di Jepang berusaha menjaga kulit mereka tetap cerah dengan berbagai cara, termasuk penggunaan tabir surya dan produk pemutih kulit. Selain itu, rambut hitam adalah norma dalam kecantikan Jepang, dan wanita muda diharapkan memiliki rambut yang sehat dan berkilau.
Sebenarnya, gaya Ganguro memiliki persamaan seperti Gyaru yang muncul terlebih dahulu di Jepang. Namun, bagi masyarakat awam, mungkin sulit untuk membedakan kedua istilah antara ganguro dan gyaru yang gayanya hampir mirip. Namun, Ganguro dan Gyaru adalah dua subkultur mode yang berbeda dalam budaya fashion Jepang, meskipun mereka memiliki beberapa persamaan karena Ganguro adalah salah satu variasi dari gaya Gyaru.
ADVERTISEMENT
Gyaru adalah istilah yang mencakup berbagai variasi gaya fashion Jepang yang telah ada sejak tahun 1970-an. Gaya ini bisa sangat beragam, dari yang lebih tradisional hingga yang lebih modern, dan tidak selalu memerlukan kulit yang sangat gelap seperti yang ditemukan dalam gaya Ganguro. Gyaru sering menekankan penampilan yang glamor dan feminin, dengan perawatan rambut, pakaian modis, dan penggunaan makeup yang cermat.
Di sisi lain, Ganguro adalah salah satu variasi dari gaya Gyaru yang muncul pada akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an. Gaya ini dikenal dengan kulit yang sangat berwarna, seringkali berwarna coklat kehitaman atau gelap, yang menciptakan perbedaan mencolok dengan standar kecantikan konvensional di Jepang yang menghargai kulit putih.
ADVERTISEMENT
Selain itu, dalam gaya Ganguro, rambut sering dicat dengan warna mencolok, dan penggunaan makeup yang mencolok, terutama riasan mata yang berlebihan, juga menjadi ciri khasnya. Dengan kata lain, Gyaru adalah istilah umum yang mencakup berbagai variasi, sementara Ganguro adalah salah satu ekspresi paling mencolok dan eksentrik dari gaya Gyaru.
Jadi, perbedaan utama antara Ganguro dan Gyaru adalah bahwa Ganguro adalah variasi yang lebih ekstrem dari Gyaru, dengan penekanan pada kulit yang sangat gelap, rambut dicat, dan riasan yang mencolok. Namun, baik Ganguro maupun Gyaru adalah subkultur mode yang berfokus pada ekspresi diri dan pemecahan dari norma kecantikan konvensional Jepang.
Penampilan yang rapi dan sopan juga ditekankan, termasuk pemilihan pakaian yang sesuai, perawatan rambut yang baik, dan penggunaan riasan yang ringan dan alami. Wanita diharapkan mematuhi norma sosial yang mencakup perilaku yang sopan dan bersahaja.
ADVERTISEMENT
Aksesori yang digunakan biasanya bersifat minimalis, dan ekspresi diri yang terkendali dianggap sebagai tanda kecantikan yang baik. Namun, perlu diingat bahwa standar kecantikan dapat berubah seiring berjalannya waktu dan pengaruh budaya luar, dan pandangan tentang kecantikan juga dapat bervariasi di berbagai komunitas dan kelompok usia di Jepang.
Namun, hal tersebut berusaha didobrak melalui gaya Ganguro yang viral kembali belakangan di media sosial. Mereka sengaja membuat kulit mereka menjadi sangat gelap. Para wanita muda yang mengadopsi gaya Ganguro seringkali berusaha untuk membuat kulit mereka segelap mungkin, seringkali dengan menggunakan tanning bed atau makeup yang sangat gelap.
Ganguro juga seringkali memiliki rambut yang dicat dengan warna-warna mencolok seperti pirang terang, merah, atau hijau. Warna-warna yang mencolok ini bertujuan untuk menciptakan kontras dengan kulit yang sangat gelap.
ADVERTISEMENT
Para perempuan Ganguro sering menggunakan riasan yang sangat berwarna-warni, termasuk eyeshadow berwarna cerah, lipstik berwarna-warni, dan blush on yang mencolok. Tidak hanya make upnya, Ganguro pun sering mengenakan pakaian yang mencolok dan berwarna-warni, seringkali dengan aksesori yang besar dan mencolok pula.
Ganguro merupakan semacam pemberontakan terhadap standar kecantikan yang biasanya mengutamakan kulit putih, rambut hitam, dan penampilan bersih di Jepang. Dengan kata lain, Ganguro adalah cara bagi remaja putri untuk mengekspresikan diri dan menantang gagasan tradisional tentang kecantikan.
Meskipun Ganguro mungkin tidak sepopuler beberapa tahun yang lalu, gaya ini tetap menjadi bagian unik dari sejarah mode Jepang dan merupakan contoh nyata bagaimana subkultur mode dapat digunakan sebagai sarana ekspresi diri dan perlawanan terhadap norma-norma sosial yang ada.
ADVERTISEMENT
Memberontak terhadap stereotip kecantikan telah memberikan dampak positif yang signifikan dalam masyarakat saat ini. Salah satu aspek terpentingnya adalah meningkatkan kesadaran tentang keberagaman keindahan.
Hal ini mendorong pemahaman bahwa kecantikan tidak memiliki definisi yang kaku dan bahwa setiap individu memiliki keunikan dan nilai dalam penampilannya. Gerakan yang terkait dengan pemberontakan ini, seperti "kepositifan tubuh" dan "mencintai diri sendiri", juga membantu meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mental dengan mengajarkan bahwa penerimaan diri dan cinta diri adalah aspek penting dari kesehatan mental yang baik.
Pemberontakan ini juga merayakan ekspresi individu, memberikan ruang bagi kreativitas dalam mode, rambut dan tata rias, serta menghormati hak setiap orang untuk menentukan penampilan. Selain itu, dampaknya juga terlihat pada industri kecantikan dan fesyen karena merek lebih memperhatikan keberagaman dalam kampanye iklannya.
ADVERTISEMENT
Hal ini menghilangkan tekanan sosial yang berlebihan pada individu dan mendorong diskusi terbuka tentang standar kecantikan dan sosial. Secara keseluruhan, pemberontakan terhadap stereotip kecantikan telah membawa perubahan positif menuju masyarakat yang lebih inklusif, berbelas kasih, dan menghargai keberagaman kecantikan.