Inovasi Karbon Aktif Atasi Cemaran Limbah Perikanan oleh Mahasiswa UNDIP

Saat ini Saya adalah Mahasiswa Teknik Kimia UNDIP yang berfokus pada penelitian dan pengabdian masyarakat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rosid Mustaqim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inovasi karbon aktif telah dikenalkan dengan melakukan sosialisasi dan edukasi di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal –Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dengan judul “Penerapan Iptek untuk Peningkatan Produksi Budidaya Perikanan dan Pengolahan Ikan sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan” dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mendukung program hilirisasi teknologi kepada masyarakat, khususnya dalam sektor perikanan yang menjadi andalan utama di wilayah tersebut.
Pengolahan air bersih menjadi fokus pembahasan kali ini. Pengenalan solusi teknologi yang ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha budidaya secara berkelanjutan. Desa Tambaksari dikenal memiliki potensi perikanan yang besar, namun di sisi lain juga menghadapi tantangan berupa limbah perikanan yang tidak tertangani dengan optimal, sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan memengaruhi produktivitas jangka panjang.
Salah satu bentuk kontribusi dari mahasiswa peserta KKN Rosid Mustaqim, mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, yang membawakan topik “Pemanfaatan Karbon Aktif dalam Aplikasi Cemaran Air Limbah Perikanan sebagai Upaya Menjaga Baku Mutu Air”. Topik ini dipilih berdasarkan hasil identifikasi masalah yang dilakukan di awal kegiatan KKN, di mana ditemukan bahwa air limbah hasil pengolahan ikan dan kegiatan budidaya tidak melalui proses pengolahan yang memadai. Bahkan, air limbah perikanan langsung dialirkan ke sungai.
Pengolahan air bersih menjadi permasalahan utama yang dihadapi masyarakat adalah meningkatnya kadar amonia, bahan organik terlarut, dan zat penyebab bau menyengat pada air buangan, terutama di sekitar area tambak dan tempat pengolahan ikan. Air limbah tersebut berpotensi mencemari saluran air umum dan berdampak terhadap kesehatan lingkungan maupun aktivitas budidaya yang berbasis pada air bersih.
Dalam presentasinya kepada warga, Rosid menjelaskan bahwa karbon aktif merupakan bahan yang memiliki daya serap tinggi terhadap berbagai jenis kontaminan dalam air, baik organik maupun anorganik. Pemanfaatan karbon aktif sebagai media adsorpsi dapat membantu menyaring zat-zat pencemar dari air limbah, sehingga mutu air yang dibuang ke lingkungan tetap berada dalam ambang batas yang diizinkan sesuai baku mutu air limbah domestik.
Yang menarik, karbon aktif yang diperkenalkan dalam kegiatan ini dibuat dari limbah pertanian lokal seperti tempurung kelapa, tongkol jagung, dan serbuk kayu, sehingga potensial sebagai solusi yang murah dan mudah diterapkan. Proses pembuatan karbon aktif dilakukan melalui proses pirolisis dan aktivasi sederhana, dengan perlakuan panas dan bahan kimia yang relatif aman serta bisa dilakukan oleh masyarakat dengan pelatihan singkat.
Dari hasil evaluasi sementara, masyarakat menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan sistem penyaringan limbah secara kolektif di sekitar area tambak dan rumah produksi. Beberapa warga bahkan menyatakan kesediaannya untuk membuat karbon aktif sendiri dari bahan limbah yang ada di sekitar rumah sebagai bentuk pengelolaan lingkungan mandiri. Kegiatan KKN ini tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kualitas lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan usaha perikanan. Upaya menjaga baku mutu air dinilai sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan ikan, efisiensi pakan, dan kualitas hasil panen, yang pada akhirnya akan mendukung peningkatan pendapatan dan ketahanan pangan masyarakat desa.
