Konten dari Pengguna

Harga Naik, Dompet Menipis: Ketika Inflasi Menggerus Daya Beli

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Romlah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.pexels.com/photos/8719576/pexels-photo-8719576.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/8719576/pexels-photo-8719576.jpeg

Pernah merasa uang Rp100 ribu sekarang lebih cepat habis dibandingkan beberapa tahun lalu? Dulu mungkin cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus. Sekarang, baru digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, uang tersebut sudah terasa berkurang cukup banyak.

Kondisi seperti ini bukan sekadar perasaan masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa memang menjadi bagian dari dinamika ekonomi yang disebut inflasi. Ketika inflasi terjadi secara terus-menerus, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan barang yang sama. Akibatnya, kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa atau yang biasa disebut daya beli ikut tertekan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan (year on year/yoy). Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21 persen, sedangkan inflasi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 1,86 persen.

Angka tersebut memang masih berada dalam sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia. Namun, bagi masyarakat, angka inflasi tidak selalu terasa sama. Kenaikan harga kebutuhan yang dibeli setiap hari bisa terasa jauh lebih nyata dibandingkan angka inflasi secara keseluruhan.

Ketika Harga Pangan Mulai Menekan

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah perkembangan harga pangan. Bank Indonesia mencatat kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara tahunan, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,06 persen.

Beberapa komoditas yang turut memberikan tekanan berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Bagi masyarakat, kenaikan harga pangan memiliki dampak yang berbeda dibandingkan kenaikan harga barang yang tidak dibeli setiap hari. Beras, telur, cabai, minyak goreng, hingga lauk-pauk merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari. Ketika harganya naik, masyarakat sulit menghindarinya.

Pada kondisi seperti ini, pilihan yang tersedia biasanya bukan sekadar membeli atau tidak membeli. Masyarakat mulai menyesuaikan jumlah belanja, mengganti merek, mencari harga yang lebih murah, atau mengurangi pembelian barang yang dianggap bukan kebutuhan utama.

Di sinilah inflasi mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Gaji Tetap, Pengeluaran Bertambah

Masalahnya menjadi lebih terasa ketika kenaikan harga tidak diikuti peningkatan pendapatan yang sebanding.

Bayangkan seseorang memiliki pendapatan Rp4 juta per bulan. Ketika harga kebutuhan pokok, transportasi, listrik, makanan, dan kebutuhan lainnya meningkat, sementara pendapatannya tetap Rp4 juta, maka ruang untuk menggunakan uang menjadi semakin sempit.

Bukan berarti pendapatannya berkurang secara nominal. Namun, kemampuan pendapatan tersebut untuk membeli barang dan jasa mengalami penurunan.

Sederhananya, uangnya tetap, tetapi barang yang bisa dibeli semakin sedikit.

Kondisi inilah yang membuat inflasi menjadi persoalan yang dekat dengan masyarakat. Inflasi bukan hanya angka yang muncul dalam laporan ekonomi setiap bulan, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika berbelanja.

Masyarakat yang sebelumnya masih bisa menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan mungkin harus menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian lainnya mungkin menunda membeli barang yang tidak mendesak, mengurangi kegiatan rekreasi, atau mencari tambahan pendapatan.

Daya Beli Bukan Hanya Soal Harga

Daya beli masyarakat pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh naik atau turunnya harga. Pendapatan juga memiliki peran penting.

Jika pendapatan meningkat lebih cepat daripada kenaikan harga, kemampuan konsumsi masyarakat dapat tetap terjaga. Sebaliknya, apabila harga meningkat sementara pendapatan relatif stagnan, tekanan terhadap daya beli akan semakin terasa.

Karena itu, pembahasan mengenai inflasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, "berapa persen inflasinya?"

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: barang apa yang mengalami kenaikan harga, siapa yang paling terdampak, dan apakah pendapatan masyarakat mampu mengikuti kenaikan tersebut?

Pertanyaan tersebut penting karena dampak inflasi tidak selalu sama bagi setiap kelompok masyarakat.

Bagi rumah tangga dengan pendapatan tinggi, kenaikan harga beberapa kebutuhan mungkin masih dapat disesuaikan dengan mengurangi pengeluaran lain. Namun bagi rumah tangga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan pokok, sedikit kenaikan harga saja dapat membuat anggaran bulanan berubah.

Ada Peran Pemerintah dan Bank Indonesia

Mengendalikan inflasi bukan pekerjaan satu pihak. Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki peran masing-masing dalam menjaga stabilitas harga.

Bank Indonesia menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan inflasi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Bank Indonesia juga menyatakan sasaran inflasi 2026 dan 2027 tetap berada pada kisaran 2,5 persen ± 1 persen.

Namun, tidak semua kenaikan harga dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan suku bunga. Harga pangan, misalnya, sangat berkaitan dengan ketersediaan pasokan, produksi, distribusi, cuaca, dan kondisi pasar.

Ekonom INDEF Esther Sri Astuti juga menekankan pentingnya menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan untuk mengendalikan inflasi hingga akhir 2026. Menurutnya, gangguan pasokan dan distribusi dapat mendorong kenaikan harga.

Artinya, menjaga daya beli masyarakat membutuhkan kebijakan yang saling melengkapi. Stabilitas moneter penting, tetapi ketersediaan barang di pasar juga tidak kalah penting.

Jangan Sampai Inflasi Menjadi Beban yang Diam-Diam Membesar

Inflasi sering kali baru terasa ketika masyarakat mulai menghitung kembali pengeluaran bulanannya.

Harga makanan sedikit naik. Ongkos perjalanan bertambah. Belanja bulanan menjadi lebih mahal. Pengeluaran yang sebelumnya terasa biasa saja perlahan mengambil porsi lebih besar dari pendapatan.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, masyarakat harus semakin pintar mengatur keuangan. Namun, kemampuan masyarakat untuk berhemat tentu memiliki batas.

Tidak semua orang bisa mengurangi kebutuhan pokok. Tidak semua keluarga memiliki ruang untuk memangkas pengeluaran. Dan tidak semua pekerja dapat langsung memperoleh tambahan pendapatan ketika harga-harga mulai meningkat.

Karena itu, menjaga inflasi tetap terkendali bukan hanya tentang menjaga angka statistik agar terlihat stabil. Di balik angka tersebut terdapat keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat masyarakat setiap hari: memilih beras yang lebih murah, mengurangi jajan, menunda membeli barang, mencari pekerjaan tambahan, atau mengubah prioritas pengeluaran.

Pada akhirnya, inflasi mungkin hanya ditulis dalam satu angka di laporan ekonomi. Tetapi dampaknya bisa terasa berbeda di setiap dompet.

Dan ketika harga terus naik sementara pendapatan tidak banyak berubah, pertanyaan sederhananya menjadi semakin relevan: bukan lagi "berapa harga barang hari ini?", tetapi "dengan uang yang sama, masih bisa membeli apa?"