Algoritma yang Mengatur Hidup Kita

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rosa R T Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita bertanya, mengapa video yang muncul di beranda media sosial terasa begitu “sesuai” dengan minat kita? Mengapa iklan sepatu yang baru kita lihat di toko daring tiba-tiba muncul di setiap laman yang kita buka? Atau mengapa berita yang tampil di linimasa seolah-olah selalu sejalan dengan pandangan politik kita?
Jawabannya sederhana: algoritma. Namun yang tampak sederhana ini, sesungguhnya tengah mengatur hidup kita dalam diam menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, bahkan percayai.
Dari Membantu Jadi Mengendalikan
Algoritma pada dasarnya adalah serangkaian perintah matematis yang dirancang untuk membantu manusia. Ia memungkinkan mesin memahami pola, memprediksi perilaku, dan memberi rekomendasi. Dalam banyak hal, algoritma membuat hidup kita lebih mudah: mempersingkat pencarian informasi, menyesuaikan musik dengan selera, hingga membantu navigasi perjalanan.
Namun, perlahan-lahan, fungsi “membantu” itu bergeser menjadi “mengendalikan.” Kita tidak lagi sekadar menggunakan algoritma; kitalah yang digunakan olehnya.
Setiap kali kita mengetuk layar, mengetik kata kunci, atau berhenti sejenak menonton video, sistem mencatatnya. Setiap like, scroll, dan share menjadi data yang dianalisis, diolah, dan digunakan untuk memprediksi perilaku kita berikutnya.
Tanpa disadari, algoritma telah menciptakan semacam “cermin digital” yang memantulkan versi diri kita namun versi yang dikurasi oleh data, bukan oleh kesadaran.
Kehidupan dalam Gelembung Digital
Masalah muncul ketika algoritma tidak hanya menampilkan hal yang kita sukai, tetapi juga menyembunyikan yang tidak kita sukai. Akibatnya, kita hidup dalam filter bubble gelembung informasi yang membuat dunia tampak seragam dan menyenangkan, padahal sesungguhnya sempit dan bias.
Di media sosial, misalnya, algoritma cenderung menampilkan konten yang menimbulkan keterlibatan emosional tinggi baik kemarahan, ketakutan, maupun kebahagiaan. Mengapa? Karena emosi membuat kita lebih lama bertahan di platform, dan waktu kita adalah sumber keuntungan bagi mereka.
Dampaknya, ruang digital kita dipenuhi opini yang ekstrem, berita sensasional, dan perdebatan tanpa akhir. Pola pikir kritis tergerus oleh kenyamanan algoritmik yang hanya memberi apa yang ingin kita dengar. Kita tidak lagi mencari kebenaran, melainkan pembenaran. Kita tidak lagi berdialog, melainkan bergaung di dalam ruang gema (echo chamber) yang memantulkan suara sendiri.
Manipulasi yang Terselubung
Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma kini digunakan bukan hanya untuk menghibur atau menjual, tetapi juga untuk memengaruhi perilaku sosial dan politik.
Kita masih ingat skandal Cambridge Analytica, ketika data jutaan pengguna Facebook digunakan untuk menargetkan pesan politik yang memengaruhi hasil pemilu di berbagai negara. Di Indonesia, fenomena serupa muncul dalam bentuk buzzer, bot, dan perang opini yang digerakkan oleh sistem otomatis.
Kita tidak sadar kapan opini kita dibentuk. Kita mengira memilih secara bebas, padahal pilihan itu telah disempitkan oleh apa yang ditampilkan di layar.
Di titik inilah algoritma bukan lagi sekadar teknologi, melainkan kekuatan sosial dan ekonomi yang membentuk perilaku kolektif. Ia bekerja tanpa wajah, tanpa suara, namun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kehilangan Kendali Atas Diri Sendiri
Paradoksnya, semakin canggih teknologi yang kita gunakan, semakin besar ketergantungan kita padanya. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, algoritma memandu langkah kita: menentukan lagu yang kita dengar, berita yang kita baca, bahkan pasangan yang kita pilih melalui aplikasi daring. Kita merasa bebas, padahal diarahkan. Kita merasa memilih, padahal dipilihkan.
Di era algoritmik ini, kebebasan menjadi konsep yang semakin kabur. Otonomi pribadi digantikan oleh kenyamanan yang disediakan mesin. Kita menyerahkan waktu, perhatian, bahkan preferensi kepada sistem yang bekerja di balik layar tanpa kita pahami sepenuhnya.
Ironisnya, banyak orang tidak merasa terganggu. Sebab, algoritma tidak pernah memaksa; ia hanya membujuk dengan cara yang sangat halus melalui kemudahan, relevansi, dan rasa puas yang instan.
Merebut Kembali Kesadaran
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Menolak algoritma tentu mustahil. Dunia digital sudah menjadi bagian dari hidup kita. Namun, kita bisa menuntut transparansi dan etika dalam penggunaannya.
Pertama, perusahaan teknologi harus bertanggung jawab menjelaskan bagaimana algoritma mereka bekerja dan sejauh mana data pengguna digunakan. Keterbukaan ini penting agar publik dapat menilai apakah sistem tersebut adil dan tidak manipulatif.
Kedua, pendidikan literasi digital perlu dikuatkan. Masyarakat harus diajarkan untuk memahami cara algoritma bekerja bahwa tidak semua yang muncul di layar adalah cerminan dunia nyata. Kesadaran ini membuat kita lebih kritis dalam menerima informasi.
Ketiga, kita perlu mempraktikkan digital mindfulness kesadaran dalam bermedia. Jangan biarkan algoritma menentukan apa yang kita pikirkan. Atur waktu untuk lepas dari gawai, cari perspektif di luar linimasa, dan rawat kembali interaksi manusiawi yang tidak diukur oleh engagement rate.
Manusia di Tengah Mesin
Teknologi seharusnya membantu manusia tumbuh, bukan membatasi ruang pikirnya. Algoritma tidak bisa memahami kasih sayang, moral, atau intuisi nilai-nilai yang menjadikan manusia berbeda dari mesin.
Maka, tantangan kita bukan sekadar menjadi pengguna cerdas, tetapi juga tetap menjadi manusia yang sadar. Kita perlu kembali mengingat bahwa di balik setiap klik ada pilihan, dan di balik setiap data ada makna.
Karena pada akhirnya, algoritma hanyalah cermin. Dan seperti semua cermin, ia tidak bisa menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya kecuali kita sendiri yang mau menatap lebih dalam.
Rosa Riana Triana Saragih, mahasiswi universitas katolik santo Thomas, medan
