Jouska, Kala Seseorang Berbincang Dengan Diri Sendiri dalam Pikirannya

Seorang Mahasiswi di Universitas Brawijaya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Desi Tiara Setiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu Jouska Self-talk?
Jouska is hypothetical conversation that you compulsively play out in your head—a crisp analysis, a cathartic dialogue, a devastating comeback—which serves as a kind of psychological batting cage where you can connect more deeply with people than in the small ball of everyday life, which is a frustratingly cautious game of change-up pitches, sacrifice bunts, and intentional walks. -The Dictionary of Obscure Sorrows.
Komunikasi merupakan suatu hal yang menjadi kebiasan sehari-hari tiap manusia, bukan? Akan tetapi, bagi sebagian orang yang introvert, mereka lebih nyaman berbicara dengan diri mereka sendiri di dalam pikirannya. Fenomena ini disebut dengan Self-talk atau dengan istilah psikologinya, Jouska.
Apa sih Jouska itu? Jouska berarti hipotesis yang selalu terjadi berulang kali di dalam kepala seseorang. Entah itu analisis, dialog, ataupun opini lainnya. Namun, hal tersebut hanya terjadi di dalam kepala seseorang. Sering kali hipotesis ini bertengkar dengan diri sendiri karena perbedaan pendapat.
Fenomena Jouska Self-talk jarang diketahui oleh kebanyakan orang. Hal ini dikarenakan fenomena Jouska Self-talk tidak menarik minat mereka. Oleh karena itu, banyak yang mengabaikan fenomena ini. Padahal kan fenomena ini tergolong unik.
Hubungan Jouska Self-talk dengan Kesehatan Mental.
Fenomena Jouska Self-talk berhubungan dengan kesehatan mental kalian, loh. Misalnya saja, ketika hujan, kalian berbicara dengan diri sendiri, “Apakah aku harus pergi keluar?”, di saat kalian telah kehujanan, kalian berjanji pada diri sendiri, “Aku berjanji tidak akan keluar ketika hujan!”, kemudian, kalian mengingatkan diri kalian untuk menepati janji tersebut. Pada awalnya, fenomena ini termasuk ke dalam tindakan sosial. Akan tetapi, di saat hal tersebut ditujukan kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain, maka Jouska Self-talk digolongkan kepada proses cara berpikir.
Proses berpikir yang berulang kali dengan diri sendiri, bisa menjadi bermanfaat jika itu positif. Positif seperti memberikan semangat kepada diri sendiri. Hal ini membantu proses kesehatan mental seseorang. Namun, jika ada positif pasti ada negatif. Jouska Self-talk menjadi negatif ketika pikiran kita berusaha menjatuhkan diri sendiri. Fenomena yang sering kita sebut sebagai pesimis. Kemudian, self-talk negatif ini menurunkan kualitas kesehatan mental kita. Akan tetapi, kalian tenang saja. Dengan cara melakukan Self-control pada self-talk, masalah bisa teratasi.
Mengubah Jouska Self-talk Negatif Menjadi Self-talk Positif.
Bagi kalian yang sering melakukan self-talk, tetapi tidak mengetahui jika self-talk kalian itu dikategorikan sebagai self-talk negatif. Beberapa cara berikut ini bisa membantu kalian, nih!
Memulai dengan mengubah kata-kata yang diucapkan kepada diri sendiri. Jangan pernah ucapkan kata buruk yang membuat kalian menjadi pesimis!
Menerima semua kesalahan yang telah kalian lakukan. Dengan demikian, kata negatif tidak akan muncul karena kalian telah berdamai dengan kesalahan yang kalian lakukan.
Menggunakan positive affirmation berulang kali juga termasuk ke dalam self-control yang baik.
Untuk berhasil menggunakan Jouska Self-talk positif secara sempurna di dalam kehidupan sehari-hari, perlu banget adanya kebiasaan. Namun, kalian tenang saja. Proses kebiasaan ini bisa dilatih dengan orang-orang terdekat. Misalnya, dengan pasangan kalian, sahabat, bahkan keluarga juga bisa. Dengan demikian, kalian akan bisa mengenali kapasitas diri di dalam hidup kalian sendiri.
Self-talk Berbeda Dengan Skizofrenia.
Banyak orang yang mengira berbicara dengan diri sendiri di dalam pikiran termasuk ke dalam penyakit mental, loh. Hal tersebut tentu saja merupakan salah satu pernyataan yang salah kaprah banget, nih.
Dalam Skizofrenia, penderita mengalami halusinasi dan merasa ada orang yang memerintahnya untuk melakukan sesuatu. Diri batin berbicara apa yang dari luar diri memerintahkannya untuk dilakukan. (Nagai, 1990).
Penderita skizofrenia menciptakan seseorang untuk ada di kehidupannya. Mereka menciptakan imajiner di dalam diri mereka tanpa mereka sadari. Sedangkan, Jouska Self-talk merupakan kemauan diri sendiri untuk berdiskusi dengan pikiran mereka. Tidak ada paksaan di dalam Jouska self-talk. Hipotesis Jouska Self-talk yang selalu berputar-putar dalam kepala, bukan termasuk ke dalam penyakit mental. Maka dari itu, kalian harus ingat bahwa orang yang sering melakukan Jouska Self-talk dan penderita Skizofrenia sudah jelas sekali berbeda, ya!
Referensi
Stephensen, H., & Parnas, J. (2018). Apa yang dapat diceritakan oleh gangguan diri pada skizofrenia kepada kita tentang sifat subjektivitas? Investigasi psikopatologis. Fenomenologi dan Ilmu Kognitif , 17 (4), 629-642. https://doi.org/10.1007/s.11097-017-9532-0
Wallace, P. J., McKinlay, B. J., Coletta, N. A., Vlaar, J. I., Taber, M. J., Wilson, P. M., & Cheung, S. S. (2017). Effects of motivational self-talk on endurance and cognitive performance in the heat. Medicine & Science in Sports & Exercise, 49(1), 191-199. https://doi.org/10.1249/MSS.0000000000001087
Satu Persen. (2020, September 03). Cara Mencintai Diri dengan Self-Talk [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=WTo_EfwK9Oc
Koenig, J. (2021). The dictionary of obscure sorrows. Simon and Schuster.
