Konten dari Pengguna

Gunakan Gelombang Otak untuk Tangan Prostetik: Inovasi Anak Bangsa!

Cindy Clara

Cindy Clara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cindy Clara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(kiri ke kanan) Yusuf, Arifin, dan Aulia saat mempresentasikan Afta B-Ionic di hadapan ratusan pengunjung di @america, Pacific Place, Sabtu (23/3/2019).
zoom-in-whitePerbesar
(kiri ke kanan) Yusuf, Arifin, dan Aulia saat mempresentasikan Afta B-Ionic di hadapan ratusan pengunjung di @america, Pacific Place, Sabtu (23/3/2019).

Percaya, enggak, kalau anak muda Indonesia juga bisa membuat tangan prostetik yang dikendalikan gelombang otak?

Faktanya, anak muda Indonesia BISA membuatnya!

Afta B-Ionic merupakan salah satu usaha sosial yang bergerak di bidang orthosis prosthesis dan berfokus pada penggunaan robotik. Lewat usaha ini, Muhammad Arifin Julian (Arifin), Aulia Fitria Ulfah (Aulia), dan Muhammad Yusuf Abdurrahman (Yusuf) berinovasi untuk membuat tangan prostetik yang dapat dapat dikendalikan dengan gelombang otak.

Arifin dan Yusuf merupakan mahasiswa jurusan teknik mesin, dan Aulia yang merupakan mahasiswa jurusan ekonomi di salah satu universitas ternama, kemudian tertarik untuk mendalami usaha sosial ini bersama. Meski demikian, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa tentunya ada perbedaan pandangan antara dunia mesin dengan dunia medis.

“Tantangan di bidang ini pertama karena memang kami itu basic-nya dari engineering dan banyak hal yang harus dipelajari terkait dunia medis. Jadi kami mempelajari terkait fungsional tubuh manusia, karena memang ketika kita membuat, contohnya membuat socket untuk kaki itu ada daerah sensitif dan ada daerah yang boleh gunakan untuk diberi tekanan, seperti itu. Itu terkait ilmunya tentang human body,” jelas Arifin.

Menemui tantangan ini, Arifin cs tidak patah arang. Justru, mereka melihat adanya peluang lebih di bidang ini. Dibanding menyerah dengan kesulitan yang ada, Arifin cs justru memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam pengetahuan di bidang penggunaan mesin dalam dunia medis.

“Kami bertemu dengan yang memang terjun di dunia medis. Mereka bilang ‘kami sangat butuh engineer, dan kami sangat butuh engineer yang bisa berkontribusi di medis di Indonesia’, karena kan juga alat alat medis di indonesia sangat mahal, karena mayoritas adalah import. Padahal Indonesia itu mempunyai kemampuan dari segi knowledge untuk membuat teknologi-teknologi untuk membuat medis tersebut,” kisah Arifin.

Arifin saat mempresentasikan Afta B-Ionic di hadapan ratusan pengunjung di @america, Pacific Place, Sabtu (23/3/2019).

Selain itu, Arifin cs juga mengakui bahwa produknya cukup sulit diterapkan pada penyandang disabilitas sejak lahir. Sebab, produknya ini dibuat berkaitan dengan gelombang otak.

“Mereka yang tidak sejak lahir, mereka punya experience dalam menggerakkan ototnya. Jadi ketika di pasang, mereka masih bisa menggunakan produk ini karena tahu cara menggerakkan ototnya. Sedangkan, mereka yang dari lahir kan enggak punya experience itu,” jelasnya.

Meski demikian, Arifin cs mengaku masih terus berusaha untuk mengembangkan produknya agar bisa membantu orang banyak. Karenanya, tim Afta B-Ionic berusaha untuk memahami lebih lanjut terkait tubuh manusia, dunia medis, dan sejenisnya dengan berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter-dokter yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Selain itu, mereka juga terus memperdalam riset dan percobaan. Bahkan, disampaikan Arifin, mereka melakukan riset dengan membuat contoh menggunakan styrofoam.

Usaha mereka melakukan riset pun tidak sia-sia. Afta B-Ionic berhasil menjadi finalis di salah satu perlombaan riset medis, dan inovasi mereka juga masuk menjadi 110 Inovasi Indonesia dari Business Innovation Center 2018.

Dalam menjalani riset, mereka bertemu dan berdiskusi dengan sejumlah pihak, termasuk para penyandang disabilitas. Produk mereka yang ternyata diharapkan banyak pihak membuat mereka mantap untuk menjadikan Afta B-Ionic sebagai usaha sosial. Sebab, riset dan teknologi yang tidak mereka komersialisasikan tidak bisa membuat mereka sustain. Dengan komersalisasi yang mereka lakukan, mereka bisa mendapat profit untuk mengembangkan riset lagi.

“Sebelumnya kami punya ilmu terkait bisnis, tapi kami tidak mempunyai ilmu terkait social enterprise. Kan ada sedikit perbedaan, ketika bisnis kita hanya fokus pada profit, sedangkan social enterprise kita juga harus menyeimbangkan 50 persen untuk impact, 50 persen untuk profit,” tuturnya.

Ketidakpahaman mereka mengenai usaha sosial membuat mereka mencoba memperdalam ilmu dengan mengikuti sejumlah kelas dan program yang bisa membantu, salah satunya Young Changemakers Social Enterprise (YCSE) Academy. Lebih dari sekadar mencoba, Afta B-Ionic bahkan terpilih menjadi salah satu dari sepuluh finalis dari seluruh Indonesia, dan berkesempatan berbagi panggung untuk mempresentasikan usahanya di hadapan ratusan audiens.

Disampaikan Arifin, program ini membuatnya lebih termotivasi untuk melanjutkan yang telah dimulainya ini. Selain itu, ia juga belajar untuk berani memberikan impact yang besar pada masyarakat.

“Selama kita bisa memberikan impact yang besar untuk masyarakat, lakukan lah, walaupun rintangannya sulit. Karena jika itu berhasil, kita selain berhasil, kita juga dapat membantu orang lain,” ajak Arifin memotivasi anak muda lainnya.