Dari BookTok ke Bibliocafe, Membaca Buku Kini Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi di Universitas Pamulang. Menulis opini mengenai isu sosial, pendidikan, dan fenomena kehidupan sehari-hari.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rona Fitriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa bilang Gen Z tidak suka baca buku? Justru sebaliknya; mereka mengubah aktivitas membaca menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik dari sebelumnya.
Kalau kamu membuka TikTok beberapa tahun belakangan, kamu pasti pernah tersasar ke sisi yang satu ini: video seseorang memperlihatkan tumpukan buku estetik, mengulas novel sambil duduk di sudut kafe yang remang-remang, atau sekadar memfilmkan proses membaca dengan latar musik lo-fi. Itulah BookTok; komunitas pecinta buku di TikTok yang kini telah berkembang menjadi salah satu subkultur paling aktif di internet.
Yang menarik, fenomena ini tidak berhenti di layar. Ia merembet ke dunia nyata, melahirkan tren yang disebut bibliocafe: kafe yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan mini, tempat orang datang bukan hanya untuk minum kopi, tapi juga untuk membaca dan membeli buku.
Apa Itu BookTok?
BookTok adalah komunitas di TikTok yang berfokus pada ulasan, rekomendasi, dan diskusi buku. Kontennya beragam, dari ulasan singkat, "book haul" alias pamer buku baru, hingga reaksi emosional setelah menyelesaikan bab terakhir novel yang menyentuh hati.
Yang membuat BookTok berbeda dari resensi buku konvensional adalah pendekatannya yang sangat personal dan visual. Tidak ada format baku. Seseorang bisa menangis di depan kamera karena ending sebuah novel, dan videonya ditonton jutaan kali. Keaslian emosi itulah yang membuat BookTok begitu kuat menarik perhatian generasi muda.
Dampaknya terhadap industri buku pun nyata. Beberapa judul yang sempat tenggelam tiba-tiba cetak ulang berkali-kali hanya karena viral di BookTok. Penerbit mulai memperhatikan tren ini sebagai salah satu indikator buku mana yang perlu dipromosikan lebih agresif.
Bibliocafe: Ketika Kafe Bertemu Perpustakaan
Tren bibliocafe sebenarnya bukan hal baru di luar negeri, tapi belakangan mulai tumbuh di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Konsepnya sederhana: kafe dengan koleksi buku yang bisa dibaca di tempat, bahkan kadang dijual atau dipinjam oleh pengunjung.
Bagi Gen Z, bibliocafe menawarkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan dari membaca di rumah: suasana. Ada yang datang untuk fokus membaca sendirian, ada yang menjadikannya tempat *book date* bersama teman, dan tidak sedikit yang sekadar menikmati estetika tempatnya untuk konten media sosial. Semua motivasi itu sah, dan semuanya berkontribusi pada meningkatnya minat baca secara tidak langsung.
Mengapa Ini Penting?
Ada anggapan lama yang menyebut Gen Z sebagai generasi yang tidak suka membaca karena terlalu sibuk dengan media sosial. BookTok dan bibliocafe membuktikan bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Yang terjadi sebenarnya adalah pergeseran cara Gen Z berhubungan dengan buku. Mereka tidak memisahkan dunia digital dari aktivitas membaca; justru keduanya digabungkan. Membaca buku menjadi konten, dan konten mendorong orang lain untuk membaca. Siklus ini secara perlahan memperluas komunitas pembaca muda dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Di sisi lain, tren ini juga mencerminkan kebutuhan Gen Z akan ruang yang lebih tenang dan nyata di tengah kebisingan digital. Bibliocafe menjadi semacam pelarian — tempat di mana mereka bisa hadir secara penuh tanpa tekanan untuk selalu terhubung.
Buku Apa yang Sedang Populer di BookTok?
Genre romantis dan fiksi ilmiah mendominasi BookTok secara global. Beberapa judul yang sempat meledak antara lain karya-karya dari genre *romantasy* perpaduan romansa dan fantasi yang belakangan sangat digemari. Di Indonesia, buku-buku lokal dengan tema coming-of-age dan self-improvement juga mulai mendapat sorotan lewat konten kreator buku lokal yang jumlahnya terus bertambah.
Tren yang Kemungkinan Akan Terus Bertumbuh
Selama media sosial masih menjadi ruang utama Gen Z untuk berbagi pengalaman, BookTok tidak akan pergi dalam waktu dekat. Bibliocafe pun kemungkinan akan semakin banyak bermunculan seiring meningkatnya permintaan akan ruang sosial yang lebih meaningful dibanding sekadar kafe biasa.
Membaca buku, yang dulu dianggap aktivitas soliter dan kurang keren, kini perlahan bertransformasi menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup anak muda. Dan itu, bagaimanapun caranya, adalah hal yang patut disambut baik.
Sudah pernah mengunjungi bibliocafe di kotamu? Atau kamu lebih suka membaca di rumah? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar.
