Efektifkah Suku Bunga BI Mengendalikan Inflasi tanpa Menekan Daya Beli?

saya adalah seorang mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rosilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika harga kebutuhan sehari-hari naik, masyarakat biasanya langsung merasakan dampaknya. Uang yang sebelumnya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, perlahan harus digunakan lebih banyak untuk barang yang sama. Di sisi lain, ketika suku bunga berubah, dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam menabung, mengambil kredit, hingga melakukan konsumsi.
Di sinilah kebijakan suku bunga Bank Indonesia menjadi penting. Suku bunga merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter yang digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk mengendalikan inflasi. Namun, muncul pertanyaan: sejauh mana kebijakan suku bunga mampu mengendalikan inflasi tanpa ikut menekan daya beli masyarakat?
Inflasi Masih dalam Sasaran
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen ± 1 persen. Inflasi inti pada periode yang sama tercatat sebesar 2,92 persen.
Pada sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. BI juga menyatakan bahwa kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mempertahankan inflasi dalam sasaran, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga. Bank Indonesia juga menggunakan berbagai kebijakan lain, termasuk pengelolaan likuiditas dan kebijakan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar.
Ketika Suku Bunga Bertemu Daya Beli
Secara sederhana, perubahan suku bunga dapat memengaruhi keputusan masyarakat dan dunia usaha. Ketika suku bunga relatif tinggi, biaya pinjaman dapat menjadi lebih mahal sehingga masyarakat maupun pelaku usaha dapat lebih berhati-hati dalam mengambil kredit dan melakukan pengeluaran.
Bagi masyarakat yang memiliki cicilan, kondisi suku bunga juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Beban pembiayaan dapat memengaruhi ruang untuk melakukan konsumsi lainnya. Sementara bagi pelaku usaha, biaya pembiayaan yang lebih tinggi dapat membuat sebagian rencana ekspansi atau investasi ditunda.
Namun, persoalannya tidak sesederhana bahwa suku bunga tinggi selalu menekan masyarakat. Inflasi yang terlalu tinggi juga dapat mengurangi daya beli. Ketika harga kebutuhan meningkat lebih cepat daripada pendapatan, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa ikut berkurang.
Artinya, terdapat dua sisi yang perlu diperhatikan. Kebijakan moneter diperlukan untuk menjaga stabilitas harga, tetapi kebijakan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Apakah Suku Bunga Saja Cukup?
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah suku bunga efektif atau tidak, melainkan apakah pengendalian inflasi dapat dilakukan dengan tetap menjaga ruang masyarakat untuk berkonsumsi dan pelaku usaha untuk berkembang.
Hal ini penting karena sumber inflasi tidak selalu berasal dari tingginya permintaan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada Agustus 2026, inflasi volatile food secara tahunan mencapai 4,06 persen, dengan beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras menjadi salah satu penyumbangnya.
Jika tekanan harga berasal dari faktor pangan atau pasokan, kebijakan suku bunga saja tentu tidak secara langsung menyelesaikan persoalan tersebut. Pengendalian inflasi juga membutuhkan koordinasi dengan kebijakan pangan, distribusi, produksi, dan kebijakan pemerintah lainnya.
Menjaga Keseimbangan
Kebijakan suku bunga pada akhirnya perlu dilihat sebagai bagian dari kebijakan ekonomi yang lebih luas. Inflasi yang terkendali memang penting karena memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Namun, menjaga stabilitas harga juga perlu berjalan bersama dengan upaya mempertahankan aktivitas ekonomi.
Dengan kondisi inflasi yang masih berada dalam sasaran dan BI-Rate yang saat ini berada di 5,75 persen, tantangan berikutnya adalah bagaimana kebijakan moneter dapat terus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi.
Jadi, pertanyaan tentang efektivitas suku bunga tidak seharusnya hanya dijawab dari angka inflasi. Dampaknya terhadap konsumsi masyarakat, kredit, investasi, dan aktivitas usaha juga perlu diperhatikan. Mengendalikan inflasi memang penting, tetapi menjaga agar masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan perekonomian tetap bergerak juga tidak kalah penting.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan moneter bukan hanya tentang seberapa rendah inflasi dapat ditekan, tetapi juga tentang bagaimana stabilitas harga dapat berjalan berdampingan dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.
