Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Drama dengan Aliran Simbolis Sebagai Alternatif Perlawanan Pada Masa Orde Baru
23 November 2021 17:27 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Roni Adi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Masa Orde Baru dimulai semenjak lengsernya Soekarno yang digantikan oleh Soeharto pada tahun 1966, Orde Baru diartikan sebagai suatu penataan kembali kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dengan berideologi Pancasila, dan berlandaskan Undang-undang 1945. Hal tersebut dilakukan setelah terjadinya peristiwa pembunuhan berdarah para jenderal pada 30 September 1965 yang dituduhkan kepada orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikenal sebagai peristiwa G30S.
ADVERTISEMENT
Awal mulanya tujuan Orde Baru sangatlah baik seperti melakukan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi pada masa Orde Lama. Pengoreksian mencakup semuanya tanpa terkecuali, penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat bangsa dan negara Indonesia, menerapkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, dan membangkitkan kembali kekuatan bangsa Indonesia. Tujuan dari semua hal ini adalah mengembalikan stabilitas nasional dan mempercepat proses pembangunan dalam sektor ekonomi.
Masa Orde Baru berhasil mencapai beberapa capaian yang gemilang contohnya seperti pada tahun 1966 Indonesia mengalami peningkatan gros domestik produk per kapita dari 70 dolar menjadi 100 dolar, selain itu era Orde Baru berhasil untuk menerapkan program keluarga berencana untuk mengontrol pertumbuhan penduduk Indonesia, berhasil meningkatkan jumlah penduduk yang bisa membaca dan menulis, dan juga berhasil meningkatkan keamanan dan kebutuhan sandang, pangan, papan terpenuhi.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi setelah berjalan bertahun-tahun pemerintahan Orde Baru mulai menimbulkan beberapa permasalahan yang merugikan rakyat, seperti terjadinya korupsi besar-besaran di semua lapisan masyarakat, maraknya budaya KKN ( Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), ABRI yang sangat dominan dalam berbagai bidang pekerjaan, banyaknya terjadi pelanggaran HAM, tingginya kesenjangan sosial dalam masyarakat, pembredelan buku-buku yang mengkritik pemerintahan, serta masih banyak lagi.
Terjadinya ketidakadilan serta makin hilangnya kesejahteraan rakyat membuat banyak golongan masyarakat membuat aksi perlawanan terhadap pemerintahan Orde Baru, seperti golongan mahasiswa yang membuat aksi demonstrasi, golongan seniman yang membuat karya-karya yang menentang pemerintahan, serta golongan penulis yang menulis buku perlawanan terhadap pemerintahan, tetapi pada masa itu pemerintah tidak tinggal diam akan aksi perlawanan yang dilakukan golongan-golongan masyarakat tersebut, contohnya banyak pemberedelan buku yang tidak lulus sensor dari standar pemerintahan, atau banyaknya aktivis yang dipenjara dan dihilangkan, dan masih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
Bukan seniman jika tidak melahirkan ide-ide kreatif, dalam hal ini untuk melawan kekuasaan yang dzolim. Drama dengan aliran Simbolis muncul menjadi salah satu alternatif alat untuk melakukan perlawanan. Drama Simbolis dapat diartikan sebagai pementasan drama yang menggunakan simbol untuk menggantikan hal sesungguhnya ke hal lain, tujuannya yaitu untuk menghidupkan pemahaman penonton dalam mengartikan pesan yang tersirat dalam pementasan tersebut. Aliran ini muncul di Indonesia pada masa Orde Baru karena pada masa itu dilakukan banyak pembatasan dari pemerintah kepada sutradara atau penulis naskah dalam membuat dramanya.
Salah satu drama simbolis yang ada di Indonesia yaitu drama yang berjudul “ LOS BAGADOS DE LOS PENCOS” yang ditulis oleh W.S Rendra, dan beberapa bulan lalu dipentaskan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam pagelaran Pestarama. Drama ini memiliki tokoh dan latar yang cukup unik, itu sebabnya digolongkan kepada drama simbolis, bagaimana tidak, drama ini menceritakan orang-orang gila yang menuntut keadilan di rumah sakit jiwanya, mereka menuding jika dokter yang memimpin rumah sakit jiwa tersebut telah melakukan tindak korupsi sehingga membuat mereka kurang sejahtera hidupnya di rumah sakit jiwa, parahnya lagi mereka menuding jika dokter tersebut bekerja sama dengan suster untuk melakukan tindakan korupsi tersebut. Hal ini sangatlah menyimbolkan apa yang telah terjadi pada masa pemerintahan itu.