Meriah dan Penuh Makna: Tradisi Maulid Nabi di Rembang, Jawa Tengah

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rosikhotul ma'rifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang secara umum lebih dikenal dengan istilah Maulid Nabi merupakan salah satu dari perayaan dalam agama Islam. Peringatan maulid Nabi hampir sama dengan popularitasnya dua hari raya Islam yang sudah jelas mempunyai ketetuan hukum agama, yakni Id al-Fitri dan Id al-Adha.(bu isnani lebaran maulid hal 1) Di Indonesia, setiap daerah memiliki cara unik untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah. Salah satu daerah yang memiliki kekayaan tradisi dalam menyambut Maulid Nabi adalah Rembang, Jawa Tengah. Di daerah ini, perayaan Maulid tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap Rasulullah, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan dan pelestarian budaya lokal.
Asal Mula
Dilihat dari tinjauan sejarah asal mula diadakan Maulid Nabi memiliki 3 versi. Pertama, perayaan maulid yang diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidah). Kedua, perayaan maulid dikalangan Ahlus Sunnah pertama kali diadakan oleh gubernur Irbil di wilayah Irak. Ketiga, perayaan maulid yang diadakan oleh penguasa Dinasti Ayyub.(Syarifuddin, 2019)
Tradisi Maulid
Di Daerah Rembang, khususnya di lingkungan pesantren, Maulid Nabi biasa diperingati dengan pembacaan kitab Simtudduror, maulud Ad Diba’i, dan maulud Al Barzanji yaitu sebuah kitab-kitab maulid yang berisi pujian dan kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kitab tersebut dibacakan dengan irama yang khas dan penuh penghayatan. Pembacaan kitab tersebut biasanya dimulai pada tanggal 1 sampai tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Salah satu pesantren yang rutin mengadakan acara ini adalah Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, yang diasuh oleh keluarga besar almarhum KH. Maimoen Zubair. Acara pembacaan kitab maulud biasanya diiringi dengan lantunan sholawat dan marhaban yang menggugah semangat cinta kepada Nabi. Ribuan santri berkumpul, mengenakan pakaian putih-putih yang menciptakan suasana religius yang khusyuk dan syahdu.
Selain di lingkungan pesantren, masyarakat umum di berbagai desa di Rembang juga memiliki tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi. Salah satunya adalah tradisi "Sedekah Maulid" yang dilaksanakan pada puncak maulid yaitu tanggal 12 Rabi’ul awwal, di mana warga berbondong-bondong membawa dua nasi berkat ke musola atau masjid terdekat. Kemudian para warga mengumpulkan nasi berkat lalu membaca maulud Ad Diba’I atau maulud Al Barzanj. setelah itu, masyarakat bertukar nasi berkat yang dibawa untuk dibawa pulang. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, mempererat tali silaturrahmi antar sesame tetangga, serta meneladani sifat Rosulullah yang gemar berbagi.
Tak jarang, perayaan ini juga dilengkapi dengan kirab budaya. Beberapa desa mengadakan arak-arakan tumpeng raksasa dan hasil bumi, dan kesenian tradisional seperti barongan. Kirab ini berkeliling desa dan diakhiri dengan doa bersama. Ada juga yang merayakan maulid dengan bentuk akulturasi misalnya dengan adanya pementasan ketoprak, yaitu dengan mengakulturasikan musik pengiringnya yaitu menggunakan terbang, tamborin dan lain-lain.(Bagus Wahyu Setiyawan, 2019). Dalam konsep akulturasi membawa umat islam ke Konsep beragama yang ideal yaitu nilai agama yang sudah berhasil menjiwai nilai-nilai budaya yang ada. Jadi agama dan budaya tidak bisa dipisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan yang mempunyai makna yang berbeda.(Ahmad Suriyadi,2019)
Perlu di lestarikan
Menariknya, generasi muda di Rembang turut aktif dalam melestarikan tradisi Maulid. Berbagai komunitas pemuda masjid, organisasi santri, hingga karang taruna, terlibat dalam persiapan acara. Para pemuda lumayan banyak yang ikut serta dalam meramaikan pembacaan maulud Ad Diba’I di mushola atau masjid-masjid selama tanggal 1 sampai 12 Rabi’ul awwal. Dan para pemuda juga ikut andil dalam persiapan acara seperti kirab dan lain-lain. Dengan partisipasinya para pemuda maka akan menjadikan keberlanjutanya tradisi perayaan Maulid Nabi. Bagi masyarakat Rembang, Maulid Nabi bukan sekadar ritual tahunan atau acara seremonial. Maulid menjadi momentum introspeksi diri, mengingat kembali keteladanan Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari: kejujuran, kasih sayang, kesederhanaan, dan perjuangan menegakkan kebaikan. Tradisi Maulid di Rembang sering menjadi wadah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kolektif seperti bersih desa, pengajian, kirab, dan sebagainya. Ini meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap komunitas. Tradisi Maulid Nabi merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW. Pelestarian tradisi ini mencerminkan semangat religius dan penghormatan terhadap ajaran agama yang menjadi dasar kehidupan berbangsa. Itu lah mengapa penting bagi kita sebagai generasi penerus bangsa harus tetap melestarikan Perayaan Maulid Nabi. Sebab Perayaan maulid mengandung nilai spiritual dan sosial, yang artinya selain melakukan hubungan dengan Allah kita juga melakukan hubungan antar sesama manusia.
Simpulan
Tradisi Maulid Nabi di Rembang mencerminkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakatnya. Dengan perpaduan antara ajaran Islam dan budaya lokal, perayaan ini menjadi warisan yang tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dalam suasana yang meriah namun penuh makna, Maulid di Rembang adalah contoh nyata bagaimana cinta kepada Nabi dapat diekspresikan secara indah, khusyuk, dan membumi.
Setiyaningsih, S. I., & Asekhatul, L. (2022). Lebaran Maulid: Tinjauan Bentuk dan Nuansa Pelaksanaan Tradisi Masyarakat Demak. Semarang: Kemenag Ri
Setyawan, Bagus Wahyu. "Akulturasi Budaya Islam-Jawa dalam Pementasan Kesenian Ketoprak." Dance and Theatre Review 2.1 (2019).
Suriadi, Ahmad. "Akulturasi budaya dalam tradisi maulid Nabi Muhammad di Nusantara." Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora 17.1 (2019): 167-190.
Syarifuddin, Syarifuddin. "Peran Budaya Maulid Dalam Merekatkan Hubungan Sosial Masyarakat Barabai Utara (Studi Deskriptif Analisis Terhadap Pengembangan Nilai-Nilai Budaya Pendidikan Ips)." Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 4.1 (2019): 125-140.
