kumparan
17 Januari 2020 22:55

Guru di Tengah Bencana

Ilustrasi bencana alam (COVER)
Ilustrasi bencana alam Foto: Unsplash
Tahun lalu, pasca-gempa melanda Lombok, saya turut tergabung beberapa hari dengan tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jabar. Di sana berkesempatan meninjau beberapa lokasi terparah, termasuk menginjakkan kaki di Sembalun.
ADVERTISEMENT
Di tempat yang mengagumkan ini, kondisinya sangat menyedihkan, ratusan rumah rata dengan tanah, sebagiannya masih berdiri tetapi kondisi rusak berat. Berbagai fasilitas umum pun turut hancur, tidak terkecuali sekolah.
Saya sempat diajak melihat sekolah TK Muhammadiyah yang sudah ambruk seluruhnya. Yang paling sedih ketika diajak berkunjung ke rumah salah seorang gurunya yaitu Yanti. Yanti tergolong masih muda, anaknya baru satu dan masih kecil sekali. Di pinggir rumahnya yang tinggal puing-puing kami ngobrol, saya kagum dengan ceritanya.
Dia bertutur, di saat puncak gempa terjadi tengah malam, rumahnya roboh seketika. Namun, pagi hari tidak ada yang paling dikhawatirkan Yanti kecuali sekolah dan anak-anak kesayangannya. Ketika pagi hari semua orang meratapi rumah dan harta bendanya, Yanti malah pergi ke sekolah. Alasan Yanti, khawatir ada anak yang datang ke sekolah untuk belajar. Dia akan merasa berdosa kalau anak mau belajar tetapi dirinya tidak ada di lokasi hanya karena meratapi bencana yang menimpanya.
ADVERTISEMENT
Memang ke sekolah tidak ada anak yang belajar, karena semua warga kena bencana yang cukup parah. Tetapi Yanti tetap berangkat ke sekolah selama seminggu. Ketika ada pengumuman dari kepala sekolah untuk libur, baru dirinya berhenti pergi ke sekolahnya yang juga hancur itu.
Beberapa waktu lalu, di saat pergantian tahun yang masih segar dalam ingatan kita, bencana besar melanda Ibu Kota negara dan kota-kota lain di sekitarnya. Bahkan juga terjadi di kota dan kabupaten di Indonesia. Hujan lebat mengakibatkan banjir bandang, longsor dan bencana lain yang menyita perhatian banyak pihak.
Terlepas dari banyaknya penumpang gelap di saat bencana melanda, kita menyaksikan kerugian harta benda, fasilitas umum dan nyawa sekalipun. Kondisi ini membuat kepala daerah panik, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi ujian ini. Masyarakat dan aparat bahu membahu menjadi bagian dari solusi.
ADVERTISEMENT
Apa yang sesungguhnya yang tersisa dari sebuah bencana, Harta benda kah? Anggota keluarga, atau harapan? Konon Jepang menyandarkan harapan masa depannya kepada guru, ketika negara tersebut dijatuhi bom yang menghabisi ribuan nyawa dan bencana berkepanjangan.
Di kita pun, yang paling penting dari sekian banyak yang harus diperhatikan pasca-bencana adalah guru. Sebagai pendidik anak-anak bangsa, guru menjadi pihak yang harus dibantu. Percuma sekolah masih berdiri kokoh jika gurunya menderita. Sebaliknya, kehadiran guru mungkin akan menjadi harapan anak-anak kendatipun ruang sekolahnya hancur dan tidak layak lagi.
Ilustrasi banjir
Ilustrasi banjir Foto: Yusuf Nugroho/Antara
Bencana banjir di Jakarta saja tidak kurang menenggelamkan lebih dari 300 sekolah, dengan klaster yang berbeda-beda. Jumlahnya akan jauh lebih fantastis jika dihitung secara nasional. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena kaitannya dengan kegiatan pendidikan yang mengakibatkan ribuan anak tidak bisa belajar.
ADVERTISEMENT
Jika mengacu pada Permendikbud Nomor 33 tahun 2019, tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana, disana dijelaskan bagaimana Pemerintah dari mulai pusat hingga daerah, bahkan satuan pendidikan atau sekolah, harus bahu membahu menangani proses pendidikan dalam kondisi darurat. Salah satu tugas Pemda misalnya dalam hal ini yaitu menyediakan pos pendidikan untuk penanganan masalah pendidikan pasca bencana.
Jika dibaca lebih detail lagi, Permendikbud memiliki payung hukum yang rinci terkait penanganan pendidikan pada saat dan pasca bencana. Walaupun kemudian di lapangan mungkin aspek ini tidak menjadi fokus utama karena terbagi konsentrasi dengan penanganan yang lainnya.
Tetapi jika kembali pada ilustrasi di tas, saya melihat peran guru yang sangat urgen. Selain penyelamatan gedung sekolah dan aset lainnya, yang paling penting adalah mengembalikan semangat para pendidik dalam memberikan pelayanan di tengah bencana. Walaupun secara manusiawi, guru-guru juga membutuhkan bantuan seperti yang lain, namun setidaknya ada upaya yang dilakukan untuk tetap memperhatikan anak didiknya.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, pemerintah dan semua pihak, pada saat terjadi bencana, hingga kini mungkin belum menjadikan fokus penanganan dan perhatian yang lebih kepada guru-guru. Padahal, yang kita harapkan pasca bencana, sekolah tidak lama liburnya agar anak-anak tidak larut dalam duka.
Sudah saatnya memberikan perhatian lebih pada guru-guru pada saat terjadi bencana. Kemendikbud, pemda, dan semua elemen masyarakat harus berupaya agar proses pendidikan tetap berjalan, walaupun secara fisik mungkin dianggap tidak layak. Secara substansi proses belajar harus tetap berjalan, karena anak-anak bukan hanya butuh ilmu tetapi juga butuh motivasi, agar mereka tetap memiliki harapan dan memelihara visi juga cita-citanya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan