Konten dari Pengguna

Gen Z Mulai Tinggalkan Kopi, Ini Minuman yang Jadi Penggantinya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rona Fitriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi Pribadi.

Kalau kamu perhatikan, tren ngopi yang dulu mendominasi feed media sosial generasi muda pelan-pelan mulai bergeser. Ada apa?

Beberapa tahun lalu, kopi hampir identik dengan identitas Gen Z. Mulai dari aesthetic coffee shop, konten “ngopi sambil kerja”, hingga berbagai menu kopi kekinian yang selalu ramai antrian; kopi seolah tak tergantikan. Tapi belakangan, ada pergeseran yang cukup menarik untuk dicermati.

Semakin banyak anak muda yang mulai mempertanyakan kebiasaan minum kopi mereka sendiri. Bukan karena tren semata, melainkan karena alasan yang lebih personal: masalah kecemasan, gangguan tidur, hingga ketergantungan kafein yang mulai terasa mengganggu produktivitas.

Mengapa Gen Z Mulai Ragu dengan Kopi?

Kafein memang bekerja dengan cara memblokir adenosine; senyawa di otak yang memicu rasa kantuk. Efeknya, kamu merasa lebih waspada dan fokus. Tapi efek ini ada harganya.

Konsumsi kafein berlebihan, terutama lebih dari 400 mg per hari (setara sekitar 4 cangkir kopi), bisa memicu jantung berdebar, kecemasan, dan kualitas tidur yang memburuk. Bagi Gen Z yang sudah akrab dengan istilah anxiety dan burnout, ini bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.

Ditambah lagi, tren kesehatan holistik yang meledak di kalangan anak muda membuat mereka lebih kritis terhadap apa yang masuk ke tubuh mereka. Pertanyaan seperti “apakah ini benar-benar bagus untuk tubuhku?” kini lebih sering muncul sebelum memesan minuman.

Minuman Apa yang Menggeser Posisi Kopi?

Bukan berarti kopi benar-benar ditinggalkan sepenuhnya. Tapi ada beberapa minuman yang kini mulai mengisi ruang yang dulu didominasi kopi, terutama untuk konsumsi harian.

1. Matcha

Ini mungkin yang paling terlihat jelas. Matcha latte kini jadi menu wajib di hampir setiap kafe. Kandungan kafeinnya lebih rendah dari kopi, sekitar 30–70 mg per sajian, tapi yang membuatnya istimewa adalah kandungan L-theanine: asam amino yang membantu menghasilkan fokus yang lebih tenang tanpa efek jittery yang sering muncul setelah minum kopi. Banyak yang menyebutnya sebagai “calm focus”, dan ini sangat cocok dengan gaya hidup Gen Z yang ingin tetap produktif tapi tidak mau tegang sepanjang hari.

2 . Teh Herbal

Chamomile, peppermint, hingga teh jahe mulai masuk ke rutinitas harian banyak anak muda, terutama sebagai pengganti kopi di malam hari atau sore hari. Selain bebas kafein, minuman ini dikaitkan dengan manfaat relaksasi dan pencernaan yang lebih baik; sesuatu yang sangat relevan di tengah maraknya diskusi tentang gut health di media sosial.

3. Mushroom Coffee

Ini yang agak unik. Mushroom coffee adalah campuran kopi dengan ekstrak jamur fungsional seperti lion’s mane, chaga, atau reishi. Kandungan kafeinnya lebih sedikit dari kopi biasa, tapi diklaim bisa mendukung fokus dan imunitas. Tren ini pertama kali meledak di Amerika Serikat tapi kini mulai masuk ke pasar Indonesia, terutama melalui brand-brand lokal yang bermain di segmen wellness.

4. Minuman Fermentasi (Kombucha)

Kombucha — teh fermentasi yang punya rasa sedikit asam dan fizzy; juga semakin banyak penggemar di kalangan muda. Kandungan probiotiknya dikaitkan dengan kesehatan usus, dan rasanya yang unik cocok untuk mereka yang bosan dengan minuman manis biasa. Di beberapa kota besar, merek kombucha lokal sudah mulai masuk ke minimarket dan kafe independen.

5. Air Putih dengan Twist

Mungkin terdengar sederhana, tapi “aesthetic water” air putih yang ditambahkan irisan lemon, mentimun, daun mint, atau buah beri juga sedang naik daun. Konten hydration routine di TikTok mendorong banyak anak muda untuk lebih sadar soal hidrasi, dan ini secara tidak langsung menggeser kebiasaan yang sebelumnya diisi oleh kopi.

Lalu, Apakah Ini Berarti Budaya Ngopi Akan Hilang?

Tidak juga. Kopi tetap punya tempat spesial, terutama untuk momen sosial dan budaya. Ngobrol di kafe, work from coffee shop, atau sekadar menikmati biji kopi single origin, semua itu masih ada dan masih diminati.

Yang berubah adalah hubungan Gen Z dengan kopi. Dari yang sebelumnya dikonsumsi hampir secara otomatis setiap pagi, kini mulai dikonsumsi lebih sadar dan lebih selektif. Bukan dihindari, tapi diberi batasan.

Ini sebenarnya bagian dari pergeseran yang lebih besar: generasi muda kini semakin memperlakukan tubuh mereka sebagai sesuatu yang perlu dijaga, bukan sekadar “diisi bensin” supaya bisa produktif.

Jadi, Kamu tim kopi atau sudah mulai beralih ke minuman lain? Ceritakan di kolom komentar.