Konten dari Pengguna

Asumsi Mendasar Dalam Pemenuhan Mutu Pendidikan

Roni Purba

Roni Purba

Guru Pendidikan Pancasila

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Roni Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu jalan membangun potensi sumber daya manusia yang unggul adalah lewat pendidikan. Pendidikan menjadi satu ujung tombak untuk membangun sebuah peradaban layaknya cahaya lampu menyinari sebuah ruangan gelap. Lewat pendidikan akan membawa setiap insan manusia untuk membangun diri dan keluar dari zona buruk seperti kemiskinan dan atau kebodohan.

Dorongan untuk membawa setiap orang mempelajari ilmu pengetahuan lewat pendidikan adalah tidak mudah. Perlu adanya dorongan dan keseriusan dari pihak-pihak terkait untuk menunjang rangkaian pendidikan dapat terpenuhi dengan baik dan maksimal. Dikarenakan, pesatnya era informasi saat ini membuat progress bagi seseorang akan memperlambat alur informasi ilmu pengetahuan yang ada menjadi pemahaman sepanjang hayat. Perlu di pahami bahwa, pendidikan di era sekarang harus mampu melewati rangkaian dari kemajuan itu sendiri. Oleh sebab itu, perlu adanya terobosan untuk memaksimalkan proses pendidikan dapat terealisasi dengan kebutuhan waktu hingga pemahaman dari pembelajaran menjadi pemahaman sepanjang hayat yang membekas dan melekat secara mendalam pada seseorang.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah alat yang berperan penting dalam mewjudukan kualitas SDM (Sumber daya manusia) sesuai standart kebutuhan zaman. Sekolah yang di isi oleh guru-guru yang sudah memiliki pengalaman dan dedikasi dalam mendidik siswa, seharusnya sudah memahami situasi dan kondisi penyerapan ilmu pengetahuan pada masa kini. Maka dalam perwujudan tersebut harus ditopang dengan pendekatan-pendekatan rasional untuk membekali pada pelajar. Maka guru sebagai pedidik perlu memahami perannya dengan bijak dan penuh kesadaran. Setidaknya ada 3 pedoman dalam asumsi mendasar terhadap pemenuhan mutu pendidikan masa kini adalah;

Keterlibatan dari penelitian dan pengembangan yang lebih mendalam. Sebab kebutuhan belajar harus menjadi bervariasi dan memberikan kesan dan pesan sebagai pemahaman sepanjang hayat.

Para pendidik harus terus melakukan upgrade diri, mereka harus canggih dan mampu bersaing dengan kemajuan teknologi, mulai dari penguasaan bahasa asing dan penggunaan teknologi harus lancar dan terbiasa. Keadaan ini seakan menjadi alarm dan paksaan bagi para pendidik, karena apabila mereka sedikit tertinggal mereka bisa saja di labeli kurang update dan atau tidak tahu. Sistem selalu berubah dan kebutuhan belajar juga menyesuaikan dengan sistem tersebut, para pelajar tidak lagi butuh sesuatu yang monoton melainkan kreatifitas yang membuat mereka fun dan nyaman dalam kelas saat belajar. Pendidik tidak boleh lengah harus peka dan terus meneliti dan mengembangkan kebutuhan dalam perangkat pembelajaran. Dengan ini, pemenuhan mutu pendidikan bisa terealisasi dengan baik.

Dok: Roni Purba

Kesanggupan orang (pendidik) untuk memberikan diri dengan totalitas tanpa batas. Sebab, kalau tindakan mendidik dikerjakan setengah hati, hasilnya juga setengah jadi.

Pendidik yang memberikan diri dengan sepenuh hati dengan segala persiapan yang amat matang sebelum masuk kelas, ketika dia selesai mengajar dan keluar kelas akan merasa terpuaskan dan memberikan senyuman lebar, karena penyaluran ilmu pengetahuan kepada pelajar berjalan dengan baik dan maksimal. Pelajar juga akan merasa nyaman dan memiliki banyak insigt yang didapatkan saat belajar. Situasi ini tidaklah mudah, seorang pendidik yang dengan persiapan penuh sebelum masuk kelas, pasti merasa kewalahan dalam melakukannya, tapi dia akan sangat bahagia ketika dari persiapan tersebut pelajarnya menjadi pintar dan memiliki wawasan yang utuh dari ilmu pengetahuan yang diberikan.

Adanya fokus bersama di kalangan pendidik adalah melakukan kolaborasi dan tidak kerja sendiri-sendiri. Sebab, sharing knowledge dan hal lainnya menjadi bekal untuk terus memahami situasi dan mampu beradaptasi dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Dok: Roni Purba

Dalam lingkup dunia pendidikan, dan sebagai sesama rekan kerja pendidik harus mampu mampu menjiwai kebutuhan dari masing-masing pendidik. Berbagi cerita adalah aksi yang baik untuk mendapatkan hal baru dalam membuat strategi atau metode pengajaran yang relevan dalam kelas-kelas yang dikunjungi. Sesama pendidik harus saling terbuka terhadap informasi siswa, kelas dan juga konten yang diajarkan supaya, refleksi, evaluasi dan apresiasi bisa berjalan ber iringan. Kekuatan ini akan menjadi modal ketiga dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan mutu pendidikan yang unggul dan hebat.

Asumsi tersebut bukan berarti sebuah pondasi, tetapi sebagai antisipasi untuk mempermudah beban dan tanggung jawab dalam mewujudkan holistic education yang memberikan dampak secara pengetahuan, psikomotor dan keterampilan yang mendalam bagi para peserta didik. Pendidikan tidak sekedar transfer ilmu, namun mengubah secara total pikiran, dan perasaan peserta didik menjadi lebih unggul, dan berdaya saing.